x

KENYATAAN KEHIDUPAN

Lābho alābho yaso ayaso ca, nindā pasaṁsā ca sukhaṁ ca dukkhaṁ,
Ete aniccā manujesu dhammā, nā soci kiṁ socasi poṭṭhapāda.
Keuntungan dan kerugian, terkenal dan tercemar, celaan dan pujian, kebahagiaan dan kesedihan; semuanya adalah kewajaran dalam kehidupan manusia. Tidak kekal adanya. Janganlah bersedih. Untuk apa bersedih?
(KN, Jātaka bagian I/615)

    DOWNLOAD AUDIO

Di dalam buku berjudul “FAKTA KEHIDUPAN” yang ditulis oleh Yang Mulia Narada Maha Thera memberi gambaran secara awal bahwa  kita hidup dalam dunia yang tidak seimbang. Dunia tidak seluruhnya berisikan bunga mawar atau pun seluruhnya  berduri. Bunga mawar itu lembut, indah dan harum; tapi tangkainya penuh dengan duri. Karena bunga mawarlah, orang membiarkan duri-durinya. Bagaimana pun, orang tidak akan meremehkan bunga mawar karena duri-durinya.

Bagi seorang yang optimis, dunia ini seluruhnya berisi bunga mawar; bagi seorang yang pesimis, dunia ini seluruhnya berduri. Tapi untuk seorang realis, dunia ini tidak seluruhnya berisi bunga mawar atau pun seluruhnya berduri. Baginya dunia berisi keduanya, bunga mawar yang indah dan duri-duri yang tajam. Orang yang mengerti tidak akan terbius oleh keindahan bunga mawar tapi akan melihatnya sebagaimana adanya/nyatanya. Mengetahui dengan baik sifat dari duri-duri, ia pun akan melihat mereka sebagaimana adanya secara obyektif dan akan berhati-hati agar tidak terluka.
Bagaikan bandul yang terus-menerus bergoyang ke kiri dan ke kanan, empat keadaan yang  diinginkan dan empat keadaan yang tidak diinginkan terus berlangsung di dunia ini. Setiap orang tanpa kecuali harus menghadapi keadaan-keadaan ini sepanjang hidupnya. Keadaan ini adalah keuntungan dan kerugian, terkenal dan tercemar, celaan dan pujian, kebahagiaan dan kesedihan.

Memperoleh keuntungan, menjadi terkenal, mendapat pujian, mengalami kebahagiaan adalah hal yang wajar bahwa seseorang menjadi puas, serta gembira menerima keempat kondisi ini. Namun akan bertolak belakang dengan empat keadaan (*) sebaliknya: *Mengalami kerugian (misalnya: usahanya bangkrut, tokonya terbakar, terkena bencana alam, hilangnya harta benda, jatuh miskin dan lain-lain) Orang yang mengalami mungkin bisa  stres, bingung, cemas, gila, bahkan ada yang lebih parah lagi kemudian mengambil jalan pintas melakukan tindakan bunuh diri.

*Nama baik tercemar, dilengser dari kedudukan, awalnya dielu-elukkan banyak orang setelah kedudukannya tinggi, dijatuhkan (reputasi yang telah susah payah dibangun bisa hancur dalam waktu sekejap), bagaikan mendapat mimpi buruk dan harus menelan pil pahit yang sulit ditelan.
*Mendapat celaan (contoh: Sang Buddha adalah guru yang terkenal, sering mendapat celaan, hinaan,  dan tuduhan yang bersifat memfitnah bahkan mau dibunuh oleh muridnya sendiri yaitu Devadatta, sepupu-Nya). Jika Sang Buddha yang sempurna dan tidak bersalah saja dicela, bagaimana dengan manusia biasa yang belum sempurna?

