x

Terus Berbuat Baik

Abhittaretha kalyāṇe, pāpā cittaṁ nivāraye.
Dandhaṁ hi karoto puññaṁ, pāpasmiṁ ramati mano.
Bergegaslah melakukan perbuatan baik, dan bersihkan batin dari kejahatan.
Seseorang yang lambat dalam melakukan perbuatan baik,
batinnya akan bergembira di dalam kejahatan.
(Dhammapada, IX:1)

    DOWNLOAD AUDIO

Berbuat baik itu tentu sangat baik dan sangat bermanfaat bagi siapa pun yang terlibat, baik si pelaku maupun si penerima itu sendiri,. Dengan melakukan perbuatan baik berarti sudah mempraktikkan salah satu ajaran Sang Buddha. Oleh karena itu, teruslah melakukan perbuatan baik. 

Sang Buddha sangat menganjurkan kepada kita semua begitu pentingnya melakukan perbuatan baik dalam bentuk apapun. Karena sesungguhnya perbuatan baik adalah sumber dari segala kebahagiaan. Dalam ajaran Sang Buddha kita sudah ditunjukkan secara jelas dan sistematis dalam melakukan kebaikan. Banyak macam cara yang diajarkan Sang Buddha untuk melakukan perbuatan baik yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya Sang Buddha menjelaskan ada sepuluh macam cara untuk melakukan perbuatan baik yang akan membuahkan kebahagiaan dalam kehidupan kita, yang kemudian biasa disebut dengan dasa puññakiriyavatthu. Dasa puññakiriyavatthu terdiri dari empat kata, yaitu dasa, puñña, kiriya, dan vatthu. Dasa artinya sepuluh, puñña artinya jasa, baik, bajik, manfaat, berguna, kiriya artinya melakukan, dan vatthu artinya dasar, hal, atau cara. Jadi, arti keseluruhan dari dasa puññakiriyavatthu adalah sepuluh landasan untuk berbuat kebajikan atau jasa kebajikan. Ajaran ini sangat dianjurkan bagi umat Buddha untuk mempraktikkan keseluruhan dari dasa puññakiriyavatthu tersebut. Sepuluh landasan untuk berbuat kebajikan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Dāna: beramal, memberi, membantu atau menolong makhluk lain tanpa mengharapkan balasan dari mereka yang telah menerima dana kita. Dalam Aṅguttara Nikāya VIII.39 Sang Buddha mengatakan bahwa orang yang telah berbuat baik akan mengalami kelahiran kembali di alam bahagia, seperti di antara para bangsawan, para brahmana, para perumah tangga yang makmur, bahkan di alam surga Tusita, atau di alam Yama. Seorang pelaku kebajikan tentu akan membawa pengaruh terjadinya perubahan yang lebih baik di berbagai situasi.

2. Sῑla: moralitas. Adalah pengendali-an ucapan dan tingkah laku. Kemoralan yang paling dasar adalah dengan menghindari pembunuhan makhluk hidup, pencurian, selingkuh, berbohong, dan mabuk-mabukan. Dalam Dῑgha Nikāya, Mahāparinibbāna Sutta 16, Sang Buddha menyebutkan ada lima manfaat yang diperoleh bagi siapa saja yang melaksanakan sῑla yaitu: 

a. Kemudahan mendapatkan harta kekayaan yang melimpah melalui usaha yang giat (sῑlena bhoga sampadā).

b. Reputasi/nama baiknya tersebar luas, termashyur namanya di dunia hingga alam surga.

c. Tiada rasa canggung penuh percaya diri jika bertemu atau bergaul dengan para bijaksana. Kemana pun ia pergi banyak orang menghormati

d. Meninggal dengan pikiran tenang, dan secara otomatis karena moralnya baik ia terlahir di alam yang lebih baik atau surga (sῑlena sugatiṁ yanti).

e. Dengan moralitas itu pula ia mampu mencapai padamnya kilesa, lenyapnya keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin, sehingga kesempurnaan Nibbāna dapat terealisasi di sini dan kini (sῑlena nibbutiṁ yanti).

3. Bhāvanā: pengembangan batin atau meditasi.

4. Apacāyana: menghormati mereka yang lebih tinggi dari kita, dari segi usia, moralitas, integritas, kebijaksanaan, dan lain-lain.

5. Veyyāvacca: melayani, menolong, membantu melakukan perbuatan baik yang bermanfaat bagi orang lain.

6. Pattidāna: membagi jasa baik atau kebajikan dengan makhluk lain, khususnya kepada makhluk-makhluk di alam menderita yang memiliki hubungan kamma dengan kita.

7. Pattānumodanā: bergembira atas kebajikan yang telah dilakukan orang lain.8. Dhammassavanā: mendengarkan Dhamma. Mendengarkan Dhamma adalah perbuatan baik. Karena itu, pada saat mendengarkan Dhamma-desanā, hendaknya dilakukan dengan benar dan sungguh-sungguh agar mendapatkan manfaatnya.
9.Dhammadesanā: membabarkan Dhamma yang merupakan ajaran dari Sang Buddha.
10. iṭṭhijjukamma: meluruskan pandangan hidup. Hal ini adalah kebenaran dengan cara pandang kita, yang semula tidak mengakui adanya akibat dari perbuatan baik dan buruk, kemudian menjadi sadar tentang akibat perbuatan baik dan buruk, dan sebagainya. 
Inilah sepuluh macam atau cara baik yang apabila dipraktikkan dalam kehidupan akan membawa banyak manfaat. Sungguh amat luar biasa manfaatnya kalau kita mempraktikkan semua perbuatan baik tersebut. Hendaknya mulai sekarang marilah kita munculkan semangat hidup yang baru, karena begitu beruntungnya kita masih memiliki kesempatan untuk melakukan kebajikan dengan melaksanakan ajaran Sang Buddha. 
Mari kita gunakan kehidupan yang sangat singkat sebagai manusia ini untuk menambah kebajikan setiap saat, karena waktu akan terus berlalu tanpa kita sadari dan waktu yang baik adalah apabila kita bisa menggunakan waktu tersebut untuk melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi kita maupun makhluk lain. Semoga kita maju di dalam Dhamma dan terus bersemangat mempraktikkan Dhamma.Sumber:- Kitab Suci Dhammapada, Yayasan Bahusutta Society.- Petikan Aṅguttara Nikāya, Vihāra Bodhivaṁsa, Klaten, 2003. - Kitab Suci Dῑgha Nikāya Mahāparinibbāna Sutta. 



Dibaca : 2230 kali