x

KEBAJIKAN ADALAH PENYOKONG MAKHLUK-MAKHLUK HIDUP KETIKA MUNCUL DI ALAM LAIN

“Kammaṁ vijjā ca dhammo ca, sīlaṁ jīvitamuttamaṁ ;
Etena maccā sujjhanti Na gottena dhanena vā.”
“Perbuatan, pengetahuan, kebajikan, moralitas, kehidupan yang baik;
Dengan ini umat manusia dimurnikan,
bukan dengan suku atau kekayaan.”
(SN.i.53 – Anāthapiṇḍika Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Dua ribu lima ratus tahun silam, Bimbisāra, seorang Raja Magadha mendermakan sebuah kediaman atau vihāra kepada Buddha Gotama, dan merupakan pemberian vihāra yang pertama dalam perjalanan sejarah Buddhisme. Vihāra ini dikenal dengan nama Veḷuvana yang artinya sebuah kediaman di hutan bambu. Di kemudian hari seorang saudagar kaya raya yang bernama Sudatta dan mendapat julukan ‘Anāthapiṇḍika’ membangun satu vihāra yang dikenal dengan nama ‘Jetavanārāma’. Beberapa yang lainnya juga turut mendermakan sebuah vihāra bagi Buddha dan para siswa yang tergabung dalam persamuhan para Bhikkhu. 

Mengapa harus vihāra dan bukan yang lain? 
Perilaku baik dalam bentuk pemberian memang tidak harus berupa vihāra, mereka-mereka di zaman Buddha pun tidak semuanya membangun dan mendanakan vihāra. Akan tetapi hal tersebut bukanlah menjadi satu dasar bagi kita, ketika mengatakan ‘membangun vihāra tidak begitu penting’. Kerap kali kita berpandangan demikian karena kita mengesampingkan peranan utama dari berdirinya suatu vihāra. Jika kita berpandangan pembangunan vihāra hanya untuk mengumpulkan dan mendatangkan banyak umat, itu tidak tepat. Jika kita membangun vihāra untuk berlomba sebagus mungkin, dan berlomba siapa terbanyak memiliki umat nantinya, itu pun tidak tepat. 

Tujuan utama dari pembangunan vihāra adalah sebagai sarana bagi umat Buddha untuk menjalankan aspek-aspek terpenting di dalam Dhamma. Ada tiga aspek terpenting di dalam Dhamma, yaitu; Pariyatti, patipatti, dan pativedha. 

Pertama adalah pelajaran (pariyatti), yaitu bagaimana seseorang mau mempelajari Dhamma, perihal mana yang baik dan tidak baik. Membangun vihāra erat kaitannya dengan aspek pertama ini, yaitu tentang bagaimana seseorang dapat belajar Dhamma dengan baik. Memang, belajar Dhamma untuk zaman sekarang tidak harus datang ke vihāra, ketika seseorang memiliki ketekunan, dan tekad belajar, ia dapat menggunakan banyak media untuk mempelajari Dhamma. Akan tetapi, walaupun kemudahan sudah kita dapatkan, di dalam mempelajari Dhamma kita membutuhkan tempat untuk berdiskusi secara langsung, bukan melalui media tertentu. Di sinilah peranan vihāra menjadi penting, sebagai tempat berkumpul untuk membahas Dhamma. Selain itu kegiatan-kegiatan seperti Kursus Dasar Agama Buddha, Dhammatalk, Dhammadesana, dan lain sebagainya, akan lebih kondusif manakala dilaksanakan di vihāra. 

Kedua adalah pelaksanaan atau praktik, yaitu melaksanakan apa yang sudah didapatkan melalui pelajaran (patipatti). Mempraktikkan Dhamma yang telah didapatkan sama halnya belajar, bisa di mana saja selagi media tersebut ada. Praktik Dhamma memang ditekankan secara berkelanjutan, artinya tidak terikat pada tempat, waktu, dan momen tertentu. Namun, kegiatan-kegiatan tertentu membutuhkan tempat yang baik dan cocok untuk dilaksanakan. Peran vihāra salah satunya adalah menyediakan tempat atau menjadi tempat bagi orang yang ingin praktik Dhamma lebih intensif, seperti retret meditasi, Sekolah Minggu Buddha, Pabbajjā Sāmaṇera, atau latihan Aṭṭhasīlani. 

Ketiga adalah pengalaman, yaitu mengalami sendiri hasil dari apa yang telah dipelajari dan dilaksanakan (pativedha). Kaitannya dengan peranan sebuah vihāra adalah, ketika seseorang telah mengalami suatu hasil dari apa yang dipelajari dan dilaksanakan atau praktikkan, maka orang tersebut akan menjaga dan merawat vihāra. Sehingga vihāra yang telah dibangun tidak hanya berhenti saat setelah selesai dibangun. Mengalami hasil dari praktik Dhamma diimplementasikan dalam bentuk menghargai sumber dari Dhamma itu, Buddha sebagai sumber Dhamma, vihāra adalah sarana atau tempat berkumpul, berdiskusi, dan berbagi banyak Dhamma Guru Agung Buddha. Dengan kita menghargai sumber tersebut, menghargai dan men-jaga vihāra, terlebih lagi mendirikan vihāra di daerah-daerah yang terpencil, namun terdapat umat Buddha di daerah tersebut, ber-arti sama dengan kita menjaga kelestarian Dhamma. 

Seperti syair Saṁyutta Nikāya yang diucapkan oleh dewa muda, Anāthapiṇḍika, “Perbuatan, pengetahuan, kebajikan, moralitas, kehidupan yang baik; Dengan ini umat manusia dimurnikan, bukan dengan suku atau kekayaan” Artinya perbuatan baik yang didasari oleh moralitas, yaitu kepedulian terhadap sesama, itulah yang menjadikan seseorang dimurnikan atau tinggi di antara yang lainnya. Ia yang senantiasa melakukan kebajikan dengan ketulusan, mendatangkan kehidupan yang baik, melahirkan banyak manfaat, itulah salah satu dari upaya melestarikan Dhamma. Karena ketika kita turut membantu mendirikan suatu vihāra, orang akan mengenal Dhamma di dalamnya, kegiatan pendalaman dan praktik Dhamma akan dilaksanakan, semakin banyak orang melakukan kebajikan di dalamnya, maka mereka-mereka yang turut mendirikan suatu vihāra adalah mereka-mereka yang memfasilitasi banyak orang untuk melakukan kebajikan, karena “Puññāni paralokasmiṁ patiṭṭhā honti pāṇinanti (kebajikan adalah penyokong makhluk-makhluk hidup ketika muncul di alam lain)”. Investasi yang paling berharga bagi mereka yang sadar adanya tiga fase kehidupan (adanya kelahiran kembali dan kehidupan lampau) adalah kebajikan, bukan yang lain. 

Dibaca : 767 kali