x

Empat Hal Yang Sulit

Kiccho manussapaṭilābho, kicchaṁ maccāna jῑvitaṁ
Kicchaṁ saddhammassavanaṁ, kiccho buddhānaṁ uppado 
Mendapat kehidupan sebagai manusia adalah sulit. Adalah sulit, kehidupan makhluk fana. Mendengar ajaran kebenaran adalah sulit. Adalah sulit, kemunculan para Buddha. (Dhammapada syair 182).

    DOWNLOAD AUDIO

Saat ini adalah waktu yang sangat membahagiakan bagi kita semua, karena saat ini kita bisa bersama-sama berbuat kebajikan. Puja bakti adalah salah satu cara untuk menambah kebajikan, dan sekaligus bisa membuat batin kita menjadi lebih luhur. Karena pada saat kita melakukan Puja Bakti, yang kita lakukan adalah membaca paritta, latihan bhāvanā dan mendengarkan Dhamma, dengan demikian kita terkondisi untuk mencegah hal-hal buruk yang belum ada di dalam batin agar tidak muncul, kita terkondisi mengikis hal-hal buruk yang sudah ada di dalam batin menjadi berkurang, kita terkondisi untuk memunculkan hal-hal baik yang belum ada di dalam batin menjadi muncul, dan kita terkondisi untuk mempertahankan dan menambah hal-hal baik yang sudah ada di dalam batin menjadi berkembang, inilah salah satu usaha yang benar agar batin kita menjadi lebih luhur. 
Pada saat yang baik ini kita akan membahas satu topik Dhamma tentang Empat hal yang sulit, yang terdapat dalam Dhammapada syair 182.

1.Kiccho manussapaṭilābho: Mendapat kehidupan sebagai manusia adalah sulit.
Dalam Bālapaṇḍita Sutta (Majjhima Nikāya) dikatakan suatu makhluk yang terlahir di alam apāya bhūmi 4 atau 4 alam sengsara (alam setan, alam binatang, alam asura dan alam neraka), untuk dapat terlahir kembali di alam manusia sangatlah sulit. Sulitnya itu bagaikan seseorang yang melemparkan kayu yang di tengahnya bolong ke samudra luas, kayu tersebut terombang ambing oleh angin, gelombang dan badai. Di dasar samudra tersebut hiduplah seekor kura-kura yang buta. Kura-kura ini muncul ke permukaan laut satu kali dalam jangka waktu 100 tahun. Ketika kura-kura ini muncul ke permukaan laut, kepala kura-kura itu harus tepat berada di tengah-tengah lingkaran kayu. Demikianlah begitu sulitnya bagi makhluk-makhluk yang sudah berada di alam rendah untuk terlahir kembali  di alam manusia. Demikian juga di dalam salah satu sutta yang terdapat pada Saṁyuta Nikāya (Opamma Saṁyutta) dijelaskan begitu sedikitnya makhluk-makhluk yang bisa lahir menjadi manusia. Dijelaskan dalam sutta tersebut: Saat Sang Bhagavā berada di Sāvatthῑ. Kemudian Sang Bhagavā mengambil sedikit tanah dengan ujung kuku jari tanganNya dan berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu bagaimanakah menurut kalian, mana yang lebih banyak: Tanah yang Kuambil di ujung kuku jari tanganKu ini atau tanah yang ada di bumi ini?”
“Yang Mulia, sangat sedikit tanah yang ada di ujung kuku jari tangan Sang Bhagavā, dibandingkan dengan tanah yang ada di bumi ini, tidak terhitung, tidak dapat dibandingkan.”
“Demikian pula, para bhikkhu, makhluk-makhluk yang terlahir kembali di antara manusia adalah sedikit. Tetapi banyak sekali makhluk-makhluk yang terlahir kembali di alam selain alam manusia.”

2.Kicchaṁ maccāna jῑvitaṁ: Adalah sulit, kehidupan makhluk fana. 
Kehidupan para makhluk di dunia ini adalah tidak mudah, bila terlahir di alam neraka sangat sulit untuk meraih kebahagiaan, karena setiap saat selalu menderita siksaan, tidak bisa lepas dari siksaan. Terlahir di alam binatang, senantiasa dicengkram oleh rasa takut dan cemas. Dalam alam binatang, yang besar memangsa yang kecil, yang kuat akan memangsa yang lemah, mereka tidak memiliki tempat berlindung yang aman, sehingga mereka selalu ketakutan dan kecemasan. Terlahir menjadi makhluk peta, dibakar oleh rasa haus dan lapar, mereka senantiasa menderita tidak bisa memenuhi rasa haus dan lapar karena memiliki tubuh yang besar tetapi memiliki mulut yang kecil. Begitu juga terlahir menjadi manusia, adalah tidak mudah menjalani kehidupan sebagai manusia. Harus bekerja setiap hari untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan tak jarang untuk mempertahankan hidup nya seseorang melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum sehingga dia harus menjalani hukuman di penjara. Masalah yang dihadapi oleh para manusia juga tidak mudah, bahkan ada yang mengakhiri kehidupannya dengan bunuh diri karena tidak bisa mengatasi masalahnya.

