x

ANTARA KEHILANGAN DAN PEROLEHAN

“Sῑlabyasanahetu vā, āvuso, sattā diṭṭhibyasanahetu vā kāyassa bhedā paraṁ maraṇā apāyaṁ duggatiṁ vinipātaṁ nirayaṁ upapajjanti.”
“Tetapi makhluk-makhluk akan jatuh ke dalam kondisi demikian 
(kondisi terjatuh ke alam rendah, alam neraka setelah kematian);
karena kehilangan moralitas dan pandangan benar”
(Sangῑti Sutta – Dῑgha Nikāya: III,235)

    DOWNLOAD AUDIO

Ada lima hal yang dengan sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, Buddha yang mencapai Penerangan Sempurna. Maka kita akan mengulanginya bersama-sama demi manfaat, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Lima jenis kehilangan (vyasanāni) dan lima jenis perolehan (sampadā).

Sutta ini diulang kembali oleh YA. Sāriputta, pada satu kesempatan ketika banyak para bhikkhu tinggal di sebuah aula pertemuan baru milik para Malla dari Pāvā yang disebut Ubbhaṭaka, atas undangan para Suku Malla dari Pāvā. Saat itu Sang Bhagavā, meminta kepada YA. Sāriputta untuk memikirkan suatu khotbah Dhamma untuk dibabarkan kepada para bhikkhu, dengan pernyataan; ‘Para bhikkhu bebas dari kelambanan dan ketumpulan, Sāriputta. Pikirkanlah suatu khotbah Dhamma untuk dibabarkan kepada mereka’. Kemudian YA. Sāriputta mengulang beberapa kelompok Dhamma yang pernah Sang Bhagavā berikan, dengan tanpa perbedaan, dengan tujuan agar kehidupan suci ini dapat bertahan dan kokoh dalam waktu yang lama, demi kesejahteraan dan kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasihan kepada dunia, demi manfaat, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia.

Kehilangan dan perolehan keduanya adalah siklus nyata dalam kehidupan ini. Setiap individu, tanpa terkecuali, tentu mendambakan yang namanya perolehan, dan menghindar dari kehilangan. Kehilangan sesuatu dalam kehidupan ini menjadi hal yang sangat menakutkan, menjadi hal yang sangat dihindari oleh setiap orang. Tentu, ketakutan dan pengelakan yang terjadi ada pada individu yang masih memiliki kelekatan terhadap suatu hal. Akan tetapi, kehilangan dan perolehan yang dimaksudkan dalam sutta ini adalah suatu kehilangan dan perolehan yang umumnya terjadi dalam kehidupan kita, dan kehilangan yang tidak diinginkan oleh setiap individu/setiap orang.
Pañca vyasanāni –lima kehilangan, terdapat lima hal tentang kehilangan yang tidak diinginkan oleh seseorang didalam kehidupannya. Lima hal ini ada pada semua sisi dan pelaku kehidupan, yaitu:
1.ñātibyasanaṁ : kehilangan sanak saudara
2.bhogabyasanaṁ: kehilangan kekayaan
3.rogabyasanaṁ: kehilangan kesehatan
4.sῑlabyasanaṁ: kehilangan moralitas
5.diṭṭhibyasanaṁ: kehilangan pandangan benar   
Sebaliknya, setiap orang juga mendambakan suatu perolehan, Pañca Sampadā – lima perolehan. Lima perolehan ini adalah kebalikan dari lima kehilangan yang telah dijelaskan. Dimana kelimanya adalah:
1)ñātisampadā: memperoleh sanak saudara
2)bhogasampadā: memperoleh kekayaan 
3)ārogyasampadā: memperoleh kesehatan
4)sīlasampadā: memperoleh moralitas
5)diṭṭhisampadā: memperoleh pandangan benar

Dualisme, dua siklus nyata dalam kehidupan kehilangan dan perolehan. Lima hal yang menyatakan suatu kehilangan yang tidak diinginkan, dan suatu perolehan yang didambakan, dari keseluruhan hal tersebut, ada dua hal kehilangan yang mengondisikan seseorang terjatuh ke alam rendah, dan ada dua hal yang mengondisikan seseorang naik ke alam yang tinggi. 

‘Sῑlabyasanahetu vā, āvuso, sattā diṭṭhibyasanahetu vā kāyassa bhedā paraṁ maraṇā apāyaṁ duggatiṁ vinipātaṁ nirayaṁ upapajjanti.’ Tetapi makhluk-makhluk akan jatuh ke dalam kondisi demikian (kondisi terjatuh ke alam rendah, alam neraka setelah kematian) karena kehilangan moralitas dan pandangan benar. Sebaliknya, ‘Sῑlasampadāhetu vā, āvuso, sattā diṭṭhisampadāhetu vā kāyassa bhedā paraṃ maraṇā sugatiṁ saggaṃ lokaṁ upapajjanti.’ tetapi makhluk-makhluk akan terlahir kembali di dalam kondisi demikian karena memperoleh moralitas dan pandangan benar.’ 

Kesimpulan kehilangan akan tetap ada pada siklus dan fase kehidupan kita, demikian juga dengan perolehan. Akan tetapi, mental yang siap yang ditempa dengan praktik Dhamma akan memperkokoh pondasi kita dalam menghadapi kehilangan dan keterlenaan akan suatu perolehan. Sang Bhagavā dengan jelas telah menerangkan dan memaparkan, demikian juga YA. Sāriputta dalam beberapa kesempatan kembali memperjelas tanpa perbedaan, tinggalah pada diri kita semua, untuk mau atau tidak berusaha dengan sunguh-sungguh dalam praktik dan latihannya. Karena tidak ada suatu hasil yang diperoleh tanpa adanya usaha yang dilakukan. Usaha gigih dan konsisten yang kita lakukan dalam suatu praktik Dhamma, adalah jaminan bagi kita untuk merasakan cita-rasa Dhamma yang sesungguhnya. Dengan demikian, kita siap untuk menghadapi kehilangan dan siap untuk tidak terlena dalam suatu perolehan, tetapi bukan kehilangan moralitas dan bukan kehilangan pandangan benar.

Referensi:
-Walshe, Maurice [diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Team Giri Mangala Publication & Team Dhamma Citta Press]. 2009. (The Long Discourses of the Buddha A Translation of the Dῑgha Nikāya. Khotbah-khotbah Panjang Sang Buddha Dῑgha Nikāya). Jakarta: DhammaCitta Press.
-Software – Chaṭṭha Saṅghāyana Tipiṭaka Version 4.0.0.15. Text Copyright 1995 Vipassana Research Institute.

Dibaca : 2304 kali