x

TIDAK GENTAR TERHADAP KEMATIAN?

Dhamme ṭhito paralokaṁ na bhāye
Apabila teguh dalam Dhamma, tidaklah perlu takut dunia mendatang.
(Sagāthavagga, Saṁyutta Nikāya)

    DOWNLOAD AUDIO

Umumnya orang takut terhadap kematian. Mengapa orang takut terhadap kematian? Apakah hanya di jaman sekarang ini saja orang takut terhadap kematian? Bagaimana dengan orang di jaman dahulu? Ternyata sama saja baik di jaman sekarang mau pun di jaman dahulu. Hal ini dapat kita ketahui dari kisah “Brahmana Janussoni yang dijelaskan dalam Aṅguttara Nikāya IV.173.” Pada suatu ketika Brahmana Janussoni mendekati Sang Buddha dan menyapa Beliau demikian: “Tuan Gotama, saya mempertahankan dan memegang pandangan bahwa tidak ada orang yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.”

“Brahmana, memang ada orang yang takut akan kematian, tetapi juga ada orang yang tidak takut akan kematian, tidak gentar akan kematian. Dan siapakah orang yang takut akan kematian dan siapakah yang tidak takut akan kematian? “Brahmana, ada orang yang tidak bebas dari nafsu kesenangan indera, tidak bebas dari nafsu dan cinta terhadap kesenangan-kesenangan indera, tidak bebas dari kehausan dan kerinduan mengejarnya, tidak bebas dari nafsu keinginan terhadap kesenangan-kesenangan indera. Lalu ada penyakit serius yang menimpa dia. Karena terserang penyakit serius, dia berpikir: “Oh, kesenangan-kesenangan indera tercinta ini akan meninggalkan aku, dan aku terpaksa meninggalkan mereka!” Oleh karenanya dia bersedih hati, meratap, meraung-raung, menangis memukuli dadanya dan menjadi kacau. Orang inilah yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian.

“Selanjutnya, Brahmana, ada orang yang tidak bebas dari nafsu terhadap tubuh ini, tidak bebas dari nafsu dan cinta terhadap tubuh ini, tidak bebas dari kehausan dan kerinduan terhadapnya, tidak bebas dari nafsu keinginan terhadap tubuh. Lalu ada penyakit serius yang menimpa dia. Karena terserang penyakit serius, dia berpikir: “Oh, tubuh tercinta ini akan meninggalkan aku, dan aku terpaksa meninggalkannya.” Oleh karenanya dia bersedih hati dan menjadi kacau. Orang inilah yang takut akan kematian. 

“Selanjutnya, Brahmana, ada orang yang belum melakukan apa pun yang bajik dan bermanfaat, yang belum membuat perlindungan bagi dirinya sendiri; tetapi dia telah melakukan apa yang jahat, kejam dan buruk. Lalu ada penyakit serius yang menimpa dia. Karena terserang penyakit serius, dia berpikir: “Oh, aku belum melakukan apa pun yang bajik dan bermanfaat, aku belum membuat perlindungan bagi diriku sendiri; tetapi aku telah melakukan apa yang jahat, kejam dan buruk. Dari sini aku akan pergi ke tempat bagi mereka yang melakukan tindakan-tindakan semacam itu. “Oleh karenanya dia bersedih hati dan menjadi kacau. Orang ini juga yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian. “Selanjutnya, Brahmana, ada yang memiliki keraguan dan kebingungan tentang Dhamma yang baik dan belum sampai pada kepastiaan di dalamnya. Lalu ada penyakit serius yang menimpanya. Karena terserang penyakit serius, dia berpikir: “Oh, aku penuh keraguan dan kebingungan tentang Dhamma yang baik dan belum sampai pada kepastian di dalamnya!” Oleh karenanya dia bersedih hati, meratap, meraung-raung, menangis memukuli dadanya dan menjadi kacau. Orang inilah yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian.

“Brahmana, inilah empat jenis manusia yang takut akan kematian dan yang gentar akan kematian.
“Tetapi Brahmana, siapakah yang tidak takut akan kematian?

“Brahmana, ada orang yang bebas dari nafsu terhadap kesenangan indera, bebas dari nafsu dan cinta terhadapnya, bebas dari kehausan dan kerinduan mengejarnya, bebas dari nafsu keinginan terhadap kesenangan-kesenangan indera. Bila ada penyakit serius yang menimpanya, tidak ada buah pikir semacam ini yang datang kepadanya: “Oh, kesenangan-kesenangan indera tercinta ini akan meninggalkan aku, dan aku terpaksa meninggalkan mereka!” Oleh karenanya dia tidak bersedih hati, meratap, meraung-raung, menangis memukuli dadanya atau menjadi kacau. Orang inilah yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.

“Selanjutnya, Brahmana, ada orang yang bebas dari nafsu terhadap tubuh ini. Bila ada penyakit serius menimpanya, tidak ada pemikiran semacam ini yang datang padanya: “Oh, tubuh tercinta ini akan meninggalkan aku, dan aku terpaksa meninggalkannya.” Oleh karenanya dia tidak bersedih hati atau menjadi kacau. Orang ini juga yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.

“Selanjutnya, Brahmana, ada juga orang yang tidak melakukan apa pun yang jahat, kejam atau buruk, tetapi telah melakukan apa yang bajik dan bermanfaat, yang telah membuat perlindungan bagi dirinya sendiri. Bila ada penyakit serius yang menimpanya, pemikiran ini datang kepadanya: “Aku tidak melakukan apa pun yang jahat, kejam atau buruk, tetapi telah melakukan apa yang bajik dan bermanfaat, aku telah membuat pelindung bagi diriku sendiri. Dari sini aku akan pergi menuju tempat bagi mereka yang melakukan tindakan-tindakan semacam itu.” Oleh karenanya dia tidak bersedih hati atau menjadi kacau. Orang ini juga yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.

“Selanjutnya, Brahmana, ada orang yang tidak memiliki keraguan dan kebingungan tentang Dhamma yang baik dan telah memperoleh kepastian di dalamnya. Bila penyakit serius menimpanya, pikiran ini datang kepadanya: “Aku bebas dari keraguan dan kebingunan tentang Dhamma yang baik dan telah memperolah kepastian di dalamnya.” Oleh karenanya dia tidak bersedih hati, meratap, meraung-raung, menangis memukuli dadanya atau menjadi kacau. Orang ini yang tidak takut akan kematian, dan yang tidak gentar akan kematian. “Brahmana, inilah empat jenis manusia yang tidak takut akan kematian dan tidak gentar akan kematian.

Khotbah Sang Buddha ini menjelaskan kepada kita bahwa ada orang yang takut akan kematian, itu dikarenakan orang tersebut jauh dari pengetahuan Dhamma dan melakukan tindakan kejahatan sehingga sewaktu ia akan meninggal mengalami gemetar dan ketakutan. Karena itu marilah kita melaksanakan  Dhamma dengan ke-teguhan hati, semoga bisa terbebas dari ketakutan pada dunia mendatang.

Dibaca : 389 kali