x

SEJUMPUT BERKAH DALAM KEHIDUPAN

Asevanā ca bālānaṁ, paṇḍitānañca sevanā 
 Pūjā ca pūjanῑyānaṁ, etammaṅgalamuttamaṁ’ti. 
Tak bergaul dengan orang-orang dungu, bergaul dengan para bijaksanawan
Dan menghormat yang patut dihormat, itulah berkah utama.
(Maṅgala Sutta) 

    DOWNLOAD AUDIO

Maṅgala Sutta merupakan salah satu sutta yang terdapat dalam Sutta Nipāta dan Khuddakapāṭha. Dalam Sutta Nipāta disebut sebagai Mahā Maṅgala Sutta, sedangkan dalam Khuddakapāṭha disebut Maṅgala Sutta saja. Keduanya merupakan sutta yang sama. 

Maṅgala Sutta cukup populer di negara-negara Buddhis. Biasa dibaca ketika puja bakti maupun dalam upacara untuk memperoleh berkah. Dalam Maṅgala Sutta terdapat 38 jenis berkah yang diuraikan dalam bentuk syair dan disusun secara komperhensif. Poin-poin berkah tersebut dapat pula dijadikan sebagai panduan hidup yang sesuai dengan Etika Buddhis. 

Latar belakang Maṅgala Sutta
Kata ‘Maṅgala’ berarti ‘berkah’, ‘tanda keberuntungan’ atau ‘pertanda baik’. Di India kuno pada waktu itu, para dewa dan manusia memperbincangkan tentang berkah utama yang dapat memberikan kebahagiaan bagi mereka. Selama dua belas tahun mereka berdebat dan berdiskusi. Beberapa di antara mereka berpendapat bahwa ‘berkah’ adalah hal yang menyenangkan bagi indra mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh jasmani. Meski demikian, selama kurun waktu tersebut mereka tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Lalu, para dewa di alam Tavatiṁsa mendatangi Dewa Sakka, raja para dewa, untuk mencari titik terang. Dewa Sakka menyarankan mereka untuk bertanya kepada Sang Buddha. Menuruti nasihat dari Dewa Sakka tersebut, lantas sesosok dewa datang menemui Sang Buddha pada malam hari di Jetavana. Dewa tersebut kemudian bertanya pada Sang Buddha melalui syair berikut: ‘Banyak dewa dan manusia yang mengharapkan kebahagiaan, mempersoalkan tentang berkah. Mohon uraikan, apa berkah utama itu’?

Sang Buddha kemudian menjawab pertanyaan dewa tersebut. Jawaban yang diberikan oleh Sang Buddha pada waktu itu kemudian dikenal sebagai Maṅgala Sutta, khotbah tentang tiga puluh delapan berkah utama. Selanjutnya akan diuraikan tiga berkah awal yang terdapat dalam Maṅgala Sutta sebagai berikut.

Tak bergaul dengan orang-orang dungu
Tiga puluh delapan berkah diawali dengan ‘tidak bergaul dengan orang-orang dungu’.  Perlu dipahami di sini, yang dimaksud dungu bukan berarti mereka yang tidak cerdas, bodoh secara akademik, atau tidak berpendidikan. Istilah ‘bāla’ disini lebih mengacu kepada ‘orang yang tidak bijaksana’, kebalikan dari ‘paṇḍita’ atau ‘orang bijaksana’. 

Mereka yang tidak bijaksana biasanya memiliki batin yang tidak berkembang, memiliki perangai yang kasar, pembuat masalah, dan cenderung memberikan pengaruh yang tidak baik. Mereka tidak bisa membedakan mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk, mereka juga tidak peduli pada ajaran kebenaran, serta tidak mengindahkan risiko atau konsekuensi dari suatu perbuatan yang dilakukan. 

Bergaul dengan orang yang tidak bijak bisa jadi merugikan dan dapat mengantarkan pada penderitaan. Menyeret orang baik kepada masalah dan bahaya. Salah satu contohnya adalah ketika Bhikkhu Devadatta menyeret pangeran Ajātasattu ke neraka dengan menghasutnya untuk membunuh ayah kandungnya sendiri.

