x

K E B A J I K A N

Katañca sukataṁ seyyo
Perbuatan baik lebih baik dilakukan atau lebih baik berbuat baik

    DOWNLOAD AUDIO

Ada hal yang disebut sebagai sarana dan hal yang disebut sebagai tujuan. Apa yang dimaksud dengan sarana dan tujuan? Sarana adalah alat yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, sedangkan tujuan adalah sasaran yang ingin dicapai. Contoh: Setiap Minggu, umat Buddha pergi ke vihāra dengan kendaraan. Vihāra adalah tujuan dan kendaraan sebagai sarananya. Contoh lain: Ada orang ingin sehat (sebagai tujuan), untuk menjadi sehat dia harus punya uang (sebagai sarana) agar bisa berobat ke dokter, beli obat atau vitamin untuk diminum supaya sehat. Sasaran agama Buddha mencakup 2 hal yaitu pencapaian kebahagiaan duniawi dan Nibbāna. Sering kita mendengar orang mengatakan bahwa semua agama itu sama saja, pernyataan ini tentu kurang tepat karena masing-masing agama punya konsepnya sendiri tentu tidak bisa disamakan secara serampangan (sepintas lalu tanpa diteliti dahulu). Contoh: Mengenai baik, buruk dan benar. Ada kepercayaan berdasarkan pada apa yang ditentukan oleh makhluk X, apa yang  baik dan benar menurut X, wajib dilaksanakan, dan yang buruk harus dihindari. Kalau tidak mematuhi maka ada hukuman/ancamannya dan apa yang telah ditentukan itu mutlak tidak boleh dipertanyakan. Jadi di sini, penekanannya pada perintah yang harus dipatuhi. Agama Buddha punya prinsip yang berbeda yaitu menekankan pada usaha pemahaman Dhamma, bukan perintah/kepatuhan agar kita bisa membedakan mana yang baik, mana yang buruk dan yang benar secara bijaksana. Ada tiga asas yang dapat digunakan sebagai dasar untuk membantu kita memahami apa yang disebut baik, buruk dan benar yaitu 1. Asas Sarana, 2. Asas Hasil/dampak, 3. Asas Universal:

1.Asas Sarana
Suatu perbuatan apabila dilakukan, membawa kita mendekat pada tujuan Nibbāna, maka itu adalah baik. Perbuatan yang sesuai Dhamma akan membawa pada penenangan, pelepasan, penghentian, penyadaran, pengetahuan dan pembebasan (Nibbāna). Perbuatan baik ini merupakan Asas Sarana untuk mengurangi, mengikis kotoran batin. Bila kotoran batin menjadi berkurang ini adalah baik. Sebaliknya  suatu perbuatan apabila dilakukan, membawa kita menjauh dari tujuan Nibbāna, maka itu adalah buruk. Perbuatan buruk menyebabkan bertambahnya keserakahan, kebencian dan kebodohan batin. Dengan demikian kotoran batin menjadi semakin bertambah, ini adalah buruk.

2.Asas Hasil/Dampak 
Untuk membedakan dan memahami suatu perbuatan baik, buruk atas Asas Hasil/Dampak itu tergantung hasil atau akibat serta dampak yang ditimbulkan oleh perbuatan itu. Apabila perbuatan itu dilakukan menimbulkan penyesalan, ratap tangis, air mata, atau dukkha ini adalah perbuatan buruk. Sebaliknya, apabila suatu perbuatan itu dilakukan tidak menimbulkan penyesalan tetapi mengakibatkan kegembiraan, kebahagiaan itu adalah perbuatan baik.

3.Asas Univesal (penerimaan umum)
Semua orang mempunyai keinginan/dambaan yang sama yaitu keinginan untuk menjadi bahagia dan bebas dari penderitaan.  Ajaran agama Buddha berdasarkan hukum yang berlaku secara universal dan penuh dengan cinta kasih dan welas asih itu, mengajarkan untuk tidak melakukan sesuatu terhadap makhluk lain, yang kita sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu. Contohnya di dalam pelaksanaan sῑla, mengapa kita dianjurkan menghindari melakukan: pembunuhan, pencurian, berbohong, dan lain-lain terhadap makhluk lain? karena kita tidak ingin dibunuh, milik kita dicuri, dibohongi, dan lain-lain yang tidak sesuai  kita, demikian pula makhluk lain. Semua ingin dikasihi, semua ingin dicintai. Jadi penilaian kita terhadap apa itu perbuatan baik/buruk dan benar berdasarkan ketiga asas tersebut di atas yang saling terkait, dan dapat disimpulkan bahwa suatu perbuatan mempunyai kecenderungan - menjauh dari Nibbāna menyebabkan penderitaan yang merugikan, didasari niat negatif. Itu adalah tidak baik dan tidak benar. Sebaliknya apabila suatu perbuatan mempunyai kecenderungan mendekatkan ke Nibbāna tidak menyebabkan penderitaan, disenangi apabila dilakukan pada pihak lain didasari niat positif. Itu adalah baik dan benar.Setelah memahami asas dari perbuatan baik/buruk dan benar, dengan pengertian ini, semoga dapat mendorong kita untuk sadar akan pentingnya melakukan kebajikan agar kita menjadi orang  baik, mengapa? Karena tidak ada orang baik yang tidak berbuat baik. Kemudian perbuatan buruk harus dihindari, dan kebenaran Dhamma harus dipahami, agar kita bisa berbuat baik dengan pengertian benar dan berkualitas. Kita dianjurkan, lebih baik berbuat baik, mengapa? Karena agama Buddha mengajarkan keunggulan dari kebajikan, bisa kita ketahui melalui perbandingan, kejahatan vs kebajikan tersebut di bawah ini:
Suatu kejahatan telah dilakukan menimbulkan penyesalan, ber-hentitidak ada nilai plus. 

Suatu kebajikan telah dilakukanbebas dari penyesalan, berkembangtimbul kegembiraanketenanganke-bahagiaankonsentrasimuncul pengetahuan melihat segala sesuatu sebagaimana adanyakebajikan memiliki nilai plus.

Inilah yang menjadi dasar & alasan mengapa lebih baik berbuat baik, dengan kebajikan yang telah dilakukan semoga kita memperoleh kebahagiaan di dunia ini, di dunia mendatang hingga akhirnya merealisasi kebahagiaan tertinggi Nibbāna.

Sumber:
SN. Dhammacitta Press. BK 1.Devatāsaṁyutta (125) (8) Tāyana. 273

Dasar pandangan Agama Buddha (Ven. S. Dhammika). Terbitan Yayasan Dammadipa Arama Cab. Surabaya

Dibaca : 2310 kali