x

SIKAP BUDDHIS TERHADAP EKSISTENSI BUDDHISME DALAM MASYARAKAT MILLENNIAL

Bāhusaccañca sippañca, Vinayo ca susikkhito
Subhāsitā ca yā vācā, Etammaṅgalamuttamaṁ
“Berpengetahuan luas, berketerampilan, terlatih baik dalam tata susila
dan bertutur kata dengan baik, itulah berkah utama”
(Khuddakanikāya, Khuddakapāṭha, Maṅgala Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Pendahuluan
Hidup di zaman yang semakin canggih dan segala sesuatunya telah dipermudah dengan teknologi memang sedang dialami masyarakat saat ini. Segala akses informasi, komunikasi, dan transaksi menjadi semakin cepat, sehingga dianggap mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di era millennial ini. Hampir segala urusan manusia didasarkan pada pemanfaatan teknologi berbasis aplikasi dan jaringan internet. Menariknya, terjadi universalitas pemanfaatan iptek; tidak hanya terbatas pada kalangan elite, tetapi hampir semua lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang sama. Dari masyarakat kota sampai dengan masyarakat di desa. Fenomena ini mendorong masyarakat untuk mengikuti dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Untuk merespon fenomena tersebut, agama memiliki peranan penting sebagai landasan dalam berpikir, berucap, dan bertindak. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan sikap seorang Buddhis terhadap keberadaan agama dalam era millennial. Iptek saat ini memudahkan umat Buddha untuk belajar Dhamma secara terbuka. Hal ini didukung dengan ajaran Buddha yang terbuka dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keterbukaan ini juga didukung oleh beberapa ilmuwan. Namun demikian, perkembangan iptek dapat berdampak pada melemahnya minat spiritual dan moral manusia jika penggunaannya kurang bijak. Dengan demikian, hendaknya dalam pemanfaatannya iptek harus seiring dan sejalan dengan pemahaman norma agama.

Pembahasan
Agama dan ilmu pengetahuan, keduanya merupakan aspek kehidupan yang dicari, ditemukan dan diajarkan demi manfaat dan kebaikan manusia atau bahkan semua makhluk. Keberadaan agama diharapkan mampu membimbing seseorang untuk dapat meningkatkan kualitas diri dalam hal moral dan spiritual agar terbebas dari penderitaan. Sementara itu, ilmu pengetahuan dikembangkan untuk kemudahan dan kelancaran urusan manusia. Mengingat keduanya memiliki signifikasi yang kuat pun mengarah pada tujuan yang baik, sangat layak untuk mengasosiasikan keduanya sebagai sarana untuk me-ningkatkan kualitas hidup. Akan sangat baik apabila dengan ilmu pengetahuan yang luas, seseorang dengan berlandaskan ajaran (agama) melakukan sesuatu demi manfaat banyak orang. Namun akan menjadi mudarat/sesuatu tidak menguntungkan, jika meskipun dengan pengetahuan yang luas, namun seseorang mengabaikan penerapan ajaran (agama), sehingga melakukan hal yang dapat mencelakakan orang lain. 

Salah satu ungkapan yang sangat menarik dari salah satu ilmuwan, Albert Einstein, “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki keterkaitan yang erat dan sulit terpisahkan untuk mencapai tujuan hidup. Ilmu pengetahuan yang tanpa diselaraskan dengan ajaran agama akan menyebabkan hilangnya kontrol, sehingga terjadilah pemahaman yang membuta dan menyebabkan terabaikannya serta terlanggarnya norma agama. Demikian pula, agama yang tanpa diselaraskan dengan ilmu pengetahuan, maka agama tidak dapat berkembang secara signifikan dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Senada dengan hal tersebut, Buddhisme menjadi bagian dari kekuatan pendorong keterbukaan agama terhadap ilmu pengetahuan. Dalam salah satu khotbahnya, Maṅgala Sutta, Buddha menyatakan bahwa memiliki pengetahuan luas dan berketerampilan adalah berkah utama. Dengan ini, terlihat bahwa Buddhisme tidak membatasi manusia untuk turut menjadi bagian dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu hasil penerapan praktis ilmu pengetahuan itu sendiri. Albert Einstein juga mendukung hal ini dalam pernyataannya, “jika ada agama yang akan memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan modern, itu adalah ajaran Buddha.”

Buddhisme dalam Masyarakat Millennial
Pemanfaatan iptek adalah ciri yang tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan masyarakat millennial. Terciptanya beragam media komunikasi memudahkan akses dan penyebaran informasi secara cepat. Buddhisme juga menjadi bagian dari pengguna kemajuan iptek tersebut. Melalui blog, website, media sosial dan aplikasi berbasis internet, ajaran Buddha (Dhamma) dapat disebarkan, diajarkan dan disosialisasikan secara praktis. Tidak sedikit naskah Dhamma yang telah diunggah ke situs web Buddhis. Dengan cara ini, maka kemudahan dapat dirasakan oleh umat Buddha untuk belajar Dhamma (Pariyati-Dhamma). 

Jika beberapa tahun silam sulit menemukan bahan untuk belajar Dhamma, maka zaman sekarang ilmu pengetahuan menawarkan berbagai ke-mudahan. Hanya dengan duduk manis di depan layar (laptop atau smartphone), seseorang bisa melakukan eksplorasi untuk menemukan sumber belajar (Dhamma) yang dibutuhkan. Demikian pula, untuk melakukan sharing Dhamma dan diskusi juga dapat dilakukan melalui aplikasi media sosial.

Sikap Buddhis terhadap Keberadaan Agama Buddha di Era Millennial
Buddhisme merupakan agama yang menekankan pada konsep pemikiran ehipassiko “mengundang untuk dibuktikan”. Ini adalah cara di mana sebagai Buddhis harus dapat menyelidiki suatu hal sebelum benar-benar menerima. Ini menunjukkan bahwa Buddhisme adalah ajaran yang pantang percaya begitu saja pada hal tanpa penyelidikan terlebih dahulu. Hal senada juga disampaikan Sang Buddha di dalam Kalama Sutta, Aṅguttara Nikāya 3.65. Pola pikir seperti inilah yang hendaknya menjadi dasar umat Buddha (Buddhis) dalam menyaring dan memanfaatkan iptek di era millennial. Dengan demikian, sebagai Buddhis, seseorang tidak hanya cerdas dalam menerima dan mengikuti tren millennial, tetapi juga bijak dalam menyikapinya, sehingga keberadaan agama (ajaran) Buddha akan menjadi kekuatan pendorong bagi visi dunia untuk terus maju dengan berpegang pada nilai-nilai keagamaan.

Penutup
Ajaran Buddha telah membimbing umat manusia lebih dari dua puluh lima abad silam. Agama Buddha juga dianggap sebagai agama yang dapat memenuhi kebutuhan iptek dan mengikuti arus modernitas. Dengan keselarasan dua aspek ini, agama Buddha dan perkembangan iptek di zaman millennial, penerapannya secara bersamaan tanpa mengesampingkan salah satunya dapat menjadikan dunia ini sebagai tempat yang lebih tenteram untuk ditinggali. Dengan demikian, hal ini akan dapat membawa manfaat dalam hidup, bukan masalah dalam hidup. 
Semoga Semua makhluk berbahagia...

Sumber:
-Bhikkhu Pannyavaro. BERSAHABAT DENGAN KEHIDUPAN Memaknai Dengan Kearifan. Jogja: Suwung. 2006.
-Bhikkhu Bodhi. Khuddakanikāya. Klaten: Wisma Sambodhi. 2011.


Dibaca : 70 kali