3.Kicchaṁ saddhammassavanaṁ: Mendengar ajaran kebenaran adalah sulit. 
Dapat bertemu dengan Dhamma dan bisa mendengarkan Dhamma adalah tidak mudah. Setelah petapa Gotama mencapai kesempurnaan menjadi Sammāsambuddha, pikiran seperti ini timbul dalam diri-Nya: “Dhamma yang telah Kurenungkan ini sungguh dalam, sungguh halus dan sulit untuk dilihat. Dhamma ini tidak bisa dimengerti dengan pemikiran semata; Dhamma ini hanya bisa dipahami oleh para bijaksana. Benar-benar sulit bagi orang-orang saat ini yang menyukai kemelekatan untuk memahami Dhamma ini, yang merupakan Nibbāna, padamnya semua hal terkondisi. Jika Aku mengajarkan Dhamma ini kepada para dewa dan manusia itu, mereka tak akan melihat maupun mengerti. Mengajarkan Dhamma kepada para dewa dan manusia hanya akan meletihkan dan menyulitkan-Ku.” Namun setelah dimohonkan oleh Brahma Sahampati, dan karena kasih sayang Beliau kepada makhluk-makhluk, akhirnya Beliau membabarkan Dhamma, hingga saat ini kita masih bisa bertemu dan mendengarkan Dhamma yang pernah Beliau babarkan. 

4.Kiccho buddhānaṁ uppado: Adalah sulit, kemunculan para Buddha.
Buddha dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu Sammāsambuddha, Pacceka-Buddha dan Sāvaka-Buddha. Sammāsambuddha adalah orang yang mencapai Kesempurnaan menjadi Buddha dengan usaha sendiri dan dapat mengajarkan Dhamma sehingga siswa-siswaNya juga bisa mencapai kebebasan. Seorang Bakal Sammāsambuddha harus memenuhi Kesempurnaan selama paling sedikit empat asañkheyya dan seratus ribu kappa sejak menerima ramalan hingga kelahiran terakhirnya di mana ia menyelesaikan tugas pemenuhan Kesempurnaan. Menurut Saṁyutta Nikāya, satu kappa adalah periode di mana, jika tulang suatu makhluk disusun, susunan tulangnya akan setinggi gunung. Oleh karena itu, jumlah kelahiran seorang Bakal Sammā-sambuddha yang panjangnya empat asañkheyya dan seratus ribu kappa akan lebih banyak daripada jumlah tetesan air di samudra. Dari setiap kelahiran ini, tidak ada satu kehidupan pun yang dilewati dengan sia-sia tanpa memenuhi Kesempurnaan.
Pacceka-Buddha adalah Orang yang mencapai Kesempurnaan menjadi Buddha dengan usaha sendiri, tetapi tidak bisa membimbing makhluk lain mencapai kebebasan. Seorang bakal Pacceka-Buddha, mereka harus memenuhi Kesempurnaannya selama dua asañkheyya dan seratus ribu kappa. Mereka tidak dapat men-jadi Pacceka-Buddha sebelum melewati masa Pemenuhan Kesempurnaan sebanyak kappa itu. Karena pencerahan seorang Pacceka Buddha belumlah matang sebelum mereka memenuhi Kesempurnaan secara penuh.
Sāvaka-Buddha  adalah orang yang mencapai kesempurnaan setelah mendapatkan bimbingan dari Sammāsambuddha. Sāvaka-Buddha dibedakan menjadi tiga; Siswa Utama (Agga Sāvaka), Siswa Besar (Maha Sāvaka) dan Siswa biasa. Seorang bakal Siswa Utama, sepasang siswa seperti Yang Mulia Sariputta dan Yang Mulia Moggallana harus memenuhi Ke-sempurnaannya selama satu asañkheyya dan seratus ribu kappa; Bakal Siswa Besar, delapan puluh Siswa Besar (seperti Yang Mulia Kondañña, Yang Mulia Ananda, dan lain-lain) harus memenuhi Kesempurnaannya selama seratus ribu kappa; Bakal Siswa Biasa yaitu siswa-siswa lain selain Siswa Utama dan Siswa Besar, tidak disebutkan dalam Tipitaka berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi Kesempurnaan, namun dalam Komentar dan Subkomentar disebutkan bahwa para Siswa Besar dapat mengingat kehidupan lampaunya sampai seratus ribu kappa yang lalu dan Siswa Biasa kurang dari itu. Karena pemenuhan Kesempurnaan dilakukan dalam setiap kehidupannya, dapat disimpulkan bahwa bakal Siswa Biasa harus memenuhi Kesempurnaan selama tidak lebih dari seratus ribu kappa, namun waktu pastinya tidak ditentukan, dapat selama seratus kappa atau seribu kappa, dan sebagainya. Karena Kebuddhaan begitu sulit dicapai, saat-saat di mana seorang Buddha muncul juga sangat jarang terjadi. 

Kesimpulan
Sesungguhnya kita adalah manusia-manusia yang beruntung, karena dari empat hal yang sulit, kita memperoleh tiga hal, yaitu; 
1.Mendapat kehidupan sebagai manusia adalah sulit, kita sudah terlahir sebagai manusia. 
2.Adalah sulit, kehidupan makhluk fana, kita sampai saat ini masih bisa bertahan hidup dan hidup dalam keadaan sehat jasmani dan batin, di luar sana banyak orang yang tidak bisa bertahan menjalankan kehidupan ini, masuk rumah sakit jiwa bahkan ada yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. 
3.Mendengar ajaran kebenaran adalah sulit, tetapi kita bisa mendengarkan Dhamma tersebut. 
Maka dari itu kita hendaknya tidak bermalas-malasan untuk  melakukan kebajikan agar tidak jatuh ke empat  alam sengsara, karena kalau sudah jatuh di empat alam sengsara, sulit sekali untuk dapat mencapai alam manusia.

Dibaca : 1129 kali