x

Māgha Pūjā 2560/2017


    DOWNLOAD AUDIO

Māgha merupakan salah satu nama bulan dalam penanggalan di India kuno. Biasanya bulan Māgha ini jatuh antara bulan Februari dan Maret. Māgha pūjā berarti pūjā/ peringatan yang berhubungan dengan bulan Māgha. Māgha pūjā yang kita peringati ini terjadi sembilan bulan setelah Pangeran Siddhartha mencapai penerangan sempurna di bulan Waisak.

Māgha pūjā ini merupakan hal yang sangat istimewa, karena terjadi hanya satu kali dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama. Māgha pūjā ini terjadi di Veïuvana Ārāma dekat hutan Kalandakanivāpa, saat purnama, senja hari di bulan Māgha. Peristiwa ini dikenal dengan istilah cāturaṅghasannipāta yakni: berkumpulnya 1250 orang bhikkhu, yang memiliki empat ciri:
1.Pada kesempatan itu, hadir 1250 orang bhikkhu.
2.Mereka semuanya telah mencapai tingkat arahatta (khῑṇāsava) yang ditahbiskan oleh Sang Buddha dengan cara ehibhikkhu upasampadā.
3.Mereka hadir tanpa diundang, hadir di tempat Sang Bhagavā.
4.Sang Buddha pada saat itu membabarkan Ovādapāṭimokkha.

Berikut ini tiga syair dalam Ovādapāṭimokkha:

Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhā
Nibbānaṁ paramaṁ vadanti buddhā
Na hi pabbajito parūpaghātῑ
Samaṇo hoti paraṁ viheṭhayanto

Sabbapāpassa akaraóaṁ
Kusalassūpasampadā
Sacittapariyodapanaṁ
Etam buddhāna sāsanaṁ

Anūpavādo anūpaghāto
Pāṭimokkhe ca saṁvaro
Mattaññutā ca bhattasmiṁ
Pantañca sayanāsanaṁ
Adhicitte ca āyogo
Etaṁ buddhāna sāsananti
 
Yang artinya:
Kesabaran adalah cara melatih batin terbaik
Para Buddha bersabda: Nibbāna adalah yang tertinggi.
Seseorang yang melukai orang lain, menyakiti orang lain,
Bukanlah seorang petapa, bukan seorang samana.
Tak berbuat segala keburukan,
Mengembangkan kebajikan,
Menyucikan pikiran sendiri,
Ini adalah ajaran para Buddha.

Tak menghujat, tak menyakiti,
Terkendali dalam tata susila,
Tahu ukuran dalam hal makan,
Hidup di tempat yang tenang,
Berusaha mengembangkan pikiran luhur,
Ini adalah ajaran para Buddha. 

Ovādapāṭimokkha yang dibabarkan Sang Buddha merupakan nasehat tentang cara  hidup luhur bagi para samana/para  bhikkhu. Hidup luhur adalah hidup yang bebas dari segala noda batin yakni; kāmāsava (noda batin berupa nafsu indria), bhavāsava (noda batin berupa kesenangan kemenjadian), avijjāsava (noda batin berupa ketidaktahuan). Untuk membebaskan diri dari segala noda batin adalah dengan pengembangan sῑla, samādhi, dan paññā. 

Sῑla, samādhi, dan paññā akan berkembang dengan maju jika dilandasi dengan praktik kesabaran. Tanpa adanya kesabaran, sῑla, samādhi, dan paññā sulit untuk dikembangkan. Oleh karena itu, Guru Agung kita meletakkan kesabaran, dalam syair paling awal. Mengingat bahwa kunci dasar untuk melatih diri, menahan diri serta mengembangkan diri adalah dengan praktik kesabaran. 

Bagi kita umat Buddha, setiap kali kita memperingati Māgha Pūjā, kita seolah-olah diingatkan kembali tentang kesabaran, karena mengingat betapa pentingnya manfaat memiliki kesabaran. 

Pada saat sulit, saat ada masalah, jalan untuk menghadapinya adalah dengan mempraktikkan sikap hidup yang sabar. Orang yang sabar adalah orang yang tahan terhadap penderitaan yang dialami.
 
Kesabaran sulit dimiliki, jika di dalam diri seseorang masih ada nafsu keinginan. Kesabaran muncul dengan mengembangkan kesadaran dan kebijaksanaan. Sabar berarti juga berhati-hati, tidak gegabah, dan juga bisa mengendalikan diri.

Semoga kita semua dapat mempraktikkan kesabaran dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita selalu hidup bahagia.

Pesan terakhir Sang Buddha:

Handadāni bhikkhave amantayāmi vo,
Vaya  dhammā saṅkhārā, 
Appamādena sampādethāti.

”Kini, oh para bhikkhu, Kuberitahukan kepadamu bahwa; segala sesuatu yang muncul dari perpaduan faktor pembentuk sewajarnya mengalami kehancuran. Sempurnakanlah tugas kalian tanpa lengah.”

Selamat merayakan Māgha Pūjā 2560 BE/2017

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Dibaca : 2076 kali