x

KEMARAHAN

Yo ve uppatitaṁ kodhaṁ, rathaṁ bhantaṁ va dhāraye.
Tamahaṁ sārathiṁ brūmi, rasmiggāho itaro jano.
Barang siapa dapat menahan kemarahannya yang telah memuncak seperti menahan kereta yang sedang melaju, ia patut disebut sais sejati. Sedangkan sais lainnya hanya sebagai pemegang kendali belaka. 
(Dhammapada 222)

    DOWNLOAD AUDIO

Siapakah diantara kita yang tidak pernah marah? Jawabannya, semua pasti pernah marah, hanya frekuensinya yang berbeda-beda: jarang marah atau sering marah. Ada yang berkomentar; “Oh kalau dia marah itu sudah biasa, tidak marah malah tidak biasa,”Ada pula yang  bangga kalau bisa marah, kemudian menyarankan kepada orang lain: “Kalau anda kalau mau marah saja, jangan ditahan-tahan biar lega”. Maaf, saran itu sepertinya masuk akal, tujuannya biar lega tetapi anjuran itu tidak patut diikuti, memangnya seperti minuman penyegar, biar lega setelah diminum? Mungkin setelah marah orang itu merasa lega tetapi bagaimana dengan yang dimarahi? Tentu tidak lega dan akan  sakit hati.

Apa itu marah?
Arti marah (menurut KBBI): sangat tidak senang, berang, gusar. Marah adalah perasa/emosi  ketidaksenangan yang diekspresikan dalam bentuk kata-kata mau pun gerakan-gerakan tertentu.

Mengapa orang marah? 
Marah itu muncul umumnya dikarenakan oleh kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan atau kenyataan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kasusnya bisa bervariasi tergantung situasi dan kondisi. Contohnya: Cerita dari Ajahn Brahm di buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya: Tentang pengemudi mobil memaki-maki di lampu merah,”Lampu brengsek! Kau tahu aku ada janji penting! Kau tahu aku sudah terlambat, kau biarkan mobil depanku lewat. Dasar babi!” Dia menyalahkan lampu merah, seolah-olah lampu punya banyak pilihan. Dia pikir si lampu merah memang sengaja menyakitinya. Ada orang karena merasa dipermalukan di muka umum lalu marah dan tak terkendali kemudian melakukan tindakan pembunuhan. Kasus lain, karena tidak dikasih hutang lagi, jengkel kemudian rentenirnya dianiaya. Ada yang  menyatakan sbb: Aku marah saat mendengar ucapan yang kasar itu; Aku marah sebab diperlakukan tidak pantas; Aku marah karena merasa dilecehkan dsb.

Dampak kemarahan  
Marah itu adalah kondisi batin yang negatif, tidak sehat dan kalau sering-sering marah akan berdampak buruk bagi kesehatan kita. Menurut Dr. Shigeo Haruyama dalam bukunya yang berjudul The Miracle Of Endorphin, dikatakan: Jika seseorang marah, cemas, takut, merasa tertekan maka otak akan mengeluarkan hormon Noradrenalin, hormon yang sangat beracun diantara racun alami hormon ini menempati urutan kedua setelah bisa ular. Racun ini membuat sakit, cepat tua, dan cepat meninggal. Sedangkan menurut kamma dan buahnya (MN 135) Sang Buddha bersabda: “Siswa di sini seorang pria/perempuan berwatak pemarah dan mudah marah; walaupun sedikit dikecam saja, ia tersinggung menjadi marah, bermusuhan dan membenci, serta menampakkan murka dan geram. Karena melakukan perbuatan seperti itu ... ia terlahir ulang di alam sengsara ... Namun jika ia kembali jadi manusia, ia akan buruk rupa. Siswa, inilah jalan yang menimbulkan buruk rupa. 

Kisah Dhammapada ayat 222:                                                                  
Suatu ketika, seorang bhikkhu di Alavi hendak membangun sebuah Vihara. Ia kemudian menebang pohon. Dewi pohon berusaha mencegahnya karena dia dan bayinya tak tahu harus tinggal dimana. Gagal menghentikan perbuatan bhikkhu kemudian ia meletakkan bayinya pada sebuah dahan, berharap membuat Sang bhikkhu itu berhenti menebang. Namun bhikkhu terlanjur mengayunkan kapaknya dan tanpa sengaja memotong lengan anaknya. Melihat bayinya luka Sang ibu menjadi marah dan bermaksud membunuh bhikkhu tersebut. Ketika mau menyerang tiba-tiba ia berhenti dan berpikir; “Bila aku membunuh seorang bhikkhu, akan membuat aku menderita terlahir di neraka. Dan dewa pohon lainnya akan meniru perbuatanku dan semakin banyak bhikkhu akan terbunuh. Bhikkhu ini pasti punya guru, aku harus menemui gurunya”.
Kemudian ia pergi menemui Sang Buddha sambil menangis menceritakan semua yang telah menimpanya. Kepadanya Sang Buddha berkata: “Oh Dewi Pohon! Kau telah berhasil baik mengendalikan dirimu sendiri”.   
Kemudian Sang Buddha membabarkan Dhammapada ayat 222 seperti tersebut di atas. Pada saat khotbah Dhamma berakhir Dewi Pohon mencapai tingkat kesucian Sotapatti dan diperbolehkan tinggal di sebuah pohon dekat kamar harum (Gandha Kuti) Sang Buddha. Semenjak itulah Sang Buddha melarang para bhikkhu menebang pohon, tanaman atau tumbuh-tumbuhan.

Cara mengatasi kemarahan
Setelah kita memahami bahwa marah itu tidak bermanfaat dan merupakan respon yang bodoh.  Hendaknya kita berusaha menahan diri apabila muncul kemarahan, sadar akan kemarahan yang muncul, hanya menyadari dan mengetahui, tanpa direspon maka secara otomatis emosi itu akan melemah dan lenyap dengan sendirinya, silakan dibuktikan! Inilah cara membunuh kemarahan itu. Jika ingin menghindari musuh-musuh maka pertama kali yang harus kita lakukan adalah membunuh kemarahan. Cara lain untuk mengatasi musuh-musuh adalah memancarkan cinta kasih dan belas kasihan/ kemurahan hati. Di Sutta Nipàta Bab I, Uraga Sutta bait (1) Sang Buddha memberikan nasehat kepada para bhikkhu: “Bila seorang bhikkhu membuang kemarahan segera setelah kemarahan muncul, seperti penawar racun yang diberikan tepat waktunya untuk melawan racun ular yang masuk ke dalam tubuhnya, bhikkhu itu terbebas dari proses tumimbal lahir bagaikan ular yang mengelupaskan kulitnya yang sudah usang. 

Ingatlah, tidak ada orang yang bahagia sesungguhnya dari hasil marah, karena itu bila kita ingin bahagia, harus bisa mengendalikan kemarahan yang memuncak bagaikan sais sejati yang mampu menahan lajunya kereta serta segera membuang kemarahan dengan bijaksana. Orang bijaksana selalu bahagia dan orang bahagia tak akan marah. Dengan demikian kebahagiaan akan terwujud.  

Dibaca : 597 kali