x

Pañcabala, Lima Kekuatan Penunjang Keberhasilan

Yo ca vassasataṁ jῑve; Kusῑto hῑnavῑriyo
ekāhaṁ jῑvitaṁ seyyo; viriyaṁ ārabhato daḷhaṁ
“Daripada hidup selama seratus tahun bermalas-malasan dan kurang berusaha,
lebih baik hidup satu hari yang penuh dengan semangat perjuangan.”
Dhammapada; Sahassavagga 112

    DOWNLOAD AUDIO

Pendahuluan
Menilik (mencermati) kehidupan manusia, kita akan menemukan suatu kelaziman yang ada di dalamnya. Di manapun berada, sebagai apapun pencahariannya, kaya atau miskin, di kota ataupun di desa, semuanya tentu memiliki harapan atau cita-cita. Bahkan kalaupun ditanya satu per satu, tidak seorang pun yang hidup terlepas dari adanya asa yang ingin dicapainya, baik dalam hal material maupun spiritual. Berdasar dari hasrat inilah yang sesungguhnya akan dapat menunjukkan bagaimana hidup sebagai manusia bukanlah sekadar hidup. Namun, bagaimana dengan bekal kehidupan yang dimiliki, seseorang dapat memahami manfaatnya dan senantiasa mengerti bagaimana upaya untuk memanfaatkannya menuju pencapaian keberhasilan dari apa yang diharapkannya. Suatu harapan hanya akan menjadi khayalan belaka jika hanya ada di angan saja. Oleh karena itu, ketika berbicara tentang asa dan cita-cita, adalah hal wajib pula untuk dibahas adalah tentang perjuangan yang diupayakan untuk mewujudkannya.

Pembahasan
Harapan dan pencapaian keberhasilan merupakan dua hal yang saling berkaitan yang keberadaannya selalu mengiringi kehidupan manusia. Harapan adalah titik awal, sedangkan keberhasilan adalah titik akhirnya. Dalam perjalanannya, tidak semestinya kita mengabaikan titik tengah antara harapan dan keberhasilan yang disebut dengan perjuangan. Perjuangan merupakan harga yang harus dibayar untuk sebuah keberhasilan dari harapan yang dicita-citakan. Tidak ada harapan yang terealisasi tanpa adanya perjuangan sebagai upayanya. Kalaupun ada hasil akhir yang sesuai dengan harapan, itu bukan merupakan keberhasilan, tetapi keberuntungan. Di sinilah kapabilitas manusia dalam upaya mewujudkan harapannya diperhitungkan sebagai tolok ukur kemampuannya.

Potensi pada Manusia
Sebagaimana makna kata manusia yang dalam bahasa Indonesia atau mānusa dalam bahasa Pāḷi, maka sangat penting untuk dapat menyadari potensi yang kita miliki. Di mana istilah manusia berasal dari dua kata yaitu mano dan usa. Mano yang artinya pikiran dan usa yang artinya luhur. Jadi, secara sederhana dapat dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang luhur yang dapat mengembangkan, mengolah dan meningkatkan pikiran menuju kebahagiaan dan kesempurnaan. Menyadari hal ini, bahwa sesungguhnya apapun yang menjadi asa dan harapan, manusia dapat merealisasikannya. Tidak lain adalah dengan membuat sebabnya. Hanya ketika mampu menyadari dan mengembangkan potensinya, apapun harapan manusia dapat diwujudkan. Dengan demikian, sangat penting sebagai manusia untuk senantiasa mengembangkan, mengolah dan selalu berjuang dengan potensi yang ada untuk membuat sebab-sebab keberhasilan.

Perjuangan Perlu Diupayakan
Untuk mewujudkan apa yang diinginkan, satu hal yang patut dipahami adalah bahwa tidak ada keberhasilan, baik material maupun spiritual yang dicapai tanpa adanya perjuangan. Segala bentuk pencapaian keberhasilan diperoleh dari hasil semangat juang yang tinggi. Bodhisatta membutuhkan waktu yang panjang untuk berjuang merealisasikan ke-Buddhaan, pun bangsa Indonesia harus berjuang keras mewujudkan kemerdekaan. Perjuangan menjadi faktor penting sebagai sebab terwujudnya harapan. Dengan demikian, ketika sebabnya telah diupayakan, maka cepat atau lambat akibatnya akan dapat dirasakan. Dalam hal ini, perjuangan adalah sebabnya dan keberhasilan adalah akibatnya.

