x

PERAN SAṀVEGA DALAM PRAKTIK DHAMMA


    DOWNLOAD AUDIO

Saṁvega berasal dari kata Saṁ+Vij yang berarti tergerak atau agitasi, kekhawatiran, ketakutan, rasa takut, kegelisahan, getaran hati, emosi spiritual (Rhys, 1993: 658). Saṁvega di sini adalah yang membawa kemajuan pada batin dan mengembangkan kehidupan spiritual yang diperoleh melalui penembusan Dhamma. Dengan saṁvega yang muncul di dalam batin, akan lebih memacu seseorang untuk melaksanakan Dhamma. Bahkan hal ini sangat baik untuk ditumbuhkembangkan dan dipertahankan agar perkembangan spiritual menjadi semakin maju. 

Emosi spiritual dapat muncul melalui perenungan-perenungan yang dilakukan sehingga dapat melihat dan memahami dengan benar tentang sebab-sebab dari penderitaan. Sebagaimana di dalam Mahāhatthipadopama Sutta (Bodhi, 28: 575), dengan adanya lima kelompok kehidupan yang dipengaruhi oleh kemelekatan adalah penyebab penderitaan, yaitu bentuk materi, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan, kesadaran, dan bentuk-bentuk materi yang juga menyebabkan kemelekatan adalah elemen tanah, air, udara, dan api. Karena melihat bahaya-bahaya dari kemelekatan batin akan semakin tergerak untuk dapat terbebas dari kemelekatan. 

Dalam kehidupan, kematian merupakan hal yang sangat ditakuti oleh banyak orang. Seringkali mata seseorang buta akan kebenaran yang tak terbantahkan, bahwa kematian bisa datang kapan saja dan semua orang akan mengalaminya. Dalam menumbuhkan saṁvega, apabila seseorang melihat kematian dapat merenungkannya, sekarangkah hari ajalku? Siapkah aku? Sudahkah aku mengerjakan segala sesuatu yang semestinya kuperbuat? Apakah aku telah menjadi seperti yang telah kukehendaki? (Chuang, 2012:39). Dengan demikian tidak akan ada rasa takut untuk menghadapi kematian dan dapat menggugah kesadaran. 

Untuk hal yang lebih tinggi, perenungan pada kematian ketika dikembangkan dan dilatih akan berbuah dan bermanfaat besar dengan puncak tanpa adanya kematian (Bodhi, AN. 2015:). Dalam sutta yang sama Sang Buddha juga memberitahukan cara untuk merenungkan kematian dengan berpikir ‘semoga aku dapat hidup selama sehari semalam sehingga bisa menekuni ajaran Sang Bhagava dan berhasil sejauh itu’.

Saṁvega juga dapat tumbuh melalui perenungan anicca, seperti disebutkan di dalam (Bodhi, AN. 2015: 13-14) dikatakan dengan merenungkan ketidakkekalan (anicca) secara terus-menerus, konstan, memahami dengan kebijaksanaan akan memperoleh pengetahuan langsung serta dapat merealisasikan Nibbāna. Di dalam Paṭisambhidāmagga (Indra 2008: 327-329) dikatakan lima gugus indra adalah ketidakkekalan dan dalam pengertian timbul dan lenyap. Sebab, bagi seseorang yang merenungkan hukum anicca dan mampu memahami-nya akan dapat melihat dukkha dan anatta, sehingga batin seseorang akan tergerak untuk lebih intensif dalam mempraktikkan Dhamma.

Dalam Khemakaseti putta vatthu (DpA, 309-310: 433-434) Sang Buddha menjelaskan kepada Khemaka tentang keburukan dan bahaya dari perbuatan asusila, yaitu menerima akibat buruk, tidur tidak tenang, namanya tercela, setelah meninggal akan terlahir di neraka dan apabila terlahir di alam manusia akan terlahir sebagai manusia yang rendah.  Setelah uraian ini berakhir Khemaka mencapai tingkat kesucian Sotāpatti. Dengan melihat bahaya-bahaya yang timbul dari perbuatan buruk yang dilakukan dan takut akan akibat yang ditimbulkan saṁvega menjadi muncul. 

Selain itu juga dalam Saṁyutta Nikāya (Bodhi, 2009: 1636) Sang Buddha memberikan  sebuah perumpamaan yang dimana saṁvega bisa muncul dikarenakan rasa takut yang disebabkan karena adanya bahaya yang sedang mengincar, sehingga muncul dorongan untuk menyelamatkan diri mencari tempat yang aman dan terhindar dari bahaya, sebagai berikut:

“Ketika sang singa, raja para binatang buas mengaum, binatang apapun yang mendengar suara itu akan dipenuhi ketakutan, dipenuhi rasa kemendesakan, dan teror. Mereka yang hidup di lubang masuk ke lubang; mereka yang hidup di air masuk ke dalam air; mereka yang hidup di hutan masuk ke dalam hutan; dan burung-burungpun terbang ke udara. Bahkan gajah-gajah jantan kerajaan yang terikat merenggut dan mematahkan ikatannya sampai tercerai berai; karena ketakutan, terkencing-kencing dan berhamburan kesana-kemari”

Dalam menghadapi rasa takut yang muncul ketika berada dimanapun, Sang Buddha menyarankan kepada para siswanya untuk selalu mengingat Buddha, Dhamma, dan Saṅgha serta merenungkan sifat-sifat bajik dan keagungannya maka ketakutan, kegelisah-an atau teror apapun yang dirasakan akan hilang (Bodhi, SN. 2007: 810-813). 

Tidak hanya itu, bagi seseorang yang belum memiliki keyakinan terhadap Tiratana setelah mendengar Dhamma keyakinan akan dapat tumbuh dan bagi mereka yang telah memiliki keyakinan akan semakin kuat. Keyakinan yang tumbuh disebabkan oleh emosi spiritual yang muncul di dalam diri karena melihat Dhamma yang indah pada awalnya, pertengahannya dan akhirnya. 

Referensi:
-Rhys, T.W. Davis, William Stede. Pāli English Dictionary. Delhi: Motilal Bandarsidass Publisher Private Limited. 1993.
-Bhikkhu Bodhi. Majjhima Nikāya
- Aṅguttara Nikāya Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha. Jakarta Barat: Dhamma Citta Press. 2015.
- Bodhi. Kitab Suci Agama Buddha Saṁyutta Nikāya. Wena Cintiawati, Endang Widyawati, Lanny Anggawati (Penerjemah). Klaten:Vihāra Bodhiwaṁsa dan Wisma Dhammaguna. 2010.
- Tim Penerjemah Vidyasena. Dhammapada Atthakathā Kisah-kisah Dhammapada, “The Dhammapada Verses and Stories”. Yogyakarta: Vidyasena. 1997.
- Anggara, Indra. Suttapiṭaka Khuddakanikāya Paṭisambhidāmagga. Medan: Indonesia Tipitaka Center (ITC). 2009.


Dibaca : 1365 kali