x

Memperhatikan Diri Sendiri, Kemajuan Batin Ada Di Depan Mata

Na paresaṁ vilomāni, na paresaṁ katākataṁ
Attano va avekkheyya, katāni akātani ca
“Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan 
oleh orang lain. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang 
belum dikerjakan oleh diri sendiri”

    DOWNLOAD AUDIO

Pendahuluan
Fakta dan realita menunjukkan, sifat alamiah manusia cenderung mudah untuk menanggapi apa yang ada di luar dirinya, sehingga tidak jarang orang lain menjadi objek penilaian. Mereka yang diam, mereka yang berbicara, mereka yang melakukan ini, dan itu tidak lepas dari penilaian. Seakan kehidupan ini seperti ajang kontes, dimana ada pihak yang berperan sebagai kontestan dan pihak lain sebagai komentatornya. Oleh karena itu, tidak jarang yang terjadi selanjutnya adalah saling mencari kesalahan orang lain. Ini adalah suatu fenomena dan penyakit manusia dari zaman ke zaman. Jika hal ini terjadi, sesungguhnya tidak akan membawa kemajuan untuk kepentingan kualitas batin seseorang. Sebaliknya, hanya menghasilkan kesia-siaan belaka. Parahnya, hal ini justru membawa dampak buruk dalam hubungan seseorang dengan yang lainnya. 

Pembahasan
Sudah umum terjadi dalam masyarakat, seseorang dalam hubungannya dengan lingkungan selalu memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang lain. Begitu mudahnya kita menanggapi apa yang ada di luar diri kita. Apa yang sudah atau belum dikerjakan oleh orang lain. Dalam hidup, memang ini adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan. Meskipun demikian, sesungguhnya cara ini tidaklah terpuji menurut ajaran Sang Buddha. Sama halnya dengan kita selalu menuntut orang lain sesuai dengan kemauan kita. Jika kita selalu menuntut, menanggapi, mengomentari orang lain, tidak menutup kemungkinan yang ada di dalam benak kita adalah kebencian dan kemarahan saja. Tidak pernah ada perbaikan untuk diri sendiri.

Pikiran kita menyeret kita setiap saat. Sejak bangun pagi sampai ketika terlelap kembali, pikiran kita sibuk untuk memberikan tanggapan terhadap apa yang masuk melalui indra kita. Mata melihat, telinga mendengar, hidung mencium bau, kulit merasa/meraba sesuatu, maka pikiran memberikan tanggapan. Menggerakkan kita untuk mengucapkan atau melakukan ini dan itu. 

Diri Sendiri, Objek dan Subjek yang Dominan 
Salah satu kesulitan terbesar manusia adalah melihat ke dalam diri sendiri. Pada kebanyakan kasus, kita lebih mudah mengkritik orang lain, jarang sekali kita bisa mengintrospeksi diri kita sendiri. Kita seringkali mengomentari pihak lain sesuai dengan pola pikir kita. Secara tidak langsung, ini sama halnya kita ingin menuntut orang lain sesuai dengan apa yang pantas menurut sudut pandang kita. Namun, kita lalai untuk melihat ke dalam diri sendiri, lupa cara untuk memantaskan diri kita di mata orang lain. 
Satu hal yang seharusnya dipertimbangkan oleh setiap orang sebelum menilai orang lain, adalah bahwa diri sendiri pun juga tidak akan terlepas dari penilaian orang lain. Bagaimanapun pergerakan kita, sesungguhnya orang lain juga memperhatikan dan menilai. Jika diri sendiri belum baik, sangat berbahaya untuk terlalu memperhatikan baik atau buruknya orang lain. Maka dari itu, sebagaimana yang terdapat dalam Dhammapada; Atta Vagga 158, “Seseorang seharusnya melatih diri dalam kebajikan terlebih dahulu, barulah ia mengajarkan kepada orang lain. Orang bijaksana seperti itu tidak akan dicela.” Dengan demikian, daripada kita sibuk memperhatikan apa yang sudah atau belum dikerjakan oleh orang lain, lebih baik kita introspeksi apa yang sudah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. 
Salah satu khotbah Sang Buddha, Padhānasutta, AN. 4.69 dapat dijadikan acuan bagaimana seharusnya kita berupaya untuk memantaskan diri di mata orang lain. Ada empat macam usaha yang apabila dilakukan akan membawa pada kemajuan kualitas batin seseorang, yaitu: 
1) Usaha dengan mengendalikan 
2) Usaha dengan meninggalkan
3) Usaha dengan mengembangkan 
4) Usaha dengan melindungi
Demi kepentingan perkembangan kualitas batin kita, tentu setiap orang menginginkan menjadi diri sendiri pribadi yang lebih baik. Dalam hal ini, diri sendirilah yang memiliki peranan paling dominan. Manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Kebahagiaan, penderitaan, kemajuan, maupun kemerosotan, semuanya bergantung pada kemampuan diri sendiri. Seperti halnya ketika seseorang memiliki sebuah rumah dan menginginkan rumah tersebut terlihat lebih indah, lebih bagus, dan lebih menarik, rumah tersebutlah yang harus diperbaiki. Bukan rumah yang lain. Demikian pula, jika menginginkan perkembangan kualitas batin, maka yang harus diolah, diperbaiki, dan direnovasi adalah diri kita sendiri. Bukan orang lain. Oleh karena itu, lebih baik jika kita bisa memeriksa diri kita sendiri, mengolah dan memperbaikinya, lalu berusaha untuk melakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain. 

Pembinaan Diri Sendiri Sebagai yang Terpenting
Membina diri merupakan tugas kita sebagai umat Buddha. Membina diri adalah usaha untuk memerangi dan melenyapkan musuh-musuh di dalam diri kita, yaitu kotoran batin. Kita terlahir dengan kotoran batin yang mengakar dan berpotensi untuk muncul kapanpun dan dimanapun. Namanya kekotoran batin, tentu inilah yang menyeret kita pada keburukan. Hal-hal buruk yang seringkali kita lakukan, merupakan manifestasi dari keberadaan kotoran batin dala

Dibaca : 554 kali