x

MENGHADAPI PROBLEM KEHIDUPAN

Sabbapāpassa akaraṇaṁ, kusalassūpasampadā
Sacittapariyodapanaṁ, etaṁ buddhāna sāsanaṁ 
Tidak melakukan bentuk kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan dan sucikan pikiran. Inilah ajaran para Buddha
(Dhammapada 183) 

    DOWNLOAD AUDIO

Fakta dalam kehidupan ini, setiap manusia pasti mengalami yang namanya problem atau permasalahan-permasalahan. Sering disadari atau tidak, kita sudah terlalu jauh hanyut  dan larut dalam problem-problem yang dialami, sehingga beban hidup yang semakin berat bertubi-tubi terus menimpa. Bahkan ada yang memutuskan untuk bunuh diri karena sudah  tidak sanggup menghadapi problem hidupnya sendiri. Sebenarnya, apakah yang salah adalah beban kehidupan? Atau cara seseorang yang salah berpraktik dalam hidupnya? Tentu pertanyaan demikian perlu kita renungkan dengan seksama. Sesungguhnya, beragam cara dapat diupayakan guna menghadapi problem-problem  yang sedang kita hadapi. Namun, dalam kehidupan ini banyak kita jumpai individu-individu yang gagal dalam menghadapi masalahnya sendiri, mengharap masalah dapat berkurang, tetapi bukannya problem menjadi  berkurang, sebaliknya masalah demi masalah semakin bertambah dan membelit.

AN IV.164  Ada empat cara praktik seseorang berperilaku 

1.Praktik tidak sabar
Dalam menghadapi masalah kehidupan, seseorang memiliki cara dan kecenderungan yang berbeda-beda dalam bereaksi dan mencari solusi. Mayoritas orang yang kita jumpai setiap harinya bereaksi dengan marah dan jengkel ketika suatu permasalahan muncul. Sikap menghindar dan agresif sering ditunjukkan sebagai reaksi dari ketidaksukaan. Cara bersikap demikian sesungguhnya merupakan akar permasalahan dari problem itu sendiri. Ketidaksabaran dalam menghadapi masalah kehidupan dan lemahnya kekuatan mental menjadikan ia semakin terpuruk dan menderita.

2.Praktik bersabar
Praktik kesabaran merupakan modal utama seseorang dalam mengarungi kehidupan yang dipenuhi oleh tantangan dan masalah. Kesabaran dapat diibaratkan seperti halnya nafas kehidupan yang tanpanya seseorang dapat menjadi menderita atau bahkan kehilangan nyawa. Inilah sebabnya praktik kesabaran merupakan hal mulia untuk kita latih ketika bertemu dengan masalah-masalah kehidupan. Tanpa adanya kesabaran maka apa yang menjadi cita-cita dan harapan  mustahil dapat terealisasi. Kesabaran merupakan awal benih-benih tercapainya apa yang dicita-citakan. Dalam Dhammapada 184 Sang Buddha bersabda: “Khantῑ paramaṁ tapo titikkhā” yang berarti “Kesabaran adalah praktik tapa yang tertinggi”

3.Praktik menjinakkan
Praktik menjinakkan adalah praktik dalam mengendalikan indra penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, indra sentuhan  serta indra pikiran terhadap semua objek-objek yang berkontak.  Menjinakkan di sini artinya berusaha tidak menggenggam erat-erat pengalaman-pengalaman yang muncul dari kontak indra yang terjadi. Jika kita tidak memiliki niat untuk menjinakkan dan mengendalikan indra kita terhadap fenomena-fenomena yang dialami baik suka maupun duka, maka kondisi-kondisi buruk yang tak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan akan menyerang dan berakhir pada penderitaan.

4.Praktik menenangkan
Praktik menenangkan merupakan praktik  yang  sangat luhur yang diajarkan oleh Guru Agung Sang Buddha dengan cara berusaha menenangkan dan menaklukkan kotoran batin agar tidak berkembang biak di dalam diri kita serta tidak membiarkan diri kita diliputi, dicengkram oleh ketegangan-ketegangan dari pikiran-pikiran buruk, maka ketenangan dapat muncul secara alami. Samatha dan Vipassanā adalah kunci kita dalam menghadapi segala macam masalah di dunia ini. Dengan batin yang tenang dan terkonsentrasi, maka kebijaksanaan akan muncul sebagai hasil dari daya upaya. Tentu, praktik menenangkan yang luhur dan tinggi ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun tanpa tekad dan keinginan untuk berpraktik yang lebih tinggi, maka sulit bagi makhluk hidup untuk dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Dibaca : 1191 kali