x

HAL YANG PATUT DIKEJAR

Asādhāraṇamaññesaṁ, acorāharaṇo nidhi;
Kayirātha dhῑro puññāni, yo nidhi anugāmiko
Harta karun berupa kebajikan adalah bukan barang umum bagi orang lain, tak dapat dirampas oleh perampok. Orang cendekia sepatutnya menimbun harta karun berupa kebajikan, yang nanti mengikutinya.
(KN, Khuddaka Pañha, Nidhikaṇḍa Sutta syair 9)

    DOWNLOAD AUDIO

Kehidupan saat ini sangat singkat, namun banyak orang menganggapnya panjang atau lama. Buktinya adalah hampir seluruh kehidupannya sibuk mencari hal-hal materi dan menikmatinya. Seakan tidak ada suatu keterdesakan oleh usia yang terus berkurang dan mendekati kematian. Memang betul seorang perumah tangga berdekatan dengan hal-hal tersebut, tapi ingat bahwa Sang Buddha mengajarkan untuk seimbang. Seimbang antara hal yang bersifat mendukung kehidupan ini yang ibarat sekedar singgah dan kehidupan yang akan datang yang ibarat keberlanjutan perjalanan kita. Tujuan masih sangat jauh apabila kita berhenti lama di tempat singgah itu. 

Tetapi akan sangat terasa dekat ketika kita tidak lama singgah atau bahkan mengetahui jalan pintas. Sang Buddha hadir, bertekad sejak menjadi Bodhisatta bukan untuk hanya demi manfaat diri Beliau sendiri, tetapi karena belas kasih dan kasih sayang yang luar biasa kepada semua makhluk.

Dhamma ini memang sudah sangat tua dan seakan dimakan zaman, tetapi relevansi dalam kehidupan masih sangat segar seakan baru saja muncul dan didengar serta diajarkan. Jika kita mengerti dengan baik makna kata dan uraian yang terdapat dalam Kitab Suci Tipiṭaka dan mempraktikkannya dengan penuh keikhlasan. Terkadang banyak sekali di antara sekian banyaknya umat Buddha Indonesia, mungkin juga dunia belum tulus ikhlas dalam praktik Dhamma. Sehingga apabila anda berharap untuk melihat rasa Dhamma seperti mengecap rasa makanan, sungguh masih jauh untuk terasa sensasi rasa luar biasanya Dhamma. Kunci untuk benar-benar bisa merasakan rasa Dhamma adalah ikhlas. Ikhlas dalam mendengar, mencerna, dan mengujinya dalam kehidupan nyata. 

Sang Buddha tidak sama sekali sebenarnya dalam mengajar Dhamma kepada siswanya dibeda-bedakan. Semua siswa dianggap oleh Beliau adalah sama. Baik perumah tangga ataupun Pabbajita sama-sama memiliki potensi untuk mencapai kebebasan dari derita. Oleh karenanya janganlah anda memiliki pemikiran bahwa kesucian atau kebebasan dari derita harus hanya dan dapat dicapai oleh para Pabbajita atau orang yang meninggalkan kehidupan rumah tangga. Memang pemikiran itu tidak salah, hanya saja kurang tepat. Mengapa? Karena seperti yang di atas disebutkan bahwa Sang Buddha sendiri tidak membedakan ketika Beliau mengajar Dhamma. Tujuannya sama yaitu agar semua yang mendengar, memahami, mempraktikkan akan menembus Dhamma sejati berupa kebebasan dari derita. Maka sama pula dalam keseriusan saat praktik Dhamma harus dimunculkan. Para Pabbajita serius, para perumah tangga pun hendaknya juga serius. Tidak ada beda. Jangan ada pikiran perumah tangga tidak apa-apa malas-malasan. Oh itu keliru. Bila tujuannya sama, harapannya sama yaitu ingin bahagia, damai,  tentram, dan terbebas, tetapi usahanya berbeda, kan lucu jadinya. Maka harus sama pula agar tidak terlihat lucu ketika dipersepsikan oleh orang lain.

Saya akan sedikit mengulik mengenai media elektronik, khususnya alat komunikasi yang pasti setiap orang sekarang miliki yaitu gadget, smartphone, dan lain-lain. Alat komunikasi sebetulnya sangat berguna tetapi juga sangat merugikan. Sangat berguna ketika digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Namun menjadi merugikan apabila digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Mungkin anda sudah dapat menebak apa yang akan saya singgung di sini, tentu saya tidak akan keluar dari rel ajaran guru Agung. Sering kali saya merasa ikut senang melihat semua orang terlihat makmur dengan memiliki alat komunikasi yang ia pakai. Tetapi sesekali pula saya merasa miris bahkan terkesan ironis bahkan tragis ketika penggunaan itu terasa berlebihan bahkan melampaui batas kewajaran. Saya tidak merasa iri ataupun tidak suka jika anda menggunakan alat komunikasi yang secanggih apapun, itu sah-sah saja dan hak anda, karena itu milik anda yang diperoleh dari kerja keras anda. Tetapi saya berharap khususnya umat Buddha untuk terkendali. Umat Buddha diajarkan untuk terkendali oleh Guru Agung kita. Menjadi umat Buddha berarti anda sudah mendaftarkan diri untuk ikut kursus pengendalian diri. Secara tidak langsung ajaran Sang Buddha adalah ajaran pengendalian diri. Mulai dari yang dasar sampai yang puncak ajaran merupakan rangkaian pengendalian diri. Jadi kalau anda justru biasa-biasa saja sejak baru mengenal ajaran sampai saat ini, maka anda sebenarnya belum termasuk bagian dari siswa Sang Buddha. Mengapa? Karena seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa ajaran Guru Agung adalah ajaran pengendalian. 

