x

MENJADI SEORANG PEMIMPIN

Attā have jitaṁ seyyo yā cāyaṁ itarā pajā
Attadantassa posassa niccaṁ saññnatacārino
Mengalahkan diri sendiri inilah lebih mulia dibandingkan mengalahkan orang-orang lain. Atas seseorang yang telah melatih diri dan senantiasa mengendalikan diri.

(Dhammapada, Sahassavaggo, 104)

    DOWNLOAD AUDIO

Kehidupan berumah-tangga tidak luput dari keinginan untuk memiliki keluarga yang rukun dan hidup bahagia. Keluarga mana di dunia ini yang tidak ingin hidup bahagia dan penuh dengan kerukunan, tentu semuanya mendambakan hal tersebut. Namun ketika satu keluarga memiliki keinginan tersebut, apa yang mereka lakukan untuk mencapainya? Tujuan bisa sama, cara selalu berbeda.  

Kesuksesan suatu keluarga ditentukan oleh seberapa baik pemimpin keluarga dapat memimpin dan mengarahkan keluarganya, untuk mencapai tujuan¬-tujuannya, akan tetapi pemimpin di sini bukan hanya seorang suami, seorang istri juga termasuk pemimpin dalam sebuah keluarga. Memimpin dalam hal urusan rumah, urusan merawat anak, termasuk mengurus suami, demikian juga suami dan istri (orangtua) adalah pemimpin bagi anak-anaknya, karena bagaimanapun seorang anak akan mencontoh setiap hal yang orangtuanya lakukan. Dengan demikian perlu adanya cara bagaimana memimpin keluarga dengan baik dan benar, sehingga dapat membimbing menuju pencapaian tujuan, pencapaian keluarga yang penuh kedamaian. Dalam Ajaran Guru Agung Buddha, dikatakan ada empat hal atau empat cara menjadi seorang pemimpin yang baik, keempat hal ini dapat ditemukan di dalam Saṁyutta Nikāya. Apa saja keempat hal tersebut? Demikian yang Guru Agung Buddha paparkan:

1.Sacca
Seorang pemimpin, baik itu pemimpin negara, vihara, atau keluarga hendaknya ia memiliki sacca yaitu kejujuran. Seseorang yang memimpin dengan kejujuran tentu akan disenangi banyak orang, dan kepemimpinannya bebas dari cela. Pemimpin yang tidak jujur akan merugikan banyak orang, terlebih lagi pemimpin dalam keluarga, baik istri, suami, atau orangtua terhadap anaknya. Komponen keluarga tersebut hendaknya mengutamakan kejujuran dalam berbagai aspek, baik keuangan maupun yang lainnya. Dengan memiliki kejujuran yang dimiliki keluarga tersebut akan bebas dari segala macam perselisihan dan kesalahpahaman, sehingga keributan dalam keluarga akan sangat kecil terjadi. Keluarga akan penuh kerukunan dan kedamaian.

2.Dama
Dama berarti mengetahui cara untuk mengendalikan pikiran sendiri. Artinya seorang pemimipin hendaknya dapat mengetahui cara bagaimana ia dapat memiliki pikiran yang tenang. Tenang ketika dihadapkan dengan suatu masalah atau suatu persoalan. Dengan kemampuan seorang pemimpin mengendalikan pikiran, ia tidak mudah emosi, terkendali dalam setiap perbuatannya. Pikiran diibaratkan monyet yang liar, loncat dari satu pohon ke pohon lainnya, demikianlah dengan seseorang yang belum mengetahui cara dalam mengendalikan pikiran. Mengendalikan pikiran juga sangat berguna dalam memutuskan suatu hal, pikiran yang tenang akan menghasilkan keputusan yang baik, tidak sembrono, dan asal jadi.

3.Khanti
Kesabaran adalah kunci di mana seseorang dihadapkan dengan banyak permasalahan hidup. Kesabaran berarti tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu, tidak penuh dengan nafsu (emosi) dalam menginginkan sesuatu, artinya seseorang selalu melihat seberapa besar kemampuannya dalam mendapatkan apa yang diinginkan. Kesabaran juga tidak diartikan sebagai orang yang duduk diam tidak melakukan sesuatu, tetapi malah menginginkan sesuatu. Kesabaran di sini berarti seseorang harus tekun dan ulet, tidak pantang menyerah meski beberapa kali mengalami kegagalan dan jalan buntu, dengan kata lain khanti (kesabaran) di sini berarti tekun melakukan sesuatu dan tidak kenal lelah atau putus asa, selalu berusaha dengan semaksimal mungkin, tentu dengan cara-cara yang baik dan pantas.

4.Caga
Orang mana yang tidak mau pemimpinnya memiliki sifat dermawan, istri mana yang tidak mau suaminya murah hati, apalagi kalau murah hatinya kepada keluarga. Caga berarti sifat mau memberi dan sifat mau berbagi, yang hendaknya sifat seperti ini dimiliki oleh seorang pemimpin, baik negara maupun rumah tangga. Kepala rumah tangga, ibu rumah tangga, dan anak, jika mereka semuanya tidak mau saling berbagi apa jadinya? Suami tidak mau berbagi penghasilan, ibu tidak mau berbagi tenaga dalam mengurus rumah tangga, dan anaknya tidak mau berbagi masalah yang dialaminya, tidak dapat dipungkiri keluarga yang seperti itu adalah keluarga yang tidak pernah merasakan kebahagiaan dan kedamaian dalam keluarga. Bagaimana dikatakan bahagia, suami pulang kerja butuh makan sementara istri malas masak, kerjaan nonton sinetron. Sementara ada istri yang rajin, tetapi suaminya pelit dalam hal penghasilan, apakah bahagia? Silakan direnungkan! Mau berbagi tidak hanya cukup dalam keluarga, artinya keluarga tersebut seyogianya mau berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan, kepada yang layak menerima (anggota Saṅgha), dan tentunya dengan pemberian yang layak.

Dengan keempat hal yang Buddha paparkan, seseorang hendaknya menerapkan hal-hal tersebut dalam kehidupannya. Kenapa? Karena tidak ada kebahagiaan yang instan, tidak ada kesuksesan yang datang dengan sendirinya, harus ada usaha yang dilakukan, tidak cukup dengan belajar dan tahu. Dalam pepatah jawa dikatakan ‘ngelmu iku kelakone kanti laku’ artinya ilmu itu bisa terwujud dengan cara dilakukan. Dhamma yang membawa manfaat tidak cukup juga dengan belajar dan tahu, tetapi akan membawa manfaat yang nyata ketika Dhamma dipraktikkan dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu lakukanlah apa yang hendaknya dilakukan, sesuatu hal yang bermanfaat akan dirasakan manfaatnya ketika kita semua mau mencoba untuk melakukannya.  
Referensi:
-Saṁyutta Nikāya
-Buku “Selalu Ada Jalan” 

Dibaca : 503 kali