Bergaul dengan para bijaksanawan
Kata ‘paṇḍita’ secara singkat dapat diartikan sebagai ‘orang bijaksana’. Orang bijaksana adalah mereka yang terpelajar, terlatih, berpengalaman, serta mampu memberikan nasihat yang dapat dipraktikkan dan berguna. Ketika bergaul dengan seseorang yang bijak, akan ada banyak manfaat yang diperoleh, antara lain: dapat mendengarkan nasihat yang baik, memperoleh keyakinan, memiliki pikiran yang mulia dan berkembang, dapat berpikir dengan jernih, memiliki pengendalian diri, mengetahui perbuatan yang baik, memperoleh kebijaksanaan, dan me-napaki jalan menuju pembebasan.

Ide utama yang terkandung dalam syair ‘Asevanā ca bālānaṁ paṇḍitanañca sevanā’ adalah seseorang jangan sampai mengikuti orang-orang yang tidak bijaksana, dan sangat dianjurkan untuk mengikuti nasihat mereka yang bijaksana. Mendapatkan pengaruh baik maupun pengaruh buruk bergantung dengan siapa ia bergaul dan berasosiasi. 
Menghormat yang patut dihormat

Kata ‘pūjā’ dan’pūjanῑyānaṁ’ berarti ‘menghormat’ dan ‘mereka yang layak mendapat penghormatan’. Contohnya adalah Sang Buddha, mereka yang mencapai tingkat kesucian, para bhikkhu, orang tua, guru, dan mereka yang berjasa besar dalam hidup seseorang. 

Beberapa orang cenderung sombong dan angkuh sehingga tidak suka menghormat atau pun menunjukkan rasa hormat. Ia menganggap dirinya yang paling benar dan tidak bisa melihat kebenaran pada orang lain. Ia tidak dapat melihat bahwa orang lain bisa saja memiliki pengetahuan yang lebih luas, lebih terampil, dan bahkan lebih bijaksana dari dirinya.

Orang-orang yang memiliki kerendahan hati tidaklah bersikap demikian. Mereka senang dan bisa bergaul dengan siapa saja, mereka juga memiliki kemampuan untuk belajar dari orang lain karena mereka memiliki kerendahan hati. Kerendahan hati diperlukan baik dalam mencapai kesuksesan dalam kehidupan duniawi maupun kehidupan spiritual. Praktik menghormati mereka yang layak dihormati adalah dasar bagi berkembangnya kerendahan hati.

Sejumput berkah dalam kehidupan
Ketika seseorang berusaha mengikuti petunjuk dan nasihat yang diberikan para bijaksana, dan tidak mencontoh cara hidup mereka yang tidak bijaksana, serta mengembangkan kerendahan hati, maka dengan cara demikian, seseorang telah menanam benih-benih kebajikan. Seperti yang telah diajarkan oleh guru agung Buddha, berkah bukanlah melulu tentang apa yang didapat dan diperoleh, bukan pula kesenangan melalui ke lima indra, tetapi lebih kepada perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan seseorang.

Tak bergaul dengan orang-orang dungu, bergaul dengan para bijaksanawan, dan menghormat yang patut dihormat adalah sejumput berkah bagi mereka yang mau belajar dan melaksanakan ajaran Sang Buddha. Ketika seseorang rajin dan senang menanam benih-benih kebajikan, maka hidupnya akan penuh berkah dan berbahagia.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Sumber:
-Bhikkhu Dhammadhiro. 2005. Paritta Suci. Jakarta: Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia. 
-Soni, R. L. 1987. Life’s Highest Blessings. Mandalay: Buddhist Publication Society.
-Maṅgala Sutta.pdf 
(http://nalanda.org.my/e-library/mangalasutta/download/Mangala%20Sutta.pdf )


Dibaca : 936 kali