x

PENCARIAN MULIA

‘‘Sukhaṁ vata tassa na hoti kiñci, saṅkhātadhammassa bahussutassa 
Sakiñcanaṁ passa vihaññamānaṁ, jano janasmiṁ paṭibandharūpo’ti  
Betapa berbahagianya bagi orang yang tak punya apa-apa, yang telah menguasai Dhamma, yang terpelajar. Lihat bagaimana mereka menderita, mereka yang punya sesuatu, 
orang-orang yang terikat tubuhnya dengan orang lain.

(Udana II. 5, Upasaka Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam kehidupan ini banyak orang meributkan hal-hal keduniawian. Apakah itu berupa berebut kekuasaan, berebut kepercayaan, berebut harta, dan lain-lain. Kalau kita lihat secara kacamata umum, memang hal tersebut sangat penting dan sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi apakah kita harus sampai terpecah belah dengan keluarga, saudara, dan lain sebagainya? Tentu tidak perlu demikian, karena itu bukanlah yang diharapkan juga oleh setiap orang. Kalau kita memahami bahwa kerukunan dan kesatuan adalah hal yang paling berharga dalam hidup, pasti kita tidak akan mengkondisikan hal-hal yang membawa pada perselisihan dan berusaha menahan diri.

Sesuatu yang berbeda apabila dilihat dari kacamata Dhamma. Dhamma memberikan kita pandangan yang bertolak belakang dengan apa yang kebanyakan orang inginkan. Tetapi di balik sesuatu yang terasa bertolak belakang demikian, sesungguhnya adalah menunjukkan bahwa sifat sejatinya dari apa yang ada. Memang hal tersebut akan terasa tidak menyenangkan menurut pandangan kita, padahal hal itu adalah justru kebahagiaan. Mengapa seseorang bisa demikian memandangnya? Karena adanya kegelapan batin. Seumpama kita sedang berada di tempat yang gelap, maka kita tidak dapat melihat bentuk. Demikian pula ketika batin masih diliputi kegelan batin, itu tidak bisa juga melihat kebenaran. Tetapi apabila ada cahaya di ruang yang gelap tersebut, pastilah akan terlihat berbagai macam benda atau bentuk yang sesungguhnya berada di depan mata. Kebenaran pun demikian, sesungguhnya berada di depan mata, ketika kegelapan batin menjadi terang, maka terlihatlah kebenaran sejati yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya.

DUA JENIS PENCARIAN
“Para bhikkhu, ada dua jenis pencarian ini: pencarian mulia dan pencarian tidak mulia.

