x

GAYA HIDUP

Yassa accantadussῑlyaṁ, māluvā sālamivothataṁ
Karoti so tathattānaṁ, yathā naṁ icchatῑ diso
“Orang yang berkelakuan buruk adalah seperti tanaman menjalar meluva yang melilit pohon sala. Ia akan terjerumus sendiri, 
seperti apa yang diharapkan musuhnya” 
(Dhammapada 162)

    DOWNLOAD AUDIO

Latar Belakang
Gaya hidup sering dikaitkan dengan kekayaan, kemewahan, keglamoran, kesombongan dan keangkuhan seseorang atau singkatnya gaya hidup adalah aib seseorang. Sehingga, banyak yang beranggapan buruk terhadap gaya hidup. Sebenarnya gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya. Gaya hidup  seseorang tercermin dari caranya menghabiskan waktu, ketertarikan pada sesuatu yang dirasa pantas dengan dirinya dan berdasarkan penilaian orang lain tentang dirinya. Tidak benar jika gaya hidup adalah sesuatu yang buruk, bahkan sebaliknya gaya hidup merupakan hal yang sangat penting karena berhubungan dengan siapa diri kita, apa yang harus dilakukan, dan tujuan yang ingin dicapai.

Pembahasan
Gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang diekspresikan ke dalam aktivitas, minat, dan opini untuk menunjukkan status sosialnya. Dalam pandangan Buddhis melaksanakan gaya hidup bukan sekedar untuk meraih status sosial sebagai pribadi tertentu, tetapi gaya hidup sebenarnya bertujuan untuk mengakhiri dukkha atau membebaskan diri dari lingkaran samsara sehingga tidak mengalami lagi kelahiran, ketuaan, kesakitan, dan kematian. 
Dewasa ini, gaya hidup manusia semakin hedonis yang mana kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Sebenarnya ada gaya hidup asketis yang mengutamakan spiritual, akan tetapi saat ini kurang diminati. Gaya hidup hedonis apabila tidak di-kendalikan dengan baik, maka akan membuat seseorang banyak mengalami dukkha. Dalam Alagaddūpama Sutta, Sang Buddha mengatakan bahwa kesenangan indera hanya memberikan sedikit kepuasan, banyak penderitaan, keputusasaan dan lebih banyak bahaya di dalamnya.
Karena kondisi dunia adalah sifatnya anicca, begitu pula kesenangan inderawi akan mengalami perubahan dan tergantikan dengan yang lainnya. Tidak selamanya seseorang untung, suatu saat pasti mengalami kerugian, tidak selamanya seseorang dipuji, tetapi suatu saat pasti mengalami celaan, dan tidak selamanya seseorang senang, suatu saat pasti mengalami rasa sakit. Dalam Aṅguttara Nikāya IV, Buddha mengatakan hidup di dunia ini terkena aṭṭhalokadhamma (delapan kondisi dunia) yang terus menjaga dunia ini. Mereka yang memiliki gaya hidup hedonis akan sangat menderita karena tidak bisa menerima adanya penderitaan atau dukkha. Terlebih lagi mereka yang tidak mengetahui hukum kamma dan punabbhavā (tumimbal lahir) sebagai jalan dari kehidupan selanjutnya setelah kematian.     

Jalur Kehidupan
Jalur kehidupan ini ada dua yaitu pakati magga (jalur materi) dan paṭipadā magga (jalan pelenyapan). Pakati magga adalah jalur kehidupan yang saat ini dijalani di kehidupan ini sebagai manusia. Sedangkan paṭipadā magga adalah jalur kehidupan yang ada di dalam batin tetapi tidak terlihat. Karena jalan ini tidak bisa dilihat dengan mata, maka jalan ini sering dilupakan. Saat seseorang telah melupakan jalan ini, maka hidupnya akan penuh dengan berbagai rintangan. Paṭipadā magga ini yang bertugas meneruskan kehidupan selanjutnya, jadi perannya sangat penting sekali. Namun demikian, antara pakati magga dan paṭipadā magga saling bertalian, hal ini karena sebelum seseorang memasuki paṭipadā magga (Nibbāna), seseorang haruslah melalui pakati magga. Apabila dalam menjalani kehidupan pakati magga tidak benar, maka terhambat pula jalan menuju paṭipadā magga. Begitu pula apabila menjalani kehidupan pakati magga dengan benar, maka jalan menuju paṭipadā magga tidak terhambat. Maka dari itu jalur kehidupan ini sangat penting untuk diketahui. 
 