Ada pepatah mengatakan pohon semakin tinggi akan mendapatkan terpaan angin yang semakin kencang pula, semakin tinggi kedudukan seseorang semakin menjadi sorotan dan dikecam habis-habisan serta ingin dijatuhkan oleh orang yang iri hati. Orang yang bermoral rendah dan jahat cenderung mencari keburukan orang lain, tetapi tidak akan mencari kebaikannya. Sang Buddha bersabda, “Mereka yang banyak berbicara dicela. Mereka yang sedikit berbicara dicela. Mereka yang diam juga dicela. Di dunia ini tidak ada yang tidak dicela!”. Seorang yang bekerja dengan maksud baik, tetapi dunia luar seringkali salah menganggap dan mengerti kemudian melakukan penilaian dan penghakiman yang subyektif. Seringkali kehidupan para negarawan yang mempunyai kekuasaan berada di ujung tanduk. Kasus yang menyedihkan dari Mahatma Gandhi dan John F Keneddy adalah contoh-contohnya.

*Kebahagiaan kita terima, tetapi tidak untuk kebalikannya -kesedihan/ penderitaan- lebih sulit untuk ditahan, misalnya ketika mengalami kondisi yang disebabkan usia tua, sakit, berpisah dengan yang dicintai, tidak memperoleh apa yang diharapkan adalah dukkha.

Meskipun, ketika mendapatkan empat kondisi meguntungkan orang merasa puas, gembira, dan bisa menerimanya, tetapi harus diingat bahwa semuanya itu pun tidak kekal/bersifat sementara. Perlu dipahami bahwa delapan kondisi dunia ini merupakan realita kehidupan yang terus berubah. Pada saat terkena perubahan terutama yang tidak menguntungkan dan kita tidak bisa menerima perubahan ini akan timbul dukkha. Dukkha/kesedihan itu timbul karena nafsu kemelekatan atau penolakan terhadap perubahan. Mengapa?  Karena kita menginginkan yang kekal yaitu selamanya untung, terus terkenal, pujian yang tanpa putus, kebahagiaan yang abadi, tidak mengalami tua, sakit, mati, berpisahan dengan orang/harta yang dicintai, dan selalu memperoleh sesuatu sesuai yang diharapkan. Inilah nafsu kemelekatan, keinginan seperti ini adalah pandangan salah yang tidak sesuai Dhamma ajaran Sang Buddha.

Sebagai umat Buddha, bagaimana caranya agar kita memiliki pandangan yang benar dalam menyikapi kenyataan kehidupan yang terus berubah ini? Anjurannya adalah hendaknya kita berusaha belajar dan memahami Dhamma secara lengkap, pengertian lengkap adalah melalui proses tiga tahapan yaitu pariyatti (belajar), paṭipatti (pelaksanaan/ melaksanakan), pativedha (hasilnya, memperoleh pengetahuan Dhamma), tiga tahap ini merupakan satu paket yang saling melengkapi. Perlu diketahui bahwa Dhamma ajaran Sang Buddha tidak cukup hanya dipahami secara intelektual saja tetapi setelah  dimengerti secara intelektual/teori, harus ditindaklanjuti dengan melaksanakan hingga menembus hakekat Dhamma atau kebenaran sebagaimana nyatanya. Begitu menembus hakekat kehidupan ini maka secara otomatis kita akan dapat mengharmonikan sikap dan cara pandang sesuai dengan Dhamma sehingga dapat menghadapi realita kehidupan ini dengan batin seimbang. Bila tidak bisa menerima perubahan sebagai perubahan maka perubahan akan menjadi dukkha/konflik batin. Jika dapat menerima perubahan sebagai perubahan, maka perubahan adalah perubahan bukan lagi penderitaan, terjadilah keseimbangan batin/bebas gejolak batin. 

Sang Buddha bersabda, “ketika tersentuh oleh kondisi duniawi, pikiran dari seorang Arahat tidak pernah terpengaruh/tergoncangkan lagi”. Marilah kita terus mengembangkan kebajikan dengan melaