x

BERDANA: Praktik Benar Umat Awam

Na ve kadariyā devalokaṁ vajanti, bālā have nappassaṁsanti dānaṁ.                                                         Dhῑro ca dānaṁ anumodamāno, teneva so hoti sukhῑ parattha’ti.
Sesungguhnya orang kikir tidak dapat pergi ke alam dewa, orang bodoh tidak memuji kemurahan hati. Tetapi orang bijaksana senang dalam memberi dan karenanya ia akan bergembira di alam berikutnya. (Dhammapada 177)

    DOWNLOAD AUDIO

Setiap tahun para bhikkhu menjalankan masa vassa, masa musim hujan di mana para bhikkhu berdiam di vihara untuk melatih diri. Jika seandainya seorang bhikkhu pergi di masa vassa, vinaya hanya mengijinkan paling lama 7 malam. Masa vassa tahun Buddhis 2561/2017 dimulai sejak 9 Juli 2017 dan akan berakhir 5 Oktober 2017. Usai vassa dalam masa Kaṭhina, masa dimana umat Buddha memiliki kesempatan untuk berdana kepada Saṅgha.

Dua Jenis Kekayaan
Dalam Kitab Suci Aṅguttara Nikāya, Dukanipāta Pāḷi, Dāna vagga (141) disebutkan bahwa ada dua jenis kekayaan, yaitu: kekayaan benda-benda materi dan kekayaan Dhamma. Kekayaan benda-benda materi ada yang bersifat kekayaan bergerak seperti kendaraan dan ada kekayaan yang tidak bergerak seperti rumah, tanah, kebun.
Kekayaan Dhamma adalah kekayaan berupa kebajikan, meliputi keyakinan (saddhā), sῑla, malu berbuat jahat (hiri), takut akan akibat perbuatan jahat (ottappa), pengetahuan luas (bahussuta), kedermawanan (cāga) dan kebijaksanaan (paññā).

Bahaya Kekikiran
Masih dari Kitab Suci Aṅguttara Nikāya, Dukanipāta Pāḷi, dalam Kodha Vagga disebutkan bahwa ada dua kualitas buruk yang mengarah pada kemunduran, ditempatkan di neraka, dengan hancurnya jasmani setelah kematian terlahir kembali di alam sengsara alam rendah di neraka. Dua kualitas buruk itu adalah: kemarahan dan permusuhan, merendahkan dan kurang ajar,  irihati dan kikir, curang dan licik, tanpa malu dan tanpa takut.  
Dalam Sakkapañha Sutta, Dῑgha Nikāya, Dewa Sakka bertanya kepada Sang Buddha, “Dengan belenggu apakah meski dewa, manusia, asura, naga, gandhabba dan sejenisnya yang mana mereka ingin hidup tanpa kebencian, tanpa menyakiti, tanpa permusuhan, tanpa fitnah dan dalam kedamaian, tetapi mereka masih hidup dalam kebencian, menyakiti satu sama lain, bermusuhan dan jauh dari kedamaian?” Sang Buddha menjawab, “Raja para dewa, adalah belenggu irihati dan ketamakan (kikir) yang membelenggu sehingga walaupun mereka ingin hidup tanpa kebencian, tanpa menyakiti, tanpa permusuhan, tanpa fitnah dan dalam kedamaian, tetapi mereka masih hidup dalam kebencian, menyakiti satu sama lain, bermusuhan dan jauh dari kedamaian”. 
Dalam Dhammapada Gāthā 242 disebutkan, “maccheraṁ dadato malaṁ; kekikiran adalah noda bagi seorang dermawan”.

Lima Macam Kekikiran
Dalam hal apakah seseorang dapat dikatakan sebagai orang yang kikir? kitab suci Aṅguttara Nikāya, Pañcakanipāta Pāḷi, Maccharini Sutta menerangkan bahwa ada lima macam kekikiran yang ada pada diri seseorang:
1.Kekikiran tanah (āvāsa macchariya): keinginan irihati atau kikir untuk mempertahankan tanah atau wilayahnya sendiri untuk kelompoknya, sektenya tidak boleh didiami oleh orang lain atau orang-orang yang tidak sepaham.
2.Kekikiran keluarga (kula macchariya): keinginan irihati atau kikir untuk mempertahankan kejayaan keluarganya sendiri, tidak ingin ada keluarga lain menyaingi. Bagi para bhikkhu ini diwujudkan dalam keinginan untuk memonopoli bantuan yang diterima dari donatur, tidak ingin donatur itu membantu bhikkhu lain.
3.Kekikiran keuntungan (lābha macchariya): keinginan jahat menimbun kekayaan untuk dirinya sendiri tidak ingin membaginya dengan yang lain. 
4.Kekikiran kemasyuran/keelokan (vaṇṇa macchariya): keinginan irihati atau kikir tidak ingin ada orang lebih elok (cantik/ganteng) dari dirinya, atau lebih terkenal dari dirinya.
5.Kekikiran pengetahuan (dhamma macchariya): keinginan irihati atau kikir untuk tidak mau membagi ilmu, keterampilan atau pengetahuan yang dimiliki kepada orang lain.

Membebaskan Diri dari Kekikiran
Ingatlah bahwa kekikiran membawa banyak bahaya, kerugian, kesusahan dan celaka, bahkan menyeret jatuh ke alam Apāya. Menyadari bahaya yang begitu besar bisa muncul dari kekikiran, maka bebaskanlah diri kita dari kekikiran. Bagaimanakah caranya?
Dalam Dhammapada Gāthā 223, Sang Buddha menyatakan, “jine kadariyaṁ dānena, kalahkan kekikiran dengan berdana”.
Kitab Suci Aṅguttara Nikāya, Dukanipāta Pāḷi, Dānavagga (145)  menguraikan bahwa ada dua macam dana, yaitu dana materi dan dana non materi. 
Dana materi adalah dana berupa pemberian barang-barang, seperti memberi makanan, pakaian, tempat tinggal, obat-obatan, dan sejenisnya. Dana non materi dapat berupa berdana tenaga atau nasehat, motivasi, petuah, pemikiran, ide atau solusi kepada mereka yang membutuhkan.

Praktik Benar Umat Awam
Kitab Suci Aṅguttara Nikāya, Catukanipāta Pāḷi, Gihisamici Sutta, Sang Buddha menyampaikan sebuah khotbah singkat kepada Upāsaka Anāthapiṇḍika: “perumah tangga, seorang siswa mulia yang memiliki empat kualitas mempraktikkan jalan benar umat awam, jalan yang membawa kemashyuran dan mengarah ke surga. Apakah empat ini?
“Di sini, perumah tangga, seorang siswa mulia melayani sangha para bhikkhu dengan jubah; makanan, tempat tinggal; obat-obatan bagi yang sakit. Perumah tangga, seorang siswa mulia yang memiliki empat kualitas mempraktikkan jalan benar umat awam, jalan yang membawa kemashyuran dan mengarah ke surga”.

Sumber :
-Seri Tipitaka, Aṅguttara Nikāya, Dhammacitta Press.
-Kitab Suci Dhammapada, Yayasan Dhammadipa Arama.

Dibaca : 564 kali