Di dalam Aṅguttara Nikāya 5.14, Vitthatasutta, Sang Buddha menyampaikan Dhamma tentang kriteria lima kekuatan (pañcabala) yang dapat dijadikan sebagai modal atau penunjang seseorang dalam upaya meraih keberhasilan.
1.    Saddhābala (Kekuatan Keyakinan)
Sebagai manusia, kita harus dapat menumbuhkembangkan keyakinan dalam diri kita. Keyakinan inilah yang akan menjadi kekuatan penggerak; menggerakkan kita untuk mau melakukan sesuatu, untuk mau berjuang, dan untuk melangkah memperjuangkan harapan. Apabila kita yakin, kita akan terus maju. Apabila ragu-ragu, kita akan jalan di tempat dan apabila tidak yakin, kita akan mundur. Keyakinan dalam diri membuat seseorang menjadi lebih optimis, bukan pesimis.
2.    Viriyabala (Kekuatan Semangat)
Semangat adalah hal mendasar yang diperlukan agar kita tetap konsisten serta dapat menjaga komitmen. Tanpa adanya semangat, tidaklah mungkin dapat meraih apa yang diharapkan, terlebih lagi keberhasilan, karena kita tahu bahwa keberhasilan itu lahir dari hasil semangat perjuangan kita. Dengan memiliki semangat, ketika harus berhadapan dengan hambatan dan tantangan, maka kita tidak akan surut ke belakang (menyerah), melainkan akan terus berusaha untuk bangkit dan menumbuhkan semangat juang kita. Selalu berjuang dan berusaha untuk menaklukkan berbagai tantangan dan mewujudkan keberhasilan.
3.    Satibala (Kekuatan Perhatian)
Memiliki kekuatan perhatian akan membuat kita selalu berpengendalian. Berhati-hati dalam berucap maupun bertindak. Memiliki perhatian pada apa yang sedang dikerjakan, sehingga meminimalisir adanya kecerobohan. Dengan kekuatan perhatian ini, seseorang akan selalu eling dan waspada terhadap segala macam kemungkinan yang akan terjadi.
4.    Samādhibala (Kekuatan Konsentrasi)
Dengan kekuatan konsentrasi, seseorang akan tetap fokus dengan komitmen yang ingin dicapai. Dengan mengembangkan kekuatan konsentrasi, seseorang akan dapat berpikir realistis; tidak terlalu optimis maupun tidak terlalu pesimis. Kekuatan ini akan membantu kita untuk dapat fokus terhadap apa yang sedang dikerjakan. Dapat berdedikasi dan berorientasi pada hasil yang baik dan memuaskan.
5.    Paññābala (kekuatan kebijaksanaan)
Menumbuhkembangkan kekuatan kebijaksanaan akan membawa pada pemahaman tentang baik atau buruknya, benar atau salahnya suatu tindakan untuk dilakukan, sehingga menjadi lebih terarah. Dengan demikian, orang yang mengembangkan kekuatan kebijaksanaan senantiasa penuh pertimbangan dalam pengambilan keputusan, sehingga tidak akan menimbulkan kerugian pada dirinya sendiri maupun orang lain.

Penutup
Keberhasilan memanglah hal yang manis, namun belum tentu dengan prosesnya. Dalam perjalanannya, sering kali perjuangan keras harus diupayakan. Seberapa besar perjuangan yang telah diupayakan itulah yang akan merepresentasikan nilai kehidupan manusia. Semakin tangguh menghadapi kesulitan dan semakin besar seseorang mampu berjuang, maka kualitas hidup sebagai manusia akan semakin bernilai. Oleh karenanya, sebagai umat Buddha khususnya dan manusia pada umumnya, dengan berpedoman pada lima kekuatan (pañcabala) hendaknya kita tidak hanya menjadi tuan atas harapan kita, tetapi juga mampu menjadi tuan untuk berjuang mewujudkan asa dan cita-cita.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Referensi:
-    Petikan Aṅguttara Nikāya 2.Klaten: Vihara Bodhivaṁsa.2002.
-    Kitab Suci Dhammapada.Bahussuta Society.2013.

Dibaca : 1224 kali