x

AKHIR DARI SEMUA DUKKHA

Atthampi jātamhi sukhā sahāyā, tuṭṭhī sukhā yā itarītarena
Puññaṁ sukhaṁ jīvitasaṅkhayamhi, sabbassa dukkhassa sukhaṁ pahānaṁ
Ketika timbul suatu pengharapan, para sahabat mendatangkan kebahagiaan.
Mendatangkan kebahagiaan, berpuas dengan seadanya.
Ketika ajal tiba, kebajikan mendatangkan kebahagiaan.
Mendatangkan kebahagiaan, pelenyap segala derita
(Nāgavaggo, Dhammapada, syair 331)

    DOWNLOAD AUDIO

Semua makhluk sepanjang waktu hidupnya mencari sesuatu pengalaman yang akan mendatangkan ‘pengharapan’ ataupun ‘kebahagiaan’. Pada masa lampau, pencarian setiap makhluk hidup di bumi ini bertujuan demi tercapainya tujuan yang sama yaitu ‘kapan saya bisa bahagia?’ Sementara, di kehidupan saat ini, kita dapat menyadari bahwa diri kita sendiri ataupun makhluk lain selalu mendambakan kebahagiaan melalui pemuasan keinginan-keinginan maupun perasaan-perasaan yang menyenangkan yang kita cari dan alami sendiri. Bahkan, di masa mendatang pun, siapa yang dapat menyangkal bahwa kita akan mencari harta yang paling sulit diraih yaitu ‘kapan saya bahagia serta terbebas dari segala bentuk ketidakpuasan yang masih belum saya capai?’.

Pertanyaan seperti ini merupakan pencarian yang paling mendasar dari setiap makhluk hidup khususnya kita yang terlahir sebagai manusia. Kita selalu berharap mendambakan hal-hal yang menyenangkan, dan pada saat yang sama berharap untuk terhindar dari yang tidak menyenangkan maupun yang tidak mengenakkan pikiran kita. Apa yang kita harapkan untuk mengalami selama mungkin inilah yang disebut ‘sukha’ diterjemahkan sebagai ‘kebahagiaan’ yang pada dasarnya terbentuk dari perasaan-perasaan yang menyenangi pikiran maupun tubuh. Apa yang dihindari oleh semua makhluk adalah beragam pengalaman hidup yang menyakitkan ataupun tidak diinginkan bersifat mental maupun fisik yang disebut dukkhā.

Oleh karenanya, kata ini yang selalu mencakup pengalaman hidup kita secara luas. Semua yang tidak memuaskan dalam satu pengalaman kehidupan, dalam perenungan Dhamma Sang Buddha selalu mengajarkan terhadap semua orang bahwa “jātipi dukkhā, jarāpi dukkhā, byādhi pi dukkhā, maraṇaṃ pi dukkhaṃ: soka-parideva-dukkhā-domanass-upāyāsā pi dukkhā, appiyehi sampayogo dukkho, piyehi vippayogo dukkho, yamp’icchaṃ na labbhati tampi dukkhāṃ: saṅkhittena pañcupadānakkhandā dukkhā”.

Arti perenungan tersebut ialah “Kelahiran adalah dukkhā, pelapukan adalah dukkhā, penyakit adalah dukkhā, kematian adalah dukkhā, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, duka cita, dan keputusasaan adalah dukkhā. Berkumpul dengan yang tidak disukai adalah dukkhā. Perpisahan dengan yang disukai adalah dukkhā, tidak mendapatkan yang diinginkan adalah dukkhā, secara singkat, kelima kelompok yang dilekati adalah dukkhā”. Di sini secara pengalaman kehidupan kita, ketika seseorang ingin menghindari atau mengatasi seorang musuh tentunya dia perlu mengetahui seperti apa rūpa orang tersebut, seperti apa ciri-cirinya. Sama halnya seperti dukkhā, di mana adanya kebahagiaan terhadap diri kita karena adanya pemuasan terhadap perasaan yang menyenangkan.

Ācariya Buddhaghosa mengatakan “perasaan yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan haruslah dicatat, mengapa harus dicatat? Karena penderitaan terhadap tubuh memiliki ciri dalam mengalami hal fisik yang tidak diinginkan (phoṭṭhabha). Penderitaan terhadap tubuh diartikan sebagai derita fisik yang mengalami objek yang tidak diinginkan dari kesadaran (ārammaṅa). Sedangkan, rasa sakit terhadap tubuh akan selalu menimbulkan penderitaan mental yang bersifat menyusahkan pikiran. Karenanya, penderitaan tersebut haruslah disadari di setiap awal membuka mata sebelum mulai beraktivitas.

Setiap kita memulai membuka mata di waktu terbangun, renungkanlah “mengapa saya harus mempunyai musuh terhadap pemikiran saya?” atau pahamilah kehidupan kita saat ini sukar untuk bertahan dalam kondisi bahagia, “mengapa saya harus membawa beban rasa sakit maupun kecewa yang berlebihan sehingga membuat batin ini mengalami ketidakpuasan yang luar biasa?” Oleh sebab itu, Sang Buddha mengatakan dalam Sammādiṭṭhi Sutta (Sutta Pandangan Benar): “Ketika siswa mulia telah memahami yang tidak bermanfaat merupakan akar dari yang tidak ber-manfaat, yang bermanfaat merupakan akar dari yang bermanfaat”.

Perenungan kalimat tersebut ialah ketika diri sendiri telah memahami dan menyadari membunuh makhluk hidup adalah tidak bermanfaat, mengambil apa yang tidak diberikan adalah tidak bermanfaat, berperilaku salah dalam kenikmatan indria adalah tidak bermanfaat, kebohongan adalah tidak bermanfaat, mengucapkan fitnah adalah tidak bermanfaat, berkata kasar adalah tidak bermanfaat, bergosip adalah tidak bermanfaat, bersifat tamak dan iri hati adalah tidak bermanfaat, permusuhan adalah tidak bermanfaat, pandangan salah adalah tidak bermanfaat.

Kemudian Sang Buddha menerangkan kembali, “Seorang siswa mulia yang telah memahami yang tidak bermanfaat akar dari yang tidak bermanfaat, yang bermanfaat akar dari yang bermanfaat sepatutnya meninggalkan kecenderungan yang tersembunyi pada nafsu, ia akan menghapus kecenderungan yang tersembunyi pada penolakan, dan seutuhnya ia akan memadamkan kecenderungan tersembunyi pada pandangan keangkuhan tentang “aku”. Maka, dengan meninggalkan ketidaktahuan inilah, Sang Buddha mengajarkan para siswanya untuk membangkitkan pengetahuan sejati di sini dan saat ini untuk mengakhiri penderitaan.
Dengan cara tersebut seorang siswa mulia mempun

Dibaca : 2239 kali