Dan apakah pencarian tidak mulia?
Di sini seorang yang tunduk pada kelahiran mencari apa yang juga tunduk pada kelahiran; dengan dirinya tunduk pada penuaan, ia mencari apa yang juga tunduk pada penuaan; dengan dirinya tunduk pada penyakit, ia mencari apa yang juga tunduk pada penyakit; dengan dirinya tunduk pada kematian, ia mencari apa yang juga tunduk pada kematian; dengan dirinya tunduk pada dukacita, ia mencari apa yang juga tunduk pada dukacita; dengan dirinya tunduk pada kekotoran, ia mencari apa yang juga tunduk pada kekotoran. “Dan apakah yang dikatakan sebagai tunduk pada kelahiran? Istri dan anak-anak tunduk pada kelahiran, budak-budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, sapi, kuda-kuda jantan dan betina, emas dan perak adalah tunduk pada kelahiran. Perolehan-perolehan ini tunduk pada kelahiran; dan seseorang yang terikat pada hal-hal ini, tergila-gila pada hal-hal ini, dan menyerah total pada hal-hal ini, dengan dirinya tunduk pada kelahiran, mencari apa yang juga tunduk pada kelahiran. “Dan apakah yang dikatakan sebagai tunduk pada penuaan? Istri dan anak-anak tunduk pada penuaan, budak-budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, sapi, kuda-kuda jantan dan betina, emas dan perak adalah tunduk pada penuaan. Perolehan-perolehan ini tunduk pada penuaan; dan seseorang yang terikat pada hal-hal ini, tergila-gila pada hal-hal ini, dan menyerah total pada hal-hal ini, dengan dirinya tunduk pada penuaan, mencari apa yang juga tunduk pada penuaan. “Dan apakah yang dikatakan sebagai tunduk pada penyakit? Istri dan anak-anak tunduk pada penyakit, budak-budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, sapi, kuda-kuda jantan dan betina adalah tunduk pada penyakit. Perolehan-perolehan ini tunduk pada penyakit; dan seseorang yang terikat pada hal-hal ini, tergila-gila pada hal ini, dan menyerah total pada hal-hal ini, dengan dirinya tunduk pada penyakit, mencari apa yang juga tunduk pada penyakit. “Dan apakah yang dikatakan sebagai tunduk pada kematian? Istri dan anak-anak tunduk pada kematian, budak-budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, sapi, kuda-kuda jantan dan betina adalah tunduk pada kematian. Perolehan-perolehan ini tunduk pada kematian; dan seseorang yang terikat pada hal-hal ini, tergila-gila pada hal-hal ini, dan menyerah total pada hal-hal ini, dengan dirinya tunduk pada kematian, mencari apa yang juga tunduk pada kematian. “Dan apakah yang dikatakan sebagai tunduk pada dukacita? Istri dan anak-anak tunduk pada dukacita, budak-budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, sapi, kuda-kuda jantan dan betina adalah tunduk pada dukacita. Perolehan-perolehan ini tunduk pada dukacita; dan seseorang yang terikat pada hal-hal ini, tergila-gila pada hal-hal ini, dan menyerah total pada hal-hal ini, dengan dirinya tunduk pada dukacita, mencari apa yang juga tunduk pada dukacita. “Dan apakah yang dikatakan sebagai tunduk pada kekotoran? Istri dan anak-anak tunduk pada kekotoran, budak-budak laki-laki dan perempuan, kambing dan domba, unggas dan babi, gajah, sapi, kuda-kuda jantan dan betina, emas dan perak adalah tunduk pada kekotoran. Perolehan-perolehan ini tunduk pada kekotoran; dan seseorang yang terikat pada hal-hal ini, tergila-gila pada hal-hal ini, dan menyerah total pada hal-hal ini, dengan dirinya tunduk pada kekotoran, mencari apa yang juga tunduk pada kekotoran. Ini adalah pencarian tidak mulia.

“Dan apakah pencarian mulia?
Di sini seseorang yang tunduk pada kelahiran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kelahiran, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak terlahirkan, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada penuaan, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada penuaan, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penuaan, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada penyakit, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada penyakit, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penyakit, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada kematian, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kematian, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kematian, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada dukacita, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada dukacita, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa dukacita, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada kekotoran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kekotoran, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kekotoran, Nibbāna. Ini adalah pencarian mulia.

Dengan mengetahui dua pencarian ini, manakah yang akan kita cari? Pilihan ada pada diri kita masing-masing. Usaha yang dilakukan menentukan apa yang akan dicapai. Maka, berusahalah dengan gigih dalam berbagai hal yang menjadi faktor-faktor pengkondisi tercapainya tujuan. Teruslah bersemangat dalam hal-hal yang berguna, sesuai dengan Dhamma. Maka, tidak ada penyesalan di kemudian hari, baik kehidupan ini maupun akan datang. Semoga terus maju dalam praktik Dhamma.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Referensi;
Kitab suci  Udana (Pali) edisi Chaṭṭhasaṅghāyana 
Kitab suci Udana (terjemahan) edisi Vihara Bodhivaṁsa, Klaten 
Kitab suci Majjhima Nikāya edisi Dhammacitta Press 

Dibaca : 479 kali