x

BAHAGIA SETIAP WAKTU

Atītaṁ Nānvāgameyya, nappatikaṅkhe anāgataṁ.
Yadatītampahīnantaṁ, appataṭca anāgataṁ.
“Tak sepatutnya mengenang sesuatu yang telah berlalu, tak sepatutnya berharap pada sesuatu yang akan datang. Sesuatu yang telah berlalu adalah hal yang sudah lampau, dan sesuatu yang akan datang adalah hal yang belum tiba.”

(Bhaddekaratta Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Tak terasa tahun 2016 telah kita lewati bersama dengan penuh perjuangan. Berbagai fenomena telah kita lewati, baik fenomena yang membahagiakan maupun tidak membahagiakan, menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Kini kita memasuki awal tahun baru 2017. Mari kita jalani dengan terus berpedoman pada Dhamma Ajaran Sang Buddha agar kita senantiasa hidup penuh kedamaian dan kebahagiaan.

Kalau kita mau menilik ke belakang, seringkali kita kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya kebahagiaan itu sudah ada di dalam diri kita masing-masing. Karena apa? Karena kita cenderung selalu memikirkan dan mengenang sesuatu yang telah berlalu dan berharap pada sesuatu yang akan datang. Padahal sesuatu yang telah berlalu adalah hal yang sudah lampau, sudah lewat, tak akan kembali lagi dan sesuatu yang akan datang adalah hal yang belum tiba, belum pasti terjadi, sehingga dari kecenderungan itulah menimbulkan kegelisahan, kekecewaan, keputusasaan, depresi yang pada akhirnya membuat hidup kita menjadi tidak damai dan bahagia secara batiniah maupun jasmaniah.

Menurut Dhamma, bagaimana dan dengan cara apa agar kita senantiasa hidup damai dan bahagia, di manapun, kapanpun, dan bersama siapapun? Berkaitan dengan hal ini Sang Buddha jelaskan di dalam Bhaddekaratta Sutta, Uparipannasa, dari Majjhima Nikāya. Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, taman milik Anathapindika, Savatthi. Di sana Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu:
"Para bhikkhu, janganlah seseorang mengenang kembali masa lalu atau mengharap untuk masa mendatang; masa lampau telah berlalu, masa mendatang belum dicapai. Sebaiknya ia melihat dengan bijaksana setiap Dhamma pada saat sekarang ini: Itu bagaimana dan memastikannya dengan kuat dan tak tergoyahkan. Kerjakanlah tugas itu hari ini, siapa tahu besok kita mati. Tak ada tawar menawar dengan kematian yang dapat menahan dan menolak kedatangan-nya. Tetapi seorang yang merenungkan hal itu dengan rajin, sungguh-sungguh setiap hari dan malam; Ia sesungguhnya yang disebut Bhaddekaratta, yang digambarkan sebagai petapa yang damai."

Bagaimana seseorang dikatakan me-ngenang kembali masa lalu itu? 
Berpikir saya mempun¬yai jasmani (rūpa) demikian di masa lalu, dia membiarkan dirinya untuk menik¬mati hal itu. Berpikir saya mempunyai perasaan (vedāna) demikian di masa lalu, dia membiarkan dirinya untuk menikmati hal itu. Berpikir saya mem¬punyai pencerapan (sañña) di masa lalu, dia membiarkan dirinya untuk menik¬mati hal itu. Berpikir saya mempunyai bentuk-bentuk pikiran (saṅkhāra) demikian di masa lalu, dia membiarkan dirinya untuk menikmati hal itu. Berpikir saya mempunyai kesadaran (viññāna) demikian di masa lalu, dia membiarkan dirinya untuk menikmati hal itu. Demikianlah, bagaimana dia me-ngenang kembali masa lalu itu. Berpikir saya mempunyai jasmani demikian di masa lalu, dia tidak membiar¬kan dirinya untuk menikmati hal itu, perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran. Berpikir saya mempunyai kesadaran demikian di masa lalu, dia tidak mem-biarkan dirinya untuk menikmati hal itu. 

Bagaimana seseorang mengharapkan  masa yang akan datang?
Berpikir saya mungkin mempunyai jasmani demikian di masa mendatang, dia membiarkan dirinya untuk menikmati hal itu. Berpikir saya mungkin mempunyai perasaan demikian di masa mendatang, dia membiarkan dirinya untuk menikmati hal itu. Berpikir saya mungkin mempunyai pencerapan demikian di masa menda¬tang, dia membiarkan dirinya untuk menikmati hal itu. Berpikir saya mung¬kin mempunyai bentuk-bentuk pikiran demikian di masa mendatang, dia membiar¬kan dirinya untuk menikmati hal itu. Berpikir saya bisa mempunyai kesadaran demikian di masa mendatang, dia membiarkan dirinya untuk menikmati hal itu. Demikianlah, bagai-mana dia mengharapkan untuk masa yang akan datang. Berpikir saya mungkin mempunyai bentuk demikian di masa mendatang, dia tidak membiarkan dirinya untuk menikmati hal itu perasaan, pen-cerapan, bentuk-bentuk pikiran. Berpikir saya mungkin mempunyai kesadaran demikian di masa mendatang, dia tidak membiarkan dirinya untuk menikmati hal itu. Demikianlah, bagaimana dia tidak membangun cita-citanya untuk masa mendatang.

