x

PENJARA YANG MENGERIKAN

Anekajātisaṁsāraṁ sandhāvisaṁ anibbisaṁ 
Gahakāraṁ gavesanto dukkhā jāti punappunaṁ
“Dengan melalui banyak kelahiran, Aku telah mengembara dalam samsara
Terus mencari, namun tak menemukan pembuat rumah ini.
Sungguh menyakitkan kelahiran yang berulang-ulang”
(Dhammapada, 153)

    DOWNLOAD AUDIO

Latar Belakang
Penjara, atau bui satu kata yang sudah akrab di telinga kita. Hal ini karena kata penjara sering menghiasi berbagai media cetak atau elektronik. Penjara adalah sebuah bangunan tempat untuk mengurung orang yang dihukum dikarenakan melakukan tindakan kriminal atau kejahatan. Orang yang masuk penjara atau disebut tersangka akan dikurung dalam suatu bangunan dalam kurun waktu tertentu tergantung dari jenis kasus kriminal yang dilakukan tersangka.  Apakah nyaman tinggal di penjara? Jawabnya “Tidak”. Senyaman apapun seseorang hidup di Penjara pasti  menginginkan hidup bebas. Demikian pula kita mendambakan kebebasan dari penjara samsara yang tengah mengurung kita saat ini.   

Pembahasan Penjara 
Hampir semua orang tidak ingin dipenjara, hal ini karena penjara dapat membuat seseorang merasakan penderitaan. Seseorang masuk penjara akan merasakan dua penderitaan, yaitu penderitaan fisik dan mental. Seringkali beberapa media memberitakan adanya kasus kekerasan, penganiyayaan, pembunuhan, dan lain sebagainya  terjadi di dalam penjara. Ini penderitaan fisik. Sedangkan penderitaan mentalnya adalah jutuhnya harga diri, harus menanggung malu dicap sebagai orang jahat, orang tidak berguna, dan sampah masyarakat. Sungguh mengerikan hidup di penjara. Maka dari itulah semua orang berusaha berperilaku pantas demi menghindari penjara. 
Dikarenakan akibat perbuatan jahat membuat seseorang menderita maka Sang Buddha menganjurkan melatih sila atau kemoralan. Pelatihan kemoralan dapat mencegah seseorang berperilaku jahat sehingga terhindar dari hukuman yang dapat memenjarakannya. “Barang siapa membunuh makhluk hidup, suka berbicara tidak benar, mengambil apa yang tidak diberikan, merusak kesetiaan istri orang lain, atau menyerah pada minuman yang memabukkan; maka di dunia ini orang seperti itu bagaikan menggali kuburan bagi dirinya sendiri” (Dhammapada. 246-247).  Jadi seseorang harus berusaha menjaga sila atau moralitasnya agar terhindar dari hukuman penjara yang menyakitkan.  

Penjara yang Lebih Mengerikan

Penjara samsara
Penjara yang kita ketahui selama ini adalah mengerikan. Tetapi ada hukuman penjara yang lebih  mengerikan dari hukuman penjara yang ada di dunia ini, penjara itu adalah penjara samsara. Dikarenakan samsara inilah yang membuat semua makhluk bertumibal lahir di alam-alam kehidupan, dan mereka yang terlahir harus merasakan banyak dukkha dalam hidupnya yang menyakitkan seperti Sang Buddha nyatakan dalam kitab Dhammapada, 153 bahwa kehidupan samsara ini menyakitkan. Syairnya seperti demikian; “Dengan melalui banyak kelahiran aku telah mengembara dalam samsara. Terus mencari tetapi tidak menemukan pembuat rumah ini sungguh menyakitkan kehidupan yang berulang-ulang ini”. Maka dari itu penjara samsara lebih mengerikan dari penjara yang ada di dunia ini karena harus mengalami dukkha tanpa akhir.   

Penjara Tubuh
Penjara samsara membuat seseorang bertumbimbal lahir di berbagai alam kehidupan. Tetapi ada penjara yang harus dirasakan sebagai akibat dari penjara samsara yaitu penjara tubuh. Penjara inilah yang sebenarnya mengerikan dari semua penjara karena penjara tubuh akan membuat seseorang bukan saja merasakan penderitaan penjara dunia saja, tetapi juga penjara samsara. Tetapi jika seseorang berhasil  mengerti, memahami, dan menembus sifat sejati tubuh ini, maka penjara ini akan membebaskan seseorang dari semua penjara. Oleh karena itu Sang Buddha berpesan untuk terakhir kalinya agar tetap waspada karena apapun yang berbentuk adalah wajar mengalami kehancuran (DN. 16).   

Penutup
Kehidupan ini bagaikan penjara yang saat ini telah mengurung kita. Penjara kehidupan lebih mengerikan dari para penjara apapun di dunia ini karena penjara kehidupan yang memaksa seseorang merasakan dukkha. Mungkin seseorang bisa lolos dari penjara yang ada di dunia ini, tetapi sangat jarang sekali yang bisa lolos dari penjara kehidupan. Walaupun demikian, dengan ada cara terbebas dari penjara kehidupan yang telah dinyatakan Sang Buddha yaitu melaksankan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Itulah cara membebaskan diri dari penjara kehidupan.  (Maurice Walshe)
 
Referensi:
-Kitab Suci Dhammapada. 2012. Bahussutta socciety; Tanpa Kota Penerbit. 
-Walshe, Maurice. 2009. Khotbah-Khotbah Panjang Digha Nikaya. Dhammacitta Press; Tanpa Kota Penerbit.

Dibaca : 169 kali