x

IBARAT PERENANG

Ye ca kho sammadakkhāte, dhamme dhammānuvattino
Te janā pāramessanti, maccudeyyaṁ suduttaraṁ’ti.
Mereka yang hidup sesuai Dhamma yang telah diterangkan dengan baik, 
akan mencapai Pantai seberang, menyeberangi alam kematian yang amat sukar diseberangi.

(Dhammapada 86)

    DOWNLOAD AUDIO

Saat kita mendengar kata “penjara” kesan seram, menakutkan pasti muncul dalam pikiran. Terlebih saat kita melewati komplek penjara, kesan takut akan makin kuat karena melihat pagar yang tinggi dengan bagian atas dikelilingi kawat berduri. Beberapa kali kami masuk ke penjara untuk memberikan bimbingan rohani kepada warga binaan yang beragama Buddha karena ada beberapa penjara yang di dalamnya dibangun cetiya atau vihara. Tentu kita berharap semoga umat di sana tidak bertambah melainkan makin berkurang.

Meski kita tidak berada dalam penjara lembaga permasyarakatan, sesungguhnya secara Dhamma dapat dikatakan bahwa saat  ini kita berada dalam Penjara Samsara, penjara lingkaran kelahiran-kematian yang berulang. Samsara sering juga diistilahkan dengan lautan atau samudra.
-4 Bahaya di Lautan. Dalam Catuma Sutta yang ada pada Majjhima Nikāya, Sang Buddha menjelaskan bahwa di lautan ada 4 bahaya yang mengancam, yaitu: ombak/gelombang, pusaran air, buaya, dan ikan buas. 4 bahaya ini adalah simbolisasi keadaan batin kita yang masih diliputi kemarahan (ombak), nafsu kesenangan indera (pusaran  air), kerakusan (buaya), dan nafsu kepada lawan jenis (ikan buas).
-Kualitas Bermanfaat yang Patut dilatih. Keyakinan (Saddhā), rasa malu (Hiri), rasa takut (Ottapa), kegigihan (Viriya), kebijaksanaan (Paññā).
-Ibarat Perenang. Dalam Udakupama Sutta yang ada pada Aṅguttara Nikāya Kelompok Tujuh, Sang Buddha mengumpamakan bahwa kehidupan kita di alam manusia seperti orang yang sedang berenang di lautan. Ada tujuh tipe orang yang berenang:
1)Seorang perenang yang telah masuk ke bawah air dan tetap di bawah. Di sini, seseorang memiliki kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang seluruhnya hitam. Dengan cara inilah seseorang telah masuk ke bawah air dan tetap di bawah. 
2)Seorang perenang telah naik ke atas dan kemudian masuk ke bawah. Di sini, seseorang telah naik ke atas, [dengan berpikir]: ‘Keyakinan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat; rasa malu adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat; rasa takut adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat; kegigihan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat; kebijaksanaan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat.’ Akan tetapi, keyakinannya tidak stabil atau bertambah melainkan berkurang. Rasa malunya, rasa takutnya, kegigihannya, kebijaksanaannya tidak stabil atau bertambah melainkan berkurang. Dengan cara inilah seseorang telah naik ke atas dan kemudian masuk ke bawah.
3)Seorang perenang yang telah naik ke atas dan tetap di sana. Di sini, seseorang telah naik ke atas, [dengan berpikir]: ‘Keyakinan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat; kebijaksanaan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat.’ Keyakinannya tidak berkurang juga tidak bertambah; melainkan hanya menetap di sana. Rasa malunya, rasa takutnya, kegigihannya, kebijaksanaannya tidak berkurang juga tidak bertambah; melainkan hanya menetap di sana. Dengan cara inilah seseorang yang naik ke atas dan tetap di sana.
4)Seorang perenang yang telah naik ke atas, melihat dengan jelas, dan melihat ke sekeliling. Di sini, seseorang telah naik ke atas, [dengan berpikir]: ‘Keyakinan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat;   kebijaksanaan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat.’ Dengan kehancuran sepenuhnya tiga belenggu yang lebih rendah, orang ini adalah seorang pemasuk-arus (Sotāpanna), tidak lagi tunduk pada [kelahiran kembali] di alam rendah, pasti dalam tujuannya, mengarah menuju pencerahan. Dengan cara inilah seseorang telah naik ke atas, melihat dengan jelas, dan melihat ke sekeliling.
5)Seorang perenang yang telah naik ke atas dan menyeberang. Di sini, seseorang telah naik ke atas, [dengan berpikir]: ‘Keyakinan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat; kebijaksanaan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat.’ Dengan kehancuran sepenuhnya tiga belenggu yang lebih rendah dan melemahnya keserakahan, kebencian, dan delusi. Orang ini adalah seorang yang kembali sekali (Sakadāgāmi) yang setelah kembali satu kali lagi ke alam ini, akan mengakhiri penderitaan. Dengan cara inilah seseorang telah naik ke atas dan menyeberang.
6)Seorang perenang yang telah naik ke atas dan mendapatkan pijakan kaki yang kokoh. Di sini, seseorang telah naik ke atas, [dengan berpikir]: ‘Keyakinan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat; kebijaksanaan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat.’ Dengan kehancuran sepenuhnya lima belenggu (Anāgāmi) yang lebih rendah, ia adalah seorang yang terlahir secara spontan, pasti mencapai Nibbāna akhir di sana tanpa kembali dari alam itu. Dengan cara inilah seseorang telah naik ke atas dan mendapatkan pijakan kaki yang kokoh.
7)Seorang perenang yang telah naik ke atas, menyeberang, dan sampai ke seberang, seorang brahmana yang berdiri di atas daratan yang tinggi. Di sini, seseorang telah naik ke atas, [dengan berpikir]: ‘Keyakinan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat; rasa malu adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat; rasa takut adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat; kegigihan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat; kebijaksanaan adalah baik dalam [melatih] kualitas-kualitas bermanfaat.’ Dengan hancurnya noda-noda, ia telah merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung dalam kehidupan ini. Kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya (Arahat). 

Sumber : 
-Dhammapada, Yayasan Dhammadipa Arama
-Majjhima Nikāya, Klaten
-Anguttara Nikāya, Dhammacittapress

Dibaca : 2423 kali