x

KERUKUNAN YANG DI TINJAU DARI SĀRĀṆῙYA DHAMMA

Sārāṇῑya Dhamma (hal-hal yang membuat saling dikenang)

    DOWNLOAD AUDIO

Sebagai manusia yang hidup bermasyarakat, kerukunan merupakan sebuah dambaan, harapan dan keinginan dalam kehidupan setiap insan. Tidak ada seorang individu yang menginginkan kehidupannya saling bermusuhan dengan yang lain, sebab hidup yang dipenuhi dengan permusuhan akan mendatangkan keresahan, rasa tidak aman, ketakutan, memunculkan ancaman, dan lain-lain. Hal ini tentu saja disebabkan karena sudah tidak saling menghormati, tidak menghargai dan saling mencela satu dengan yang lain. Sebaliknya jika dalam kehidupan selalu rukun maka akan menciptakan suasana yang begitu tenang, tanpa ada ketakutan, tidak ada kekhawatiran, dan merasa aman. Kerukunan itu akan dapat tercipta apabila setiap orang dapat memahami sifat-sifat orang lain dan bisa mengendalikan diri dalam berprilaku dan berucap.

Salah satu khotbah Sang Buddha yang mengajarkan bagaimana seseorang agar hidupnya menjadi rukun terdapat dalam Sārāṇῑya Dhamma (hal-hal yang membuat saling dikenang). Sārāṇῑya Dhamma ini membahas mengenai hal-hal yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati, menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, kerukunan dan kesatuan. Meskipun dalam khotbah ini Sang Buddha mengajarkannya kepada para bhikkhu, khotbah ini, tentu saja dapat dipraktikkan seorang perumah tangga. Karena khotbah ini begitu sangat luar biasa jika dipraktikkan oleh siapapun. Keenam hal yang hendaknya dipraktikkan itu adalah:

1.Memiliki pikiran yang disertai dengan cinta kasih, baik di belakang maupun di depan
Pikiran yang disertai dengan cinta kasih ini tentu saja seseorang tidak selalu berpikir hal-hal yang buruk terhadap orang lain, tidak menjadi orang yang pendendam, dan selalu curiga terhadap orang lain. Pengembangan pikiran yang disertai dengan cinta kasih ini merupakan pengembangan mettā, karena mettā ini dikembangkan di dalam pikiran seseorang, seperti yang terdapat dalam mettā Sutta dari Khuddakanikāya, “sebagaimana seorang ibu mempertaruhkan jiwa melindungi putra tunggalnya; demikianlah terhadap semua makhluk, kembangkanlah pikiran cinta kasih tanpa batas”. 

2.Memiliki ucapan yang disertai dengan cinta kasih, baik di belakang maupun di depan
Sebagaimana yang telah di ajarkan oleh Sang Buddha, ketika seseorang berucap hendaknya ucapan tersebut indah di awal, indah di pertengahannya, indah di akhir, serta makna dan tujuannya. Dalam hal ini, seseorang juga tidak membicarakan orang lain (bergosip), tidak memfitnah, tidak menghina, tidak merendahkan, dan ucapannya tidak menjatuhkan orang lain. Seseorang yang dapat menjaga ucapannya, tentu akan dihargai oleh orang lain ketika berucap, bahkan ketika berucap akan didengarkan dan dihargai, sebagaimana terdapat di dalam dhammapada dikatakan “bagaikan sekuntum bunga yang indah serta berbau harum; demikian pula sungguh bermanfaat kata-kata mutiara yang diucapkan oleh orang yang melaksanakannya”.

3.Memiliki perbuatan yang disertai dengan cinta kasih, baik di belakang maupun di depan
Mengenai perbuatan yang disertai cinta kasih ini, tentu saja adalah implementasi dari pengembangan mettā itu sendiri atau disebut dengan karuṇā atau belas kasih. Orang yang memiliki belas kasih ini tentu akan banyak melakukan tindakan-tindakan nyata untuk kebahagiaan makhluk lain. Belas kasih ini akan dapat menggugah atau memunculkan keinginan untuk menolong makhluk lain agar dapat terbebas dari penderitaan yang sedang dialami. Sebagai contoh adalah ketika melihat kecelakaan, bukan menonton atau berteriak-teriak saja, tetapi dengan segera ia menolong orang tersebut. 

4. Saling berbagi sesuatu yang pantas dan diperoleh dengan cara yang pantas
Saling berbagi adalah latihan awal yang harus seseorang latih dan kembangkan. Banyak penjelasan di dalam khotbah-khotbah Sang Buddha yang membahas hal ini. Berkaitan dengan saling berbagi sesuatu yang pantas ini adalah berbagi apa yang layak, bermanfaat dan berguna bagi penerimanya. Jika sesuatu itu tidak layak, bermanfaat dan berguna ini bukanlah berbagi sesuatu yang pantas. Bahkan saat akan memberi sesuatu, apa yang hendak diberikan ini hendaknya diperoleh dengan cara yang pantas dan bukan dari mencuri atau korupsi, tetapi dari kerja keras sendiri. Dengan demikian apa yang diberikan tentu akan memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain dan akan dapat mendatangkan kebahagiaan bagi si pelaku dalam waktu yang lama.

5. Memiliki kesamaan dalam hal moralitas
Sang Buddha mengajarkan kepada para siswanya baik para perumah tangga maupun sebagai pabbajita. Peraturan yang diberikan berbeda-beda, bagi perumah tangga menjalankan pancasῑla (lima sila) atau aṭṭhasῑla (delapan sila). Sebagai Atthasilani menjalankan 8 aturan pokok dan 75 aturan tambahan; sebagai Sāmaṇera menjalankan 10 aturan pokok, 75 sekhiyā, 10 peraturan yang jika dilanggar menyebabkan Sāmaṇera tersebut dilepas jubah dan 5 peraturan jika dilanggar mendapatkan hukuman kerja; dan Bhikkhu menjalankan 227 aturan yang terdapat di dalam pāṭimokkha. Semua siswa Buddha menjalankannya sama, tidak ada yang berbeda satu dengan yang lain.

6. Memiliki kesamaan dalam hal pandangan benar.
Dalam dhamma Sang Buddha kita diajarkan untuk tidak berbuat jahat, dianjurkan untuk banyak-banyak melakukan perbuatan baik dan menyucikan hati dan pikiran. Selain itu juga dapat membebaskan diri dari derita, sehingga dapat memperoleh kebahagiaan sejati (nibbāna). Sebagai perumahtangga maupun pabbajita tujuannya adalah sama, membebaskan diri dari derita, karena tidak ada siapapun yang mau menderita. Maka oleh sebab itu, bagi yang mengerti dhamma hendaknya dapat berupaya saat ini juga, karena dengan mempraktikkan dhamma dengan sungguh-sungguh siapapun akan dapat berbahagia. 

Dibaca : 1595 kali