x

SOLUSI KEJAHATAN

Ayasā’va malaṁ samuṭṭhitaṁ taduṭṭhāya tam’eva khādati.
Evaṁ atidhonacārinaṁ sānikammāni nayanti duggatiṁ.
Bagaikan karat yang timbul dari besi, bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri. Begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk akan menjerumuskan pelakunya ke alam yang menyedihkan.
(Dhammapada 240)

    DOWNLOAD AUDIO

Pendahuluan

Di tengah-tengah kehidupan dewasa ini, manusia lebih mengutamakan keberhasilan pencapaian cita-cita dan keinginannya daripada pelaksanaan moral. Tidak peduli perilaku itu dapat menimbulkan penderitaan dan kerugian buat orang lain akan dilakukan demi tercapainya keinginan tersebut. Orang yang memiliki sikap seperti ini hanya tertarik pada kesenangan atas keberhasilan semata, tidak berupaya melakukan kebajikan untuk meraih keberhasilan. Pencapaian keinginan lebih penting daripada cara untuk mencapainya. Dipicu oleh hal tersebut menjadikan seseorang melakukan tindakan yang tidak terpuji. Perbuatan yang dilakukan menyebabkan kerugian bagi pihak lain. Nafsu-nafsu keinginan menjauhkan manusia dari sifat kemanusiaanya sehingga menimbulkan konflik dan ketegangan dalam masyarakat. Tindakan-tindakan yang tidak terpuji bermuara dari tiga sebab utama, yaitu munculnya nafsu-nafsu ketamakan, kebencian, dan keakuan. 

Bahasan
Ketamakan akan menimbulkan pengambilan milik atau pun perampasan hak milik orang lain, kebencian mendalam menimbulkan nafsu keinginan untuk menyingkirkan ataupun membinasakan orang yang tidak disukai, dan keakuan menimbulkan kesewenang-wenangan yang akan menyusahkan hidup orang lain. Bermula dari tiga sebab utama tersebut maka muncul berbagai tindakan-tindakan yang anti sosial. Kesulitan ekonomi menjadi salah satu pemicu dari timbulnya tindakan-tindakan yang bertentangan dengan norma sosial. Ajaran Buddha mengakui bahwa kesulitan ekonomi dapat menimbulkan tindakan kejahatan. Oleh karena itu masalah kesulitan ekonomi harus bias diselesaikan oleh masyarakat itu sendiri ataupun peran dari pemerintah. Khotbah Buddha dalam Kūṭadānta sutta dapat diketahui bahwa kesejahteraan, kedamaian, dan kebersihan dari tindakan kejahatan dapat diwujudkan dengan peningkatan penghidupan umat manusia.
Penghidupan masyarakat yang sejahtera akan mencegah timbulnya tindakan kejahatan. Menurut ajaran Buddha, segala jenis kejahatan adalah noda dalam dunia sekarang maupun mendatang. Kejahatan bukanlah suatu hal yang mudah dikendalikan. Karena itu orang bijak tidak membiarkan kejahatan menyeretnya ke dalam penderitaan sepanjang waktu. Manusia harus menyadari bahwa kelambanan dalam berbuat kebajikan akan membuat pikiran bergembira dalam kejahatan. Dengan demikian, bergegaslah dalam berbuat kebajikan dan cegahlah pikiran dari kejahatan. ‘Apabila seseorang berbuat jahat, hendaklah ia tidak mengulangi perbuatan yaitu, dan jangan merasa senang dengan perbuatan itu, sungguh menyakitkan akibat dari memupuk perbuatan jahat’. Sebaliknya ’apabila seseorang berbuat bajik, hendaklah ia mengulangi perbuatan itu dan bersukacita dengan perbuatan itu, sungguh membahagiakan akibat dari memupuk perbuatan bajik’. (Dhammapada 117-118).    
Pelaku kejahatan kerap kali tidak menyadari perangai buruknya. Perbuatan jahat yang kecil dianggapnya hal yang biasa. Mereka menjadi buta dan tidak menyadari sesungguhnya perbuatan tersebut sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kejahatan. Pelaku kejahatan melihat perbuatannya sebagai hal yang baik selama tindakan tersebut belum menimbulkan akibat. Akan tetapi, tatkala kejahatan itu menimbulkan akibat yang buruk, ia menyadari sebagai hal yang buruk. Selanjutnya, penyesalan akan timbul setelah seseorang menyadari bahwa dirinya telah berbuat kejahatan.
Buddha menyatakan: ‘Oleh diri sendiri kejahatan tak diperbuat. Karena diri sendiri seseorang menjadi suci. Kesucian atau ketaksucian adalah milik masing-masing. Tak seorangpun dapat menyucikan orang lain’ (Dhammapada 165). 
Selanjutnya dalam kesempatan lain, Beliau menyerukan demikian: ‘menghindari kejahatan dapatlah dilakukan. Apabila tidak dapat dilakukan, Saya tidak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya. Tapi karena dapat dilakukan, Saya berkata padamu: ‘Tinggalkan kejahatan’. Apabila dengan meninggalkan kejahatan akan membawa kerugian dan penderitaan, Saya tidak akan menganjurkan untuk melakukannya. Tapi karena itu membawa keberuntungan dan kebahagiaan, Saya menganjurkan engkau: ‘tinggalkanlah kejahatan’. Mengembangkan kebajikan, dapatlah dilakukan. Apabila tidak dapat dilakukan, Saya tidak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya. Tapi karena dapat dilakukan, Saya berkata padamu: ’kembangkan kebajikan’. Apa bila dengan mengembangkan kebajikan membawa kerugian dan penderitaan, Saya tidak akan menganjurkan untuk melakukannya. Tapi karena itu membawa keberuntungan dan kebahagiaan, Saya menganjurkan engkau: ‘kembangkan kebajikan ’’(Aṅguttara Nikāya 58). Dalam keadaan merebaknya kejahatan yang menjadi bagian kenyataan hidup masyarakat, tiap-tiap negara menyusun aturan hukum untuk menyerat pelaku kejahatan. 

Simpulan
Penyelesaian masalah kejahatan dalam suatu negara bukan hanya dengan menerapkan hukuman, melainkan dengan mencari akar penyebab kejahatan dan mencegahnya melalui perbaikan ekonomi sehingga kehidupan rakyat lebih makmur dan sejahtera. Peran suatu ajaran sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai moral, nilai-nilai kemanusiaan yang akan membangun kembali identitas kepribadian. Buddha mengajarkan untuk malu berbuat jahat (hiri) dan takut akan akibat dari perbuatan jahat (ottappa), dua Dhamma ini patut dimiliki guna menumbuhkan kesadaran untuk menghindari hal-hal yang tidak pantas. Dengan demikian kedamaian dan keamanan dapat terwujud ditengah-tengah masyarakat. Tidak melakukan segala bentuk kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan dan membersihkan batin, inilah ajaran Para Buddha. (Dhammapada 183) 

Sumber:
- Kitab suci Aṅguttara Nikāya, Dhammacitta press
- Kitab suci Dhammapada, bahussuta society
- Kitab suci Dῑgha Nikāya, Dhammacitta press

Dibaca : 86 kali