x

PRINSIP-PRINSIP KESTABILAN SOSIAL

“Susukhaṁ vata jīvāma, verinesu averino. 
Verinesu manussesu, viharāma averino.”
Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci.
Di antara orang-orang yang membenci, kita hidup tanpa membenci.

(Dhammapada: 197)

    DOWNLOAD AUDIO

Kehidupan manusia yang tidak pernah lepas dari kehidupan sosial, adalah kenyataan yang paling dekat. Prinsip kemasyarakatan yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang artinya bahwa setiap hubungan yang terjadi pada manusia, selalu disertai dengan nilai-nilai sosial. 

Kegiatan bersosialisasi yang dilakukan oleh setiap orang, tentunya diwarnai dengan keanekaragaman, perbedaan, dan hal lainnya yang berkenaan dengan dualisme. Ketika hubungan sosial itu terbangun, atau berlangsung, ada dua kemungkinan dampak yang ditimbulkan. Dampak positif atau baik adalah terjadinya pertukaran informasi dan pengetahuan, sedangkan dampak tidak baiknya atau negatif adalah semakin jelas perbedaan yang ada, munculnya partisi-partisi atau sekat-sekat kecil dalam lingkungan sosial. 

Keseimbangan yang diinginkan dari proses sosial adalah suatu kerinduan yang didambakan oleh setiap orang, di mana hubungan itu terjalin harmonis dan damai. Saat hubungan itu berlangsung harmonis dan damai, itulah yang dikatakan sebagai kestabilan sosial. 

Buddha berkata dalam Mahaparinibbāna Sutta, Dῑghanikāya, Sutta ke 16, tentang kestabilan sosial. Berlatar belakangkan kisah Raja Ajātasattu dari Magadha, yang berniat menyerang kaum Vajji. Saat sebelum menyerang kaum Vajji, Raja Ajātasattu mengutus perdana menterinya bernama Brahmana Vassakāra, untuk pergi menemui Buddha yang saat itu sedang berada di Rajagaha di Puncak Burung Nasar. Saat Brahmana Vassakāra bertemu dan bertukar sapa dengan Buddha, Buddha kemudian bertanya tentang suatu hal kepada YA. Ānanda yang berada di belakang Buddha, dan terjadilah percakapan yang didengarkan oleh Brahmana Vassakāra. Percakapan ini berisi tentang tujuh prinsip kestabilan sosial bagi suatu masyarakat atau negara. Dari percakapan ini, kemudian Raja Ajātasattu tidak jadi menyerang bangsa Vajji.

Tujuh hal mengenai prinsip-prinsip kestablian sosial (Aparihāniyā Dhamma) tersebut adalah:
1.Sering mengadakan pertemuan;
2.Bertemu, berkumpul, dan melaksanakan tugas dengan damai;
3.Tidak menetapkan apa yang belum ditetapkan, dan tidak meniadakan apa yang sudah ditetapkan; melainkan meneruskan apa yang sudah ditetapkan;
4.Menghormati, menghargai, dan memuliakan para tetua;
5.Tidak menjadi mangsa dari keinginan yang muncul dari dalam diri sendiri;
6.Menghormati dan menghargai, serta memuliakan para leluhur yang telah meninggal;
7.Senantiasa berbagi dan melakukan persembahan pada orang-orang yang layak.
Itulah tujuh hal yang menimbulkan kestabilan sosial, atau dikatakan juga dalam uraian lain sebagai tujuh syarat kesejahteraan bangsa. Tujuh hal tersebutlah yang membuat Brahmana Vassakāra merasa yakin bahwa kaum Vajji tidak dapat dikalahkan oleh Raja Ajātasattu dengan kekuatan senjata. Demikianlah para kaum Vajji hidup dengan kestabilan sosial, kemakmuran, dan ketidakmunduran. Hal serupa juga, yang akan kita peroleh jika tujuh hal tersebut kita terapkan dalam kehidupan ini.

Dibaca : 681 kali