x

KERUKUNAN MEMBAWA KEDAMAIAN

Pare ca na vijānanti, mayamettha yamāmase
Ye ca tattha vijānanti, tato sammanti medhagā
Sebagian orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka akan binasa,
tetapi mereka yang dapat  menyadari kebenaran ini 
akan segera mengakhiri semua pertengkaran.

(Dhammapada Yamaka Vagga, Syair VI).

    DOWNLOAD AUDIO

Kerukunan adalah sebagai kondisi kehidupan yang mencerminkan suasana damai, tertib, tentram, sejahtera, hormat menghormati, harga menghargai, tenggang rasa, gotong royong. Sesungguhnya kita adalah saudara tetapi ketika kita mulai tidak rukun dengan yang lainnya, di sinilah menjadi awal pertikaian, perselisihan, pertengkaran dan konflik sejenis lainnya yang terjadi di dalam masyarakat timbul karena pikiran tidak terkendali. Berhubungan dengan hal ini, kebencian (dosa) umumnya menjadi sumber terdekat munculnya konflik-konflik  semacam ini. Berakar dari kebencian, kehidupan sebuah keluarga yang sudah harmonis menjadi retak, masyarakat yang damai menjadi ricuh, negara yang damai menjadi terpecah belah. Sang Buddha bersabda dalam Dhammapada Syair, 5: “kebencian tak akan pernah berkahir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi”.

Kehidupan manusia akan hancur apabila mereka tidak memiliki rasa toleransi dengan manusia lainnya terutama bagi mereka yang berbeda suku, agama, ras, dan antar golongan. Terutama hal agama perbedaan agama pada dasarnya tidak menghalangi hubungan yang akrab antar umat, baik hubungan secara pribadi, hubungan keluarga atau hubungan kelompok. Dalam toleransi itu sendiri pada dasarnya kita harus bersikap lapang dada dan menerima perbedaan antar umat beragama. Selain itu kita juga harus saling menghormati satu sama lain misalnya dalam hal beribadah, antar pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya tidak saling mengganggu. Sebagai contoh kerukunan yang diterapkan oleh Maha Raja Asoka (Prasasti Asoka), Raja Asoka dalam menjalankan pemerintahannya benar-benar menjaga toleransi dan kerukunan hidup beragama, semua agama yang berkembang saat itu diperlakukan adil. Untuk mewujudkan kerukunan hidup beragama tersebut, Raja Asoka telah mencanangkan kerukunan hidup beragama yang terkenal dengan “Prasasti Batu Kalinga No. XXII Raja Asoka”. Prasasti Raja Asoka “Janganlah  kita hanya menghormati agama sendiri dan mencela agama orang lain tanpa suatu dasar yang kuat. Sebaliknya agama orang lain pun hendaknya dihormati atas dasar-dasar tertentu”.

Untuk itulah kerukunan hidup antar umat beragama harus kita jaga agar tidak terjadi konflik. Terutama di masyarakat Indonesia yang multikultural dalam hal agama, kita harus bisa hidup dalam kedamaian, saling tolong-menolong, dan tidak saling bermusuhan agar agama bisa menjadi pemersatu bangsa Indonesia dan negara Indonesia menjadi negara yang kaya akan perbedaan tetapi tetap menjadi satu “Bhinneka Tunggal Ika.” Seperti yang dijelaskan dalam Aṅguttara Nikāya kelompok dua (dukanipata), yang menyebabkan terjadinya konflik-konflik karena adanya nafsu indera dan nafsu pada pandangan. Hal ini pernah ditanyakan oleh brahmana Ārāmadanda kepada Y.M. Mahākaccāna. Oleh karena itu, rasa toleransi dengan sesama harus ditumbuhkan dan hidup di dalam hati setiap manusia. Dalam Sārāṇῑyadhamma Sutta, Sang Buddha menjelaskan tentang enam hal yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati, menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, kerukunan dan kesatuan. Hal ini tidak hanya berlaku pada seorang Pabbajita, tetapi juga untuk para perumah tangga:
1.Memiliki perbuatan yang disertai dengan cinta kasih
Jika kita memiliki perbuatan yang disertai dengan perasaan cinta kasih dan dengan hati yang tulus, ketika sudah tidak tinggal bersama, maka apa yang telah kita lakukan itu akan diingat, bahwa dia telah membantu saya ketika mengalami kesulitan. Ketika mengingat jasa kebajikan mereka, apa yang kita lakukan? Jika kita tidak tinggal bersama, hal yang paling mudah dilakukan adalah mendoakan semoga jasa kebajikan yang telah mereka lakukan berbuah kebahagiaan dan semoga mereka selalu dalam keadaan sehat, ini merupakan sesuatu yang paling mudah dilakukan. Seseorang dikenang bukan karena kekayaan, pangkat atau harta yang dimilikinya tetapi jasa kebajikan yang dia lakukan dalam lembaran sejarah hidupnya.
2.Memiliki ucapan yang disertai dengan cinta kasih 
Tidak satupun orang yang senang mendengar kata-kata kasar, karena itu akan menjadi penyakit yang sulit disembuhkan. Berbeda dengan kata-kata yang halus dan diucapkan dengan raut muka yang cerah ceria maka orang yang mendengarnya akan merasa senang. Apabila ingin mengucapkan sebuah kata maka kita harus berhati-hati, apakah ucapan itu benar dan bermanfaat? Jika tidak, jangan sampai diucapkan.
3.Memiliki pikiran yang disertai dengan cinta kasih
Jika kita tidak ingin orang lain berpikir jelek tentang kita, maka kita harus belajar untuk tidak memikirkan tentang kejelekan orang lain. Orang akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka. Orang akan melakukan hal yang baik jika berbuat baik, ini sudah menjadi hukum alam.
4.Berbagi catupaccaya yang diterima 
Bagi kehidupan seorang samana ketika mendapatkan 4 kebutuhan pokok dari umat maka ia akan membagikannya kepada temannya, itulah yang akan membuat saling dikenang. Bagaimana b

Dibaca : 2292 kali