x

DOKTRIN PIKIRAN PEMBENTUK SEBUAH KARAKTER

Asevanā ca bālānaṁ, paṇḍitānañca sevanā
Etammaṅgalamuttamaṁ
Tak bergaul dengan orang-orang dungu, bergaul dengan bijaksanawan
Itulah berkah utama

    DOWNLOAD AUDIO

Melihat yang terjadi pada dewasa ini, pemahaman manusia terhadap sebuah doktrin semakin kuat. Bahkan agama membawa pengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Doktrin dari agama memberikan pengaruh yang besar terhadap pola berpikir manusia dan tindakannya. Doktrin agama juga mampu memberikan pengaruh positif maupun negatif. Dampak positif yang diterima oleh sebagian orang membawa kemajuan spiritual namun, dapat sebaliknya membawa dampak negatif. Hal ini terjadi karena apa yang diterima seringkali diterima secara mentah tanpa memaknainya secara bijak. Selain itu dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan seseorang.

Banyak para ahli yang mengatakan bahwa agama merupakan salah satu alat (sarana) untuk membentuk karakter seseorang. Yang tidak kalah penting juga dalam pembentukan karakter seseorang adalah keluarga, sekolah, lingkungan hidup, dll. Menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Oleh sebab itu, apabila karakter seseorang dapat diketahui, maka akan dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap dalam kondisi-kondisi tertentu. Dilihat dari sudut pengertian, karakter didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran karena sudah tertanam dalam pikiran. 

Dalam agama Buddha juga dibahas mengenai pikiran mampu memberikan pengaruh terhadap ucapan serta tindakan seorang individu. Seperti yang dikatakan dalam Dhammapada; pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat maka penderitaan akan mengikutinya. Namun, jika seseorang berbicara dan berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya. Dari kutipan ini menunjukkan bahwa unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran, karena di dalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya. Program ini kemudian membentuk sebuah kepercayaan yang akhirnya membentuk pola berpikirnya dan mempengaruhi perilakunya. Jika program yang tertanam tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilakunya berjalan selaras dengan hukum alam. Sebaliknya, jika program tersebut tidak sesuai, maka perilakunya membawa kerusakan dan penderitaan. Oleh karena itu, pikiran harus mendapat perhatian yang serius.

Lebih lanjut dalam Abhidhamma pada bagian citta juga menjelaskan bahwa pikiran buruk dapat muncul melalui ajakan atau tanpa adanya ajakan yang disertai dengan kesenangan dan bersekutu dengan pandangan salah. Apabila pikiran yang muncul ini adalah baik dapat muncul melalui ajakan atau tanpa adanya ajakan yang disertai dengan rasa bahagia dan tidak bersekutu dengan pandangan salah. Maksudnya perbuatan yang belum biasa dilakukan apakah baik maupun buruk seseorang membutuhkan dorongan dari luar terlebih dahulu untuk melakukannya. Namun, jika perbuatan buruk yang dilakukan, karena adanya suatu pandangan bahwa ini adalah yang paling benar yang lain salah.  Setelah itu seseorang melakukannya berulang-ulang sampai pada tahap dimana seseorang melakukan perbuatan-perbuatan tersebut tidak membutuhkan dorongan dari luar, karena sudah menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan ini dikarenakan doktrin-doktrin yang sudah tertanam kuat di dalam pikiran, sehingga membuat seseorang secara otomatis untuk melakukan suatu tindakan tertentu. 

Buddha menekankan kepada para siswanya untuk selalu mengarahkan dan mengembangkan pikiran pada hal-hal yang positif, sehingga menjadi sebuah watak (kebiasaan) sehingga nantinya akan mempengaruhi pada ucapan serta perbuatan. Dijelaskan dalam Sallekha Sutta dari Majjhima Nikāya, kecenderungan pikiran terhadap keadaan-keadaan yang bajik pun sudah amat bermanfaat, sehingga apa yang harus dikatakan tentang tindakan-tindakan fisik dan ucapan yang sesuai dengan keadaan pikiran yang bajik. Kecenderungan pikiran adalah sesuatu yang sangat bermanfaat karena kecenderungan ini secara eksklusif (khusus) membawa kesejahteraan dan kebahagiaan dan karena hal ini merupakan penyebab bagi tindakan-tindakan berikut yang sesuai dengannya. 

Di dalam Dhamma Vibhāga dikatakan terdapat tiga hal, mengenai kelakuan baik dengan pikiran (mano sucarita), yaitu; alobha adalah tidak menginginkan harta orang lain; abyāpāda adalah pikiran-pikiran yang tidak ingin menyakiti orang lain; dan sammādiṭṭhi adalah pikiran benar yang sesuai dengan Dhamma.

Setelah mengetahui bahaya dari pikiran yang tidak terjaga serta perannya dalam memberikan pengaruh terhadap ucapan dan perbuatan jasmani, hendaknya mampu menjaga pikiran dalam kondisi-kondisi yang baik. Meskipun pikiran sangat sukar sekali untuk dikontrol karena pikiran diibaratkan seperti monyet yang selalu kesana-kemari dan sangat mudah menerima pengaruh, maka seseorang seharusnya berusaha mengendalikan pikirannya. 

Referensi;
-Agus Sujanto, dkk. Psikologi Kepribadian. Aksara Baru. Jakarta. 1986.
-Bhikkhu Ñanamoli dan Bhikkhu Bodhi. Majjhima Nikāya. Vihara Bodhivaṁsa dan Wis

Dibaca : 1653 kali