x

M A K N A K A Ṭ H I N A

Yo ca vantakasāvassa, sīlesu susamāhito
Upeto damasaccena, sa ve kāsāvamarahati.
“Siapa pun yang bebas dari kotoran batin, teguh dalam sila, terbekali dengan pengendalian diri dan kebenaran, ia sungguh layak mengenakan jubah juning.”
(Dhammapada 10)

    DOWNLOAD AUDIO

Sejak Buddha masih hidup, semua bhikkhu yang terbiasa hidup mengembara dari satu tempat ke tempat lain juga diharuskan untuk melakukan retret musim hujan (vassa). Disebutkan bahwa ada 30 bhikkhu yang berniat untuk menghabiskan masa vassa di Savatthi, tempat Buddha berdiam, tetapi keinginan tersebut urung terlaksana karena musim hujan telah tiba. Mereka terpaksa harus menjalani masa vassa di Saketa yang berjarak 6 yojana (72 km) dari Savatthi. Karena memendam hasrat yang begitu kuat, semua bhikkhu segera pergi mengunjungi Buddha setelah musim hujan berakhir. Dengan tubuh yang sangat lelah dan jubah basah kuyup, pada akhirnya mereka dapat bertatap muka dengan Buddha. Melihat kondisi demikian, Buddha mengizinkan para bhikkhu untuk memperoleh bahan jubah setelah menyelesaikan masa vassa. Semenjak itu, para umat mulai mempersembahkan bahan jubah di akhir masa vassa dan selanjutnya dijahit menjadi jubah (kaṭhinadussa).

Satu bulan terakhir dalam musim hujan (vassa) merupakan waktu yang ditentukan bagi para bhikkhu untuk mencari kain yang dapat dipergunakan untuk membuat jubah baru, untuk menggantikan jubah lama yang telah rusak. Periode ini juga dikenal dengan masa Kaṭhina (kaṭhinakāla), dan untuk tahun ini jatuh pada tanggal 6 Oktober 2017 sampai tanggal 3 November 2017.

Dalam literatur Pāli, kaṭhina diartikan sebagai keras, kuat, dan kaku. Pada awalnya, istilah kaṭhina mengacu kepada bingkai kayu yang digunakan untuk mengapit dan menjahit jubah. Namun seiring berlalunya waktu, kaṭhina secara umum merujuk kepada kain yang dipersembahkan umat awam kepada Saṅgha di akhir masa vassa untuk dirangkai menjadi jubah. Masa persembahan jubah ditetapkan pada bulan Kattikā dalam penanggalan Buddhis. Penghormatan dalam bentuk persembahan jubah kaṭhina inilah yang merupakan cikal bakal munculnya kaṭhinapūja.
Upacara persembahan bahan jubah kaṭhina yang sebenarnya adalah persembahan yang dilakukan oleh umat kepada para bhikkhu yang menjalankan masa vassa pada satu vihara paling sedikit terdiri dari lima orang bhikkhu. Gagasan upacara kaṭhinapūja harus datang dari umat Buddha sendiri, bukan dari bhikkhu yang bersangkutan, karena hari kaṭhinapūja merupakan saat yang paling tepat bagi umat Buddha untuk berdana kepada Saṅgha.

Jubah kaṭhina adalah jubah yang dibuat dari kain jubah yang dipersembahkan oleh umat pada upacara kaṭhinapūja, dengan syarat-syarat antara lain sebagai berikut:
1.Setidaknya ada 5 orang bhikkhu berdiam selama tiga bulan penuh di satu vihara. Selama periode tersebut, para bhikkhu tidak boleh bermalam di luar kecuali jika ada keperluan mendesak atau tugas dari Saṅgha (maksimal selama 7 hari atau 6 malam).
2.Upacara persembahan bahan jubah kaṭhina dilakukan di Uposathāgāra (Sīmā)
3.Saṅgha menunjuk seorang bhikkhu untuk menerima persembahan tersebut.
4.Para Bhikkhu lalu mencuci kain persembahan tersebut, mengukur, memotong, menjahit, dan mencelupnya.
5.Jubah itu harus selesai dikerjakan dan siap untuk dipakai pada hari itu juga. Mengingat sangat sempitnya waktu dalam mengerjakan jubah ini maka umat diizinkan untuk turut serta membantu para bhikkhu dalam mengerjakan jubah tersebut.

Selanjutnya masih ada persyaratan lain yang harus dipenuhi agar jubah tersebut sah, tidak melanggar vinaya. Adapun syarat-syarat tersebut antara lain:
1.Jubah kaṭhina tersebut tidak sah apabila seorang bhikkhu meminta kain untuk jubah tersebut kepada umat, baik secara langsung maupun tidak langsung.
2.Jubah kaṭhina tersebut tidak sah apabila dijahit tidak menurut potongan atau pola yang telah ditentukan.
3.Jubah kaṭhina tersebut tidak sah apabila ukurannya lebih besar dari ketentuan yang telah ditetapkan.
4.Jubah kaṭhina tersebut tidak sah apabila tidak dikerjakan pada hari yang sama (waktu pekerjaannya ditunda).
5.Jubah kaṭhina tersebut tidak sah jika yang menerima belum mengucapkan anumodanā (turut bergembira atas jasa baik dari para umat yang memberi bahan jubah tersebut).
Karena jubah kaṭhina hanya dapat dipersembahkan kepada Saṅgha satu kali dalam setahun, maka ini adalah kesempatan yang sangat istimewa. Oleh karena jarangnya kesempatan untuk mempersembahkan jubah kaṭhina kepada Saṅgha, maka persembahan jubah kaṭhina dikatakan menghasilkan jasa yang besar. Selain itu, persembahan jubah Kathina akan memberikan banyak manfaat lain kepada bhikkhu penerima.
Para bhikkhu yang menerima jubah kaṭhina akan mendapat 5 bonus kaṭhina (kaṭhinānisaṁsā) yang telah ditetapkan oleh Buddha yaitu:
1.Pergi tanpa pemberitahuan (anāmantacāro).
2.Pergi tanpa membawa serta 1 set jubah lengkap (asamādānacāro)
3.Menerima undangan makan berkelompok (gaṇabhojanaṁ).
4.Menyimpan jubah selama yang diperlukan (yāvadattha-cīvaraṁ).
5.Jubah yang diperoleh di tempat itu juga, semuanya menjadi milik mereka (yo ca tattha cīvaruppādo, so nesaṁ bhavissati).
Warna jubah adalah kuning, jingga, atau kuning-kecokelatan, sama dengan bunga kaṇikāra (Pterospermum acerifolium). Kunyit (kuṅkuma) tidak pernah digunakan untuk mewarnai jubah karena kunyit bukanlah zat pewarna dan bahkan jika dipakai tentunya sangat mahal. Bagi masyarakat India kuno, warna ini menandakan ketidakmelekatan atau pelepasan, karena daun-daun menjadi berwarna kuning-kecokelatan sebelum jatuh dari pohon. Satu set jubah merupakan 3 benda di antara 8 kebutuhan utama bhikkhu. Bagi umat Buddha, seperti halnya Buddha sendiri, jubah kuning bukanlah sekadar pakaian, tetapi juga merupakan simbol dari spiritual tertinggi. 

Dibaca : 351 kali