Bagaimana seseorang dikalahkan oleh Dhamma-Dhamma pada saat sekarang?
Orang biasa yang tidak terpelajar, tidak mempunyai rasa hormat terha¬dap para Ariya, tidak berpengetahuan ariyadhamma dan tidak disiplin; tidak mempunyai rasa hormat terhadap para orang baik (sappurisa), tidak berpengeta¬huan dan berdisiplin dengan Dhamma mereka, melihat jasmani sebagai 'aku' (atta), 'aku' memiliki jasmani,  jasmani di dalam 'aku', atau 'aku' di dalam jasmani. Ia melihat perasaan sebagai 'aku', 'aku' memiliki perasaan,  perasaan di dalam 'aku', atau 'aku' di dalam perasaan. Ia melihat pencerapan sebagai 'aku', 'aku' memiliki pencerapan, pencerapan di dalam 'aku', atau 'aku' di dalam pencerapan. Ia melihat bentuk-bentuk pikiran sebagai 'aku', 'aku' memi¬liki bentuk-bentuk pikiran, bentuk-bentuk pikiran di dalam 'aku', atau 'aku' di dalam bentuk-bentuk pikiran. Ia melihat kesadaran sebagai 'aku', 'aku' memiliki kesadaran, kesadaran di dalam 'aku', atau 'aku' di dalam kesadaran. 

Bagaimana seseorang tidak dikalahkan oleh Dhamma-Dhamma pada saat sekarang?
Seorang Ariya yang terpelajar, mempunyai rasa hormat terhadap para Ariya,  berpengetahuan ariyadhamma dan  disiplin; mempunyai rasa hormat terha¬dap para orang baik (sappurisa),  ber-pengetahuan dan disiplin dengan dhamma mereka, tidak melihat jasmani sebagai 'aku' (atta), 'aku' memiliki jasmani,  jasmani di dalam 'aku', atau 'aku' di dalam jasmani. Ia tidak melihat perasaan sebagai 'aku', 'aku' memiliki perasaan,  perasaan di dalam 'aku', atau 'aku' di dalam perasaan. Ia tidak melihat pencerapan sebagai 'aku', 'aku' memiliki pencerapan, pencerapan di dalam 'aku', atau 'aku' di  dalam pencerapan. Ia tidak melihat bentuk-bentuk pikiran sebagai 'aku', 'aku' memiliki bentuk-bentuk pikiran, bentuk-bentuk pikiran di dalam 'aku', atau 'aku' di dalam bentuk-bentuk pikiran. Ia tidak melihat kesadaran sebagai 'aku', 'aku' memi¬liki kesadaran, kesadaran di dalam 'aku', atau 'aku' di dalam kesadaran. Demikian, bagaimana ia tidak dikalahkan oleh Dhamma-Dhamma pada saat sekarang.

Karena sebab itulah janganlah kita mengenang kembali masa lalu atau mengharap untuk masa mendatang; masa lampau telah berlalu, masa mendatang belum dicapai. Sebaiknya kita melihat dengan bijaksana setiap Dhamma pada saat sekarang ini: Itu bagaimana dan me-mastikannya dengan kuat dan tak tergoyahkan. Kerjakanlah tugas itu hari ini, siapa tahu besok kematian tiba. Tak ada tawar-menawar dengan kematian yang dapat menahan dan menolak kedatangan-nya. Tetapi seorang yang merenungkan hal itu dengan rajin, sunguh-sungguh setiap hari dan malam; Ia sesungguhnya disebut Bhaddekaratta, yang digambarkan sebagai petapa yang tenang. Inilah yang dikatakan Sang Bhagava. Para bhikkhu merasa puas dan gembira dengan apa yang telah dikatakan oleh Sang Bhagava.

Sebagai yang terakhir dan sebagai penutup saya akan mengakhiri pembabaran Dhammadesana ini dengan mengucapkan “Selamat Tahun Baru Imlek” khususnya bagi orang Tionghoa yang telah me-rayakannya dengan penuh kasih dan penuh sukacita. Semoga semuanya senantiasa berbahagia. 

Semoga semua makhluk berbahagia.

Refrensi:
-Bhaddekaratta Sutta, Uparipannasa, Majjhima Nikāya.

Dibaca : 2521 kali