x

TAK SELAMANYA DIAM ITU EMAS

Tameva vācaṁ bhāseyya, yāyattānaṁ na tāpaye;
Pare ca na vihiṁseyya, sā ve vācā subhāsitā.
“Seseorang seharusnya hanya mengucapkan kata-kata yang tidak membahayakan diri sendiri dan tidak menyebabkan bahaya bagi orang lain.
Itulah sesungguhnya ucapan yang indah. (Sn 451)

    DOWNLOAD AUDIO

Pepatah mengatakan, “Diam itu emas”. Tidak sedikit orang yang lebih memilih diam karena mereka merasa bahwa diam itu baik dan akan segera menyelesaikan masalah tanpa harus ada yang tersakiti. Bagi mereka yang berprinsip diam itu emas, mungkin banyak bicara atau mengambil langkah lain hanya akan menambah perkara dalam permasalahan yang ada. Akan tetapi, apakah persoalan akan tuntas dengan cara diam? Apakah semua masalah dapat diselesaikan jika kita hanya diam? Jawabannya tentu saja tidak.

Sang Buddha telah menunjukkan teladan yang nyata tentang kapan dan bagaimana sikap diam yang sempurna. Sikap diam Sang Buddha ditunjukkan dengan istilah "ariya tuṇhῑbhāva" (berdiam dalam cara yang luhur). Frasa ini sering diterjemahkan sebagai "noble silent". Dalam sikap ini, Sang Buddha tampak diam, tampak tidak beraksi, tetapi dalam sikap diam tersebut, Sang Buddha melakukan sesuatu yang luhur, luar biasa, sesuatu yang sanggup menembus ruang kemanusiaan. Saat Beliau diam itulah, Sang Buddha memancarkan cinta kasih-Nya kepada semua makhluk, tanpa ada batasan, tanpa pengecualian. Pemancaran cinta kasih tersebut dilakukan dengan mengembangkan sati (kesadaran, kewaspadaan). Saat seseorang mengembangkan kesadaran, saat itu dia tidak menyakiti siapa pun, baik dirinya sendiri maupun makhluk lain. Saat diri sendiri terlindungi, makhluk lain pun akan terlindungi.

Adakalanya sikap diam Sang Buddha dapat diartikan sebagai persetujuan. Bila ada yang mengundang Sang Buddha untuk menerima dana makanan atau tinggal di suatu tempat atau melakukan kunjungan ke suatu tempat, Sang Buddha akan diam sebagai wujud atau tanda bahwa beliau setuju menerima undangan tersebut. Namun, jika Sang Buddha telah menerima undangan dari yang lain, Sang Buddha akan menolaknya dengan mengatakan bahwa Beliau telah diundang oleh orang lain.

Selain itu, ada juga saat-saat tertentu Sang Buddha diam, bukan karena praktik yang mendalam, bukan karena persetujuan tetapi karena Sang Buddha memahami bahwa tidak ada gunanya bersuara atau berkomentar. Sikap diam ini tampak jelas diambil saat Sang Buddha mendapatkan pertanyaan-pertanyaan spekulatif, seperti asal mula dunia dan lain-lain. Pertanyaan semacam itu tidak membebaskan seseorang dari penderitaan, sebaliknya justru menyesatkan orang dalam rimba pandangan. Begitu pula ketika Sang Buddha difitnah oleh banyak kelompok petapa lainnya yang dipicu oleh rasa iri dan benci, beliau menghadapinya dengan cara bertahan. Tidak sekedar bertahan, Sang Buddha juga tidak berkomentar apa pun. Sang Buddha tetap diam menghadapi fitnah dan tuduhan yang tidak benar tersebut.

Dalam beberapa kasus, Sang Buddha juga mengambil sikap diam untuk kepentingan internal. Akan tetapi, sikap diam semacam ini akan didahului dengan nasihat terlebih dahulu. Jika nasihat tersebut tidak diindahkan, barulah Sang Buddha akan diam. Contohnya adalah kasus yang menyangkut percekcokan antara dua kelompok bhikkhu yang terjadi di Kosambi. Belakangan kedua kelompok bhikkhu tersebut menyadari dan menyesali kesalahan yang telah mereka lakukan. Mereka mengunjungi Sang Buddha di Sāvatthi. Sang Buddha pun memberikan nasihat demi kerukunan, kediaman dan rasa persaudaraan di antara para bhikkhu.

Dilandasi dengan kasih sayang (anukampa) kepada semua makhluk, Buddha mengatakan sesuatu sesuai dengan kondisi sebagai berikut (M 1.394):
1.    Benar (bhūta) atau tepat (taccha)
2.    Berfaedah (atthasaṁhita)
3.    Disukai (piyā) dan diterima (manāpā) oleh orang lain
4.    Tahu waktu yang tepat (kālaññū)

Berdasarkan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha, sikap diam hanya dapat digunakan pada situasi dan kondisi yang berbeda-beda, serta bersifat sementara. Dalam kasus tertentu, berdiam diri patut dikembangkan. Namun di balik sikap diam itu, kita harus mampu mengambil tindakan yang tepat tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ketika dihadapkan pada situasi yang sulit, pertimbangkanlah dengan matang, apakah ingin berbicara ataupun menunggu waktu yang tepat untuk bicara. Apabila kita tidak bijaksana dalam berdiam diri maka sangat rentan memunculkan salah paham, keributan, bahkan perselisihan.

Diam dapat menjadi emas apabila pikiran sedang tegang, perasaan sedang tidak enak, atau emosi negatif sedang meluap-luap. Dalam kondisi demikian, perkataan biasanya menjadi tidak karuan. Tenangkan pikiran sejenak sebelum berbicara mencari titik temu. Penyelesaian masalah akan terwujud jika ucapan selaras dengan kebenaran dan kearifan. Oleh karena itu, tidaklah salah jika berkata sesuatu yang dapat membawa kemajuan bagi diri sendiri maupun orang lain. Dengan menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada, diam itu emas tetapi bicara dapat menjadi berlian.

Sebelum mengatakan sesuatu, ada baiknya jika setiap orang merenungkan perbandingan kualitas ucapan sebagai berikut (M 1.126):
•    Tepat pada waktunya (kālena) vs tidak tepat pada waktunya (akālena)
•    Sesuai dengan kenyataan (bhūtena) vs tidak sesuai dengan kenyataan (abhūtena
•    Lembut (saṇhena) vs kasar (pharusena)
•    Membawa manfaat (atthasaṁhitena) vs tidak membawa manfaat (anatthasaṁhitena)
•    Termotivasi oleh cinta kasih (mettacittā) vs termotivasi oleh kebencian (dosantarā)

Apa yang diucapkan dengan baik adalah perkataan Sang Buddha (A 4.164). Setiap orang seharusnya menyampaikan kebenaran, memakai kata-kata yang manis dan bersahabat, enak didengar, lemah lembut, mempunyai arti, serta berguna bagi orang lain. Apabila tidak dapat mengutarakan sesuatu yang benar dan berguna, maka lebih baik diam seribu bahasa. Sebaris kalimat dapat menimbulkan suka cita, menciptakan perdamaian, dan menumbuhkan kebijaksanaan. Sebaliknya, hanya dengan satu kata dapat menciptakan perpecahan, menyulut peperangan, dan menghancurkan hidup orang lain. Semoga setiap orang dapat memilih kata-kata yang bajik dan bijak demi manfaat dan kebahagiaan semua makhluk.


Dibaca : 1962 kali