x

AKHIR PENDERITAAN DIAWALI DARI KEYAKINAN

Idaṁ me puññaṁ, nibbānassa paccayo hotu
Semoga dengan kebajikan ini, menjadi kondisi untuk mencapai
kebebasan dari penderitaan

    DOWNLOAD AUDIO

Dua hari yang lalu kita memperingati Tri Suci Waisak 2561 BE/2017. Hampir setiap tahun kita memperingatinya dan bahkan sebelum datangnya Tri Suci Waisak pun, kita membuat berbagai macam kegiatan sosial dan spiritual termasuk pendalaman Dhamma. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan dan menumbuhkan keyakinan/saddha. Keyakinan adalah hal penting dimiliki oleh umat Buddha agar keragu-raguan pada ajaran menjadi berkurang.

Keyakinan menjadi Umat Buddha
Keyakinan adalah pondasi atau dasar yang dimiliki seseorang sebelum melakukan suatu tindakan tertentu, dengan kata lain keyakinan adalah pengertian yang dapat menggerakkan seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Tanpa adanya keyakinan seseorang tidak mungkin mencapai tujuan tertentu. Tujuan  yang paling utama yang perlu dimiliki oleh umat Buddha adalah keyakinan bahwa kita dapat mengakhiri penderitaan. Sebab kemunculan Buddha menjadi berkah untuk membebaskan diri dari penderitaan. 

Obyek Keyakinan dalam Agama Buddha
Objek keyakinan yang dihormati adalah tiga permata/Tiratana yaitu: 1) Buddha, 2) Dhamma, 3) Saṅgha. Maka setiap kali puja bakti umat Buddha memohon tuntunan tisarana. Ini dilakukan sebagai langkah pertama memasukkan Tiga Permata/Tirataṇa ke dalam diri, sebelum seseorang masuk pada ajaran. Karena dengan Tisaraṇa atau pernyataan pergi berlindung seseorang telah mulai memiliki keyakinan pada Tirataṇa dan selanjutnya akan melaksanakan ajaran.
Perlu dipahami bahwa keyakinan terhadap Buddha, Dhamma, dan Saṅgha bukanlah keyakinan terhadap bentuk objeknya semata. Tetapi, keyakinan yang benar adalah keyakinan terhadap makna, dibalik simbol tersebut. 
Keyakinan terhadap Sang Buddha, mewakili keyakinan terhadap seorang guru (Buddha) yang perlu diteladani. Beliau mencontohkan bagaimana perilaku-perilaku yang baik (sῑla), ucapan yang bermanfaat, pikiran yang positif itulah yang menjadi kesempurnaan dari Beliau. Beliau adalah panutan untuk mengakhiri penderitaan. Dalam Buddhānussati kita akan dapat membayangkan seperti apa kualitas yang dimiliki oleh Sang Buddha. 
Dhamma adalah ajaran Sang Buddha. Keyakinan terhadap Dhamma juga bukanlah keyakinan membuta terhadap ajaran yang tertulis dalam kitab suci, mengingat ada sebagian umat Buddha yang  yakin pada Dhamma, setelah belajar Dhamma seperti membaca dan mendengar lalu menjadikan Dhamma, hanya sebagai bahan untuk perdebatan semata. Keyakinan terhadap Dhamma yang sesungguhnya, ketika kita mau berlatih Dhamma melalui praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Dhammānussati kita dapat membayangkan seperti apa kualitas yang dimiliki Dhamma. Dhamma inilah ajaran yang dapat membawa pada akhir penderitaan. 
Keyakinan pada Saṅgha yang ada dalam Saṅghānussati, kita dapat membayangkan seperti apa kualitas yang dimiliki oleh Ariya Saṅgha. Ariya Saṅgha ini adalah kumpulan siswa-siswa Sang Buddha yang karena keyakinan pada Buddha dan mengikuti ajaran Beliau, hingga akhirnya mencapai akhir penderitaan. Para siswa Ariya Saṅgha disebut Sāvaka Buddha. Sāvaka Buddha. adalah seseorang yang mencapai tingkat kesucian setelah menerima dan mempraktikkan ajaran dari Sammā Sambuddha. Keyakinan terhadap Saṅgha ini memberi motivasi bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk dapat mengakhiri penderitaan dengan menjalankan ajaran Sang Buddha.  

Menumbuhkan keyakinan
Dalam prosesnya, agar kita memiliki keyakinan untuk mengakhiri penderitaan, kita harus aktif bukan pasif, dan ada dua hal yang perlu kita usahakan: 1) Membuka pandangan, 2) Mempraktikkan (meliputi ritual /puja dan pelaksanaan/patipati seperti praktik sila dan meditasi dengan benar).

1)Membuka pandangan
Membuka pandangan maksudnya seseorang memasukkan Dhamma ke dalam pikiran melalui belajar Dhamma (pariyati), seperti: mendengar dan membaca kitab suci Tipitaka (dhammasavanaṁ),  setelah itu merenungkan isinya dan jika ada hal kurang jelas atau membingungkan, kita dapat bertanya pada seseorang yang kita anggap mengerti (dhammasakacca). Dhamma jika dibaca tanpa adanya ketenangan dan pembahasan, kita akan sulit untuk memahaminya. Dan saat bertanya bertanyalah, tanyakan apa manfaatnya? 
Dhamma sering diibaratkan rakit, rakit adalah sarana yang digunakan untuk menyeberangi lautan. Seperti itulah, Dhamma merupakan sarana yang digunakan untuk menyeberangi lautan samsara. Dengan memahami Dhamma kita akan mengerti manfaatnya. Jangan sampai kita belajar Dhamma tetapi tidak tahu kegunaannya, seperti punya rakit tapi tidak tahu fungsinya. Dari membuka pandangan ini, kita tahu bagaimana caranya untuk mengakhiri penderitaan. Dengan demikian keyakinan untuk mengakhiri penderitaan semakin kokoh.

2)Mempraktikkan
Setelah seseorang pandangannya terbuka dan tahu manfaatnya maka seseorang akan mempraktikkan apa  yang diyakini tersebut (patipati). Mempratikkan ajaran adalah bentuk keyakinan yang dimiliki umat Buddha. Praktik yang sering dilakukan oleh umat Buddha adalah ritual puja. Seperti puja bakti, baca paritta, bernamaskara, pradaksina, menyalakan lilin dan dupa di hadapan altar Buddha. Ritual ini dapat meningkatkan keyakinan dan kita dapat bertekad untuk mengakhiri penderitaan di saat puja tersebut.
Dari tekad dan keyakinan itu, kita semakin kokoh dan mantap dalam menjalankan sila dan meditasi sehingga akhir penderitaan secara bertahap akan dapat kita capai. Dalam praktik kita perlu usaha dan di setiap usaha perlu perjuangan, di setiap perjuangan perlu semangat, jagalah terus semangat kita. Ada pepatah kuno yang dapat dijadikan semangat: “sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit”. Demikian pula dengan terus menjaga semangat dan keyakinan serta terus mempraktikkan Dhamma dengan benar, setahap demi setahap kita dapat menghakhiri derita.

Semoga dalam hidup saat ini, kita dapat menghakhiri derita.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Dibaca : 2052 kali