Manfaat yang sepatutnya dikembangkan menggunakan alat komunikasi adalah seperti membaca artikel Dhamma, membagikan berita tempat di mana dapat berbuat kebajikan,  mendengarkan rekaman Dhamma, berdiskusi Dhamma, dan lain-lain. Hal ini sangat baik untuk dikembangkan dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa? Karena akan memberikan pengetahuan dan kesejukan serta kedamaian dalam batin kita. Jika batin damai maka kebahagiaan akan muncul dalam kehidupan kita. Memanfaatkan teknologi modern untuk tetap tidak keluar dari kepatutan dalam ajaran mulia yang kita yakini sangatlah baik dan bermanfaat bagi diri kita. Selain tidak tertinggal oleh jaman, kita juga tidak boleh tertinggal oleh semangat terus belajar ajaran mulia. Ini yang patut dikembangkan dengan seimbang. Di sinilah pentingnya dan bermanfaatnya alat komunikasi bagi umat Buddha. 

Hal yang tidak bermanfaat yaitu ketika alat komunikasi itu menjadi media penyebaran informasi yang tidak sepatutnya disebar. Apakah berupa kebencian, kebohongan,  gosip, omong kosong, dan lain-lain. Apalagi untuk main game sampai kecanduan berat. Saking kecanduannya semua aktivitas yang lain seperti sekolah, belajar, ngobrol/kumpul keluarga pun diabaikan. Lebih tragis lagi kalau sampai abai terhadap kebajikan. Jadi dampak buruknya alat komunikasi sampai segitu luar biasanya. Kalau sudah begitu maka siap-siap kehidupan anda akan menderita hebat nantinya. Mungkin sekarang belum terlihat atau anda rasakan, tetapi lambat laun akan mulai nampak dan anda akan menikmatinya. Anda mau lari, mau menolak, bersembunyi, anda tidak akan bisa lolos darinya. Sang Buddha mengajarkan kepada kita seperti yang saya kutip di awal, yang terdapat dalam Nidhikaṇḍa Sutta yaitu “Asādhāraṇamaññesaṁ, acorāharaṇo nidhi;Kayirātha dhῑro puññāni, yonidhi anugāmiko”. Saya akan ambil terjemahan dan jelaskan satu per satu yaitu baris pertama "Harta karun berupa kebajikan adalah bukan barang umum bagi orang lain". Jadi di sini sang Buddha menunjukkan kepada kita, siswanya bahwa kalau kita menimbun harta berupa kebajikan, ini sangat aman karena hal tersebut bukan barang umum bagi orang lain. Maka disarankan anda untuk menimbun harta kebajikan bukan harta materi sebanyak mungkin. Baris kedua yaitu "Tak dapat dirampas oleh perampok". Sering anda sebagai perumah tangga ketika punya harta materi berlimpah pasti mengalami kegelisahan, ketakutan akan apa yang dimiliki hilang dicuri orang, tetapi jika anda memiliki harta kebajikan anda tidak perlu merisaukan atau merasa takut jika itu akan dicuri, karena Sang Buddha mengatakan bahwa "Harta kebajikan tak dapat dirampas oleh perampok". Mengapa? Karena tidak nampak atau terlihat oleh orang lain. Baris ketiga yaitu "Orang cendekia sepatutnya menimbun harta karun berupa kebajikan". Ini adalah saran sekaligus memberitahukan bahwa orang-orang yang disebut cendekia atau boleh juga disebut orang bijaksana diharapkan atau seharusnya menimbun harta kebajikan. Tentu para bijaksana itu mengerti bahwa hal tersebut membawa manfaat baginya. Lalu yang baris terakhir yaitu "Yang nanti mengikutinya". Kata "Yang" di sini adalah mengarah pada kebajikan yang diperbuat. Jadi kalau kebajikan tersebut dikembangkan maka hal tersebut akan mengikuti kemanapun berada atau terlahir kembali. Tidak akan terpisah atau hilang. 

Inilah yang patut dikembangkan dan dikejar oleh siswa-siswa Sang Buddha yaitu menimbun harta sejati yang akan mengikuti kemanapun berada atau terlahir kembali. Bukannya tidak boleh mengumpulkan harta materi, tetapi imbangilah kehidupan anda ini untuk juga mengumpulkan Harta kebajikan. Semoga apa yang saya uraikan menambah pengetahuan anda. Semoga pula anda dapat memahami yang diuraikan. Semoga setelah memahami anda dapat mem-praktikkan dalam kehidupan sehari-hari dengan baik dan benar. Dan semoga anda terus maju dalam belajar teori dan praktik Dhamma. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia. 
Referensi:
Kitab suci Khuddaka Nikāya, Khuddaka paṭha, Nidhikaṇḍa Sutta.

Dibaca : 382 kali