x

Kebajikan Buddha Sumber Inspirasi

Na bhaje pāpake mitte, na bhaje purisādhame
Bhajetha mitte kalyāne, bhajetha purisuttame.
Tak sepatutnya bergaul dengan teman-teman nista; tak sepatutnya bergaul 
dengan orang-orang durjana. Bergaullah dengan teman-teman baik, 
bergaullah dengan orang-orang mulia.
(Dhammapada, syair 78) 

    DOWNLOAD AUDIO

Kisah kehidupan Sang Buddha Gotama yang sarat dengan nilai-nilai kebajikan direkam oleh para siswa dalam berbagai macam cara, yakni seni maupun budaya, yang hingga kini menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk menjalani kehidupan yang penuh makna.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran Beliau tampaknya tidak lekang oleh waktu, berlangsung sepanjang zaman dari generasi ke generasi. Para bhikkhu saṅgha adalah siswa-siswa Sang Buddha yang menjadi pewaris ajaran, dengan sepenuh kehidupannya dijalankan untuk tujuan pasti yaitu terbebas dari duka, selebihnya menjalankan kewajiban untuk membimbing perumah tangga untuk tetap di jalan Dhamma. Ada 6 kewajiban para bhikkhu kepada perumah tangga, yaitu:
-Mencegah berbuat buruk
-Menganjurkan berbuat baik
-Menyayanginya dengan pikiran penuh cinta kasih
-Mengajarkan kebenaran yang belum pernah didengar
-Menjelaskan kebenaran supaya lebih yakin
-Menunjukkan jalan kebahagiaan surga

Kebijaksanaan Beliau dalam memberikan solusi pada setiap permasalahan yang terjadi patut dijadikan teladan, karena tanpa ada pihak yang merasa tertindas, terlukai, dan rugi.  Hingga saat ini ajaran Beliau bisa diterima oleh siapa pun yang dengan pikiran terbuka ingin belajar menghayati tentang makna hidup, kearifan, kebijaksanaan yang membawa pada keselarasan, kebahagiaan, dan keharmonisan, dalam kehidupan.

Para siswa Sang Buddha yang menginginkan kehidupan harmonis hendaknya berupaya mempelajari Dhamma serta mengamalkannya dalam setiap waktu kehidupannya. Beberapa hal dari Beliau yang bisa dijadikan teladan adalah:
-Kebajikan
Dalam setiap kehidupan-Nya selalu diisi dengan kebajikan demi kesempurnaan Parami. Pada umumnya setiap orang menginginkan fisik yang rupawan.
Menurut Beliau, penampakan fisik-Nya yang sempurna adalah buah dari kebajikan yang telah dilakukannya pada masa lampau. Keberhasilan dapat dicapai apabila seseorang berupaya secara penuh dan ditunjang dengan kebajikan. Bahkan pencapaian kebahagiaan tertinggi, Nibbāna juga ditunjang oleh kebajikan. Dikatakan, kebajikan merupakan harta tertinggi bagi setiap orang dan sebagai bekal untuk kehidupan-kehidupan mendatang.
-Welas asih
Sang Buddha dalam mengajarkan tata cara hidup kepada para siswa patut diteladani. Bahkan ketika ada seseorang berbuat buruk kepada kita, hendaknya tidak membalasnya dengan keburukan, tidak membiarkan rasa benci dan dendam membakar diri. Sesuai hukum yang berlaku, kebencian tidak akan pernah berakhir jika dibalas dengan kebencian, tetapi ia akan mereda jika tidak balas membenci. Alih-alih mengembangkan welas asih kepada orang yang berusaha menyakiti kita.
-Ingat budi baik orang/tahu terima kasih
Beliau memposisikan Ibu dan Ayah sebagai makhluk pertama yang patut mendapatkan penghormatan karena jasa-jasa kebajikannya yang tak terukur. Lebih luas mengembangkan rasa hormat itu kepada guru, orangtua, serta semua orang yang memiliki budi baik. Begitulah hendaknya, seseorang patut mengembangkan rasa tahu terima kasih terhadap budi baik orang.
-Pengendalian sikap dan perilaku
Sang Buddha juga memahami bahwa akar dari sebuah konflik bisa berasal dari ucapan dan juga tindakan yang keliru sehingga Beliau menegaskan pentingnya pengendalian diri. Segala sesuatu harus dipikirkan sisi bahaya dan sisi manfaatnya. Apabila suatu ucapan dan tindakan itu memberikan manfaat untuk diri sendiri, orang lain serta lingkungan, patutlah dilakukan. Tetapi jika menimbulkan kerugian, dukacita terutama bagi pihak lain sebaiknya hal tersebut dihindari. 
Dalam ajaran-Nya, Beliau juga menekankan akan pentingnya menjaga moralitas karena melalui pelaksanaan moralitas itu kehidupan seseorang akan meningkat ke tahap yang mulia, menimbulkan rasa aman, harmonis antara diri sendiri maupun pihak lain.
-Kebijaksanaan
Selain kebajikan dan pengendalian diri, Beliau juga menekankan pentingnya kebijaksanaan atau kematangan dalam berpikir sebagai buah dari pengalaman hidup. Hal ini bisa dicapai dengan menggali makna Dhamma, yaitu mempelajari teori, merenungkannya secara mendalam, sehingga berkembanglah nilai-nilai luhur karena berhasil memahami sifat-sifat kehidupan sebagaimana adanya.
Dengan mengamalkan ajaran Sang Buddha membuat batin semakin tumbuh dewasa dalam memaknai setiap sisi kehidupan, menjadi percaya diri karena hidup semakin bermakna jika bisa memberikan manfaat bagi pihak lain. Lebih daripada itu bisa menginspirasi orang lain untuk berbuat kebajikan meski dalam bentuk yang berbeda. 
Inilah sebagian kecil pengertian dalam memaknai kehidupan, semoga tulisan ini menjadi kebaikan-kebaikan kecil yang menginspirasi. 

Dibaca : 1507 kali