x

ILUSIONIS PALING HEBAT

Pamādamanuyunjanti, bālā dummedhino janā
Appamādanca medhāvῑ, dhanaṁ seṭṭhaṁ varakkhati
“Orang dungu yang berpengertian dangkal terlena dalam kelengahan; sebaliknya orang bijaksana senantiasa menjaga kewaspadaan, seperti menjaga harta yang paling berharga”

(Dhammapada, Appamāda Vagga 26)

    DOWNLOAD AUDIO

Pendahuluan

Dalam dunia hiburan, sebagian besar dari kita tentu pernah menyaksikan pertunjukan ilusi atau sulap, baik secara langsung maupun melalui media. Tidak hanya kita, pertunjukan sulap atau permainan ilusi ini sangat diminati dan dikagumi oleh sebagian besar masyarakat di dunia, karena dalam penyajiannya dapat membuat penontonnya menjadi heran dan terpukau akan rahasia di baliknya. Dari pertunjukan ini, seringkali kita tidak sadar bahwa kita telah terjebak di dalam permainan ilusi yang pada dasarnya hanya sebuah permainan indera kita, sehingga kita menangkap fenomena yang tidak sesuai dengan realitasnya. Dari sekian banyak permainan ilusi dan berikut sang ilusionisnya, kita mengenal sebagian dari mereka, meskipun sama sekali kita belum pernah bertemu secara langsung. Namun di dalam Dhamma, ada ilusionis yang lebih hebat, bahkan paling hebat yang justru sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari yang seakan kita tidak mengenalinya. Padahal tidak sedikit dari kita yang setiap saat bertemu dan berhadapan dengannya, bahkan kita sendiri tidak menyadarinya. Lalu siapakah ilusionis paling hebat tersebut? Ilusi apa yang ditunjukkan oleh ilusionis tersebut?

Pembahasan 

Permainan ilusi yang ditunjukkan oleh para ilusionis mampu membuat daya tangkap indera kita menjadi kabur, sehingga tidak dapat menangkap fenomena yang terjadi sebagaimana aslinya. Dengan demikian, kejadian yang kita saksikan pada saat itu seolah-olah memberikan kesan aneh tetapi nyata dan benar terjadi. Pada saat itu, kita sebenarnya tertipu oleh ilusi yang membelokkan, menyesatkan alat indera kita dalam mencerna kejadian yang sebenarnya. Sang ilusionis melalui trik tertentu memang berusaha untuk menutup atau mengelabuhi pandangan kita terhadap suatu realitas, sehingga kita tidak dapat memahami kebenaran aslinya dan tentu saja hal ini akan menjadikan pandangan kita menyimpang.  

Terlepas dari itu, dalam kehidupan nyata, di dalam Dhamma sesungguhnya terdapat ilusionis yang hebat yang mampu memperdaya dan menyesatkan kita ke dalam suatu penyimpangan terhadap karakteristik kehidupan, yaitu ilusi kekotoran batin (kilesa). Inilah sesungguhnya yang merupakan ilusionis paling hebat di dalam kehidupan. Ilusi kekotoran batin ini pula yang sesungguhnya sering kita temui di dalam keseharian kita. Dengan adanya ilusi kekotoran batin inilah, kita sebagai manusia seringkali gagal melihat dan memahami sifat objektif kehidupan. Oleh karena itu, ketika kita dihadapkan pada suatu fenomena tertentu, kita menjadi kecewa dan menderita. Hal ini karena interpretasi kita terhadap realitas tertutup dan terhalang oleh kekotoran batin (kilesa), sehingga kita tidak bisa memahami dan menerima apa yang terjadi sebagaimana harusnya.

Kekotoran batin yang berupa lobha, dosa, moha, māna, diṭṭhi, vicikicchā, thῑna, middha, ahirika, anottappa dan lain sebagainya ini sesungguhnya kita semua memilikinya di dalam diri kita. Masing-masing kekotoran batin menjalankan tugas, fungsi, dan perannya dengan lihai dengan moha adalah pemimpin dan yang mendasari setiap perbuatan buruk. Moha akan menutupi kebenaran atau realitas kehidupan dengan mengendalikan kekotoran-kekotoran batin yang lain, sehingga ia menarik kita ke dalam hal-hal yang buruk. 

Kita terlahir dengan kekotoran batin yang mengakar dan berpotensi muncul kapanpun dan di manapun. Oleh karenanya, hendaknya kita tidak meremehkan kejahatan yang ringan sekalipun, karena hal ini akan meninggalkan benih penderitaan dan berpotensi untuk terulang kembali. 

Jika kita memperhatikan, adanya kemalasan, kemarahan, kebencian, keserakahan, kekecewaan, dan sebagainya yang sering kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari, semuanya adalah hasil dari bekerjanya ilusi kekotoran batin yang berdasar atau dipimpin oleh kebodohan batin (moha) yang ada dalam diri kita. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat dari perenungan kita yang tidak bijaksana (ayoniso manasikāra), akibat dari kelengahan kita. Demikianlah ilusi kekotoran batin menyesatkan manusia. 