Gaya Hidup Pabbajjita  
Karena adanya jalur kehidupan tersebut Sang Buddha telah mengemas suatu gaya hidup yang mengkondisikan seseorang untuk menapaki paṭipadā magga guna mengakhiri dukkha, yaitu gaya hidup pabbajjita. Kehidupan pabbajjita merupakan pola hidup ideal menurut Sang Buddha. Maka dari itu Beliau memberikan perhatian dan tata kehidupan khusus yang mendukung pencapaian pembebasan. Perhatian dan tata kehidupan khusus tersebut terdapat di dalam Vinaya Piṭaka dimulai dari peraturan-peraturan dan cara hidup sebagai seorang pabbajjita, kebiasaan-kebiasaan, tata cara bersantap, bersikap di masyarakat, berpenampilan hingga berbusana. Di dalam Samaññaphala Sutta, pola hidup ini dibuat semata-mata bertujuan untuk mencapai perealisasian Nibbāna termasuk juga buah-buah kebahagiaan lainnya saat seseorang menjadi seorang bhikkhu.
Walaupun gaya hidup pabbajjita adalah yang ideal bagi Sang Buddha, tetapi Beliau memahami bahwa tidak semua orang memiliki ketertarikan mengabdikan diri mereka menjadi seorang pabbajjita. Maka dari itu Sang Buddha memberikan tuntunan atau latihan yang bertingkat, setahap demi setahap agar seseorang juga bisa menapaki paṭipadā magga atau setidaknya tidak bertumimbal lahir di alam menyedihkan. Latihan tersebut di antaranya pañcasῑla (lima aturan kemoralan), aṭṭhasῑla (delapan latihan kemoralan), dan uposathasῑla (latihan aṭṭhasῑla pada saat bulan purnama). 
Dalam Sigalaka Sutta Sang Buddha bahkan memberikan tuntunan sampai menyentuh cara mengatur ekonomi yang ideal. Sang Buddha menyarankan kepada pemuda Sigala agar mengatur penghasilannya menjadi tiga bagian yaitu untuk kebutuhan sendiri, modal usaha, dan keadaan darurat. Inilah gaya hidup bertingkat yang diberikan Sang Buddha kepada umat awam sebagai cara untuk mengendalikan dan menyeimbangkan kehidupan.

Penutup
Gaya hidup bukan sekedar pertunjukan kekayaan, kemewahan, keglamoran, atau kesombongan, tetapi gaya hidup adalah pola hidup atau cara hidup yang digunakan untuk mencapai tujuan. Tercapainya tujuan tergantung pada gaya hidup yang dijalani. Gaya hidup yang ideal adalah gaya hidup yang tidak mengandung risiko apapun seperti gaya hidup yang dianjurkan Sang Buddha.   

Referensi
-Boddhi, Bhikkhu. 2012. Aṅguttara Nikāya. Tanpa kota: Dhammacitta Press.
-Boddhi, Bhikkhu. 2011. Kumpulan Khotbah Sang Buddha. Tanpa kota: Dhammacitta Press.
-Majjhima Nikāya. 2012. Dhammacitta press.
-Santacitto, Bhikkhu. Tanpa tanggal.  Jalan Masuk Ke Vinaya. Jakarta: Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya.
-Wales, maurice. 2009. Digha Nikāya. Terjemahan oleh; Tim Giri Manggala Publication & Dhammacitta Pres. Dhammacitta Press.
-Kitab Suci Dhammapada. 2011. Tanpa kota: Bahussuta Society

Dibaca : 221 kali