x

HUBUNGAN YANG HARMONIS

Na paro paraṁ nikubbetha, nātimaññetha katthaci naṁ kañci
Byārosanā paṭῑghasaññā nāññamaññassa dukkhamiccheyya ti. 
Tak sepatutnya yang satu menipu yang lain, tidak menghina siapapun di mana juga,
dan tak selayaknya karena marah dan benci mengharap yang lain celaka.

(Karaṇῑyametta Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Pendahuluan
Keselarasan dalam berhubungan merupakan hasil dari upaya yang dibangun oleh kedua belah pihak. Berbaur di tengah masyarakat me-rupakan aktivitas sosial yang membentuk suatu hubungan. Teman, kawan, atau sahabat merupakan objek  dari aktivitas sosial yang berlangsung. Terjadinya hubungan yang erat membentuk suatu  persahabatan.  Di sana, antar kawan, teman,  ataupun  sahabat dapat saling memberikan dorongan dan pengaruh satu sama lain. Secara  garis besarnya, ada beberapa  tindakan  yang merupakan wujud dari   sikap   berteman.   Tindakan-tindakan  tersebut  yaitu  menghampiri  atau  mendekati, bersahabat akrab, menyukai, setia terhadapnya, bertukar  pikiran  dan  pandangan,  bertinggal  serta bersantap bersama, meneladani.

Bahasan
Dunia masyarakat  dewasa yang memberikan kebebasan serta  keleluasaan  seseorang  dalam  berbaur,  seringkali disalahgunakan dalam bentuk pergaulan yang tidak baik. Kebebasan yang di luar  batas adalah  hal yang sudah umum di jumpai di dalam kehidupan sekarang ini. Merosotnya moral manusia modern tidak lain karena berawal dari pergaulan yang kurang baik. Mengingat hal ini harus   ada   acuan,   harus   punya  integritas  dalam  bergaul, bergaul  dengan  tepat, bermasyarakat dengan bijak, bersahabat dengan baik, dan juga menjadi sahabat baik akan  membawa  kehidupan  ini  berpijak  pada  jalan  yang benar menuju akhir penderitaan. Sebaliknya, tanpa   dilandasi moralitas yang baik,  melainkan hanyut dalam arus pergaulan yang erat dengan kesenangan  indrawi  semata,  akan  membawa  kehidupan  seseorang menuju kehancuran.  Kehidupan  seperti  itu  akan berakhir dalam penyesalan. Dalam salah satu khotbah yang dimuat dalam Aṅguttara Nikāya, Buddha mengajarkan tentang hal-hal yang  dapat  menunjang  suatu  hubungan  yang  baik atau suasana persahabatan  (Saṅghāvatthu). Dalam  sutta  ini, Buddha menyebutkan empat hal yang dapat menjadikan suasana  persahabatan.  Empat  hal  itu  antara  lain  sebagai  berikut:
a. Dāna
Perbuatan memberi adalah  suatu tindakan yang mampu    menunjang suasana persahabatan  atau hubungan yang baik.  Berderma atau menolong orang yang memerlukan bantuan akan menimbulkan suasana persahabatan, karena pada hakikatnya hidup yang saling tolong menolong akan dapat meringankan bahkan mengatasi kesusahan hidup.
b. Piyavācā
Berbicara santun akan menyenangkan orang lain, menimbulkan sikap saling menghormati satu sama lain. Ucapan yang menyenangkan atas dasar cinta kasih dan tidak disertai kebencian niscaya membawa  ke-dekatan yang harmonis, sehingga  tidak  menimbulkan permusuhan. Apabila  ucapan  ini  dikembangkan, tidak bisa dipungkiri  bahwa  hubungan  persahabatan akan berjalan harmoni tiada pertengkaran. Hal yang seringkali merusak hubungan baik biasanya dimulai dari ucapan yang tidak menyenangkan, maka dalam menjalin kedekatan yang harmonis  diperlukannya ucapan  yang menyenangkan.
c. Atthacariyā
Melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain, sama halnya dengan saling melayani keperluan orang lain, permusuhan menjadi sirna, karena yang ada hanya kemanfaatan dan kebaikan bersama. Tahu menempatkan diri berarti menjaga diri agar tidak melakukan hal-hal yang buruk bagi sesama. Tolong menolong, saling menghargai, saling melayani, saling tahu menempatkan diri, akan membuat relasi antar manusia saling berdekatan.
d. Samānattatā
Memiliki ketenangan batin dan  tanpa  kesombongan.  Untuk  dapat  bersikap  demikian,  ada  hal  yang  hendaknya  dikorbankan. Hal yang perlu dikorbankan terutama adalah ego. Mengorbankan sedikit ego untuk mau menerima, rendah   hati, tidak angkuh, dan tidak merasa   sombong. 
Beberapa fungsi   dan   kontribusi   dari   penerapan   pergaulan  Buddhis antara lain:
a. Sebagai cerminan nama baik
b. Sebagai jembatan untuk menimbulkan  kesejahteraan dan kebahagiaan
c. Sebagai kontribusi dalam menumbuhkan kebijaksanaan
d. Sebagai perintis untuk melatih Jalan Mulia Berunsur Delapan
Akar perselisihan antara lain:
a. Marah dan bersikap bermusuhan
b. Merendahkan dan kurang ajar
c. Bersikap iri dan kikir
d. Licik dan munafik
e. Memiliki keinginan jahat dan pandangan salah
f. Melekat pada pandangannya sendiri
Lima bahaya dari perselisihan
Apakah lima ini? 
a. Ia tidak mencapai apa yang belum ia capai;
b. Ia jatuh dari apa yang telah ia capai;
c. Suatu berita tentang keburukannya beredar;
d. Ia meninggal dunia dalam kebingungan; dan
e. Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam sengsara.

Penutup
Menyadari konflik yang bisa saling menghancurkan dan membinasakan sangatlah penting, karena kehidupan yang diwarnai konflik akan menimbulkan suasana yang selalu penuh kecurigaan, ketidakpercayaan, ketakutan, kemarahan, dan berbagai bentuk pikiran negatif lainnya. Suasana seperti itu akan membuat hidup kita terpecah belah, saling terpisah dalam pertentangan. Padahal kehidupan kita sangatlah perlu dibangun dalam kerukunan untuk menjaga keutuhan. Keutuhan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menjadi sarana bagi t

Dibaca : 1312 kali