x

Dhamma Dan Kesehatan Jiwa

Phandanaṁ capalaṁ cittaṁ, durakkhaṁ dunnivārayaṁ
Ujuṁ karoti medhāvῑ, usukāro va tejanaṁ
Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap, sulit dijaga dan sulit dikuasai;
 namun orang bijaksana akan meluruskannya, 
bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panahnya.

(Dhammapada 33)

    DOWNLOAD AUDIO

Tidaklah jarang kita menjumpai orang yang berperilaku aneh, berpakaian aneh dan berpenghidupan yang aneh di jalan-jalan besar perkotaan. Gangguan jiwa, begitu biasanya orang-orang menyebut individu dengan keadaan demikian. Walaupun banyak di antara kita yang iba dan prihatin dengan penderita gangguan jiwa, namun keterbatasan pengetahuan dan pengalaman menjadi penghalang dalam membantu mereka secara total. 

Dalam kehidupan sehari-hari kita cenderung menghindar apabila bertemu dengan penderita gangguan kejiwaan, namun merupakan pengetahuan penting yang perlu kita pahami guna mengambil langkah tepat ketika menemui masalah demikian dan yang terpenting ialah dengan memahami sebab-musabab masalah kejiwaan diharapkan menjadi ilmu dalam menjaga kesehatan jiwa diri sendiri dan orang di sekitar kita.

Pikiran adalah pelopor dari segala perihal, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk, bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran keruh, maka derita akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya (Dhammapada 1). Pikiran merupakan sumber dari segala perihal. Perihal yang dimaksud adalah segala keadaan batin dan tentu saja apabila seseorang mengalami gangguan kejiwaan maka sumber penyebab gangguan ini ialah pikiran itu sendiri. 

Pikiran manusia menjadi tidak terkendali atau bahkan menjadi gila (gangguan kejiwaan berat) dapat dikarenakan adanya pengalaman-pengalaman buruk (psiko-edukatif) seperti disiksa, dikucilkan, dikambinghitamkan atau diperlakukan tidak adil. Selain karena faktor psiko-edukatif (pengalaman-pengalaman buruk masa lampau) dapat pula disebabkan oleh kondisi-kondisi yang terdapat di lingkungan hidup (sosio-kultural) seperti sikap tetangga, berita media cetak, buku bacaan, game, bencana alam dan sebagainya. Pikiran manusia juga dapat menjadi rusak diakibatkan oleh kondisi fisik (organo-biologik) seperti keracunan, obat-obatan, kelainan genetik dan berbagai penyakit atau proses degeneratif yang menyerang otak.

Sesungguhnya pikiran manusia ialah sangat rentan karena pada dasarnya pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap, sulit dijaga dan sulit dikuasai. Āsava merupakan sumber masalah yang menyebabkan pikiran itu sendiri menjadi rentan dan mudah goyah. Āsava berarti bocor, āsava merupakan keadaan alamiah dari pikiran seseorang yang belum mencapai Arahat (khīṇāsava/tanpa āsava). Maksud keadaan bocor ini ialah pikiran makhluk hidup yang terus mengalir tak terkendali. Pikiran kita selalu berpikir, berceloteh, berimajinasi, mengembara tanpa pernah berhenti bahkan pemikiran-pemikiran yang muncul ialah tanpa kendali. Āsava sangat tepat diterjemahkan sebagai arus mental yang tidak terkontrol dan arus mental inilah yang meracuni pikiran. Tingkat dampak āsava seseorang berbeda-beda dan dipengaruhi oleh kebiasaan batin masa lampau dan masa kini. Āsava yang kuat dan buruk menjadi sebab-musabab gangguan jiwa hingga kegilaan (gangguan jiwa berat).

Memahami keadaan alamiah pikiran seorang puthujjana (yang belum mencapai kesucian) ialah masih sangat dipengaruhi oleh āsava, maka kita perlu mengambil langkah bijak untuk mengatasi āsava. Dhamma merupakan satu-satunya obat mujarab dalam mengurangi āsava hingga tidak hanya berkurang, namun bahkan lenyap. Āsava menjadi melemah dan lebih terkendali ketika seseorang mempraktikkan Dhamma. Melalui belajar dan mendengarkan Dhamma maka kebijaksanaan awal menjadi terbentuk. Melalui Sīla dan praktik Dāna maka pikiran membentuk pola baru yang positif yang berdampak pada berkurangnya kemarahan, keserakahan dan ego. Dengan Bhāvanā (meditasi) maka pikiran menjadi kokoh dan arus mental yang tidak terkontrol menjadi berkurang.

Dengan mempelajari dan mempraktikkan Dhamma maka pikiran menjadi terkendali, menjadi mudah dikuasai, mudah dijaga sehingga kesehatan jiwa dapat terjaga dan terhindar dari gangguan yang dapat muncul ketika kita berhadapan dengan masalah kehidupan. Lebih jauh lagi dengan praktik Dhamma jiwa tidak hanya menjadi sehat namun pula menjadi unggul. Seseorang menjadi bijaksana, sabar, penuh cinta kasih, bermoral serta hidup penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan ketika mempraktikkan Dhamma. Dhamma yang dipraktikkan dengan kesungguhan membawa dampak langsung pada terkikisnya kotoran batin penyebab penderitaan hingga ketika praktik telah sempurna dijalankan akan membawa pada pengetahuan tertinggi yaitu lenyapnya Āsava (āsavakhayañana) yang merupakan sehat jiwa yang paling sejati. 

Sumber: Dhammapada

Dibaca : 2118 kali