Dengan adanya ilusi kekotoran batin, ketika seseorang sudah terjebak di dalamnya, maka akan menjadi syarat untuk timbulnya pandangan salah (micca diṭṭhi), kehausan (taṇhā), dan kemelekatan (upādāna). Pada banyak kasus, ketika seseorang telah tertipu oleh ilusi kekotoran batin, pandangannya menjadi meleset, tidak sesuai dengan kebenaran sejatinya, sehingga memandang yang salah sebagai yang benar, yang menjijikkan sebagai yang indah, penderitaan dianggap sebagai kebahagiaan, yang berubah sebagai yang kekal, dan tanpa inti dianggap sebagai ada inti. Demikian juga sebaliknya. Begitu juga dengan kehausan (taṇhā). Oleh karena terkelabuhi oleh bekerjanya kekotoran batin yang dipimpin oleh moha, seringkali seseorang menjadi semakin haus terhadap suatu hal yang pada dasarnya akan membawa pada penderitaan. Akibat lain yang dapat muncul, yaitu timbulnya kemelekatan (upādāna). Tidak jarang karena gagasan yang telah diterima dan terbentuk sebelumnya, seseorang menjadi melekat dan senantiasa dengan kuat memegang gagasan tersebut, sehingga menolak gagasan lain yang lebih baik ataupun yang paling baik. 

Membentengi Diri dari Ilusi Kekotoran Batin

Menyadari bahwa setiap kejahatan dan kebaikan yang dilakukan akan meninggalkan benih yang akan menjadi pohon dan buah yang baru, sangat penting untuk terus mengumpulkan kebaikan. Banyak cara atau jalan untuk dijadikan sarana berbuat baik, seperti berdana, menjalankan sῑla, menghormat Tiratana, ataupun membantu kegiatan di vihāra. Dengan membiasakan diri untuk selalu berbuat baik, maka hal ini dapat melunakkan batin kita. Oleh karena itu, ketika sudah menjadi kebiasaan, akan sangat berguna untuk kehidupan ini dan yang akan datang.

Salah satu cara untuk membentengi diri dari ilusi kekotoran batin yang menghalangi pikiran kita untuk dapat melihat kenyataan hidup dan senantiasa menjerumuskan kita kepada hal-hal yang buruk yaitu kewaspadaan (sati/appamāda). Dengan memiliki atau mengembangkan kewaspadaan, maka kita tidak akan lengah, tidak terjebak, tidak terlena, tidak diperbudak lagi oleh ilusi kekotoran batin. Kita akan semakin berpengendalian, dapat menjadi tuan bagi diri sendiri, sehingga mampu mengendalikan kekotoran batin yang ada di dalam diri kita. Sebagaimana dijelaskan di dalam Dhammapada 21, kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan, kelengahan adalah jalan menuju kematian, mereka yang sadar tidak akan mati, mereka yang tidak sadar seperti orang mati. Bahkan sebagai Guru Agung Buddha juga memberikan pesan terakhir kepada para siswanya sebelum parinibbāna yang berbunyi, “vayadhammā saṅkhārā appamādena sampādethā”. Segala sesuatu yang terkondisi adalah tidak kekal, berjuang dengan sungguh-sungguh dengan penuh kewaspadaan.

Kesimpulan

Permainan ilusi yang sering disaksikan di media hanyalah mampu mengelabuhi indera kita. Namun, ilusi kekotoran batin mampu membutakan pandangan kita terhadap sifat asli kehidupan dan menyesatkan kita, sehingga pandangan kita menjadi menyimpang. Ilusionis paling hebat ini juga, yaitu ilusi kekotoran batin pun mampu menjerumuskan dan menyeret kita kepada hal hal yang buruk. Inilah sebabnya ilusi kekotoran batin dikatakan sebagai ilusionis paling hebat. Oleh karena itu, sebagai umat Buddha hendaknya kita selalu mengembangkan kewaspadaan (sati/appamāda), sehingga kita tidak terkecoh oleh ilusi kekotoran batin dan pada akhirnya kita dapat melihat, memahami, dan memandang kehidupan ini sebagaimana karakteristiknya, sifat aslinya. Sebagaimana syair Dhammapada 26, “Orang dungu yang berpengertian dangkal terlena dalam kelengahan; sebaliknya orang bijaksana senantiasa menjaga kewaspadaan, seperti menjaga harta yang paling berharga”, demikian pula, dengan melatih dan mengembangkan kewaspadaan (sati), maka kita tidak akan lengah dan terlena, namun akan menjadi lebih bijak dalam menyikapi fenomena kehidupan ini. 

Sumber:
- Dhammapada, Diterbitkan oleh: Yayasan Abdi Dhamma Indonesia Tahun 2013.
- Bhikkhu Pannyavaro. BERSAHABAT DENGAN KEHIDUPAN Memaknai Dengan Kearifan. Jogja:Suwung. 2006.
- Nyanaponika Thera, dkk. Anicca. Vijjākumāra:_____. 2015.

Dibaca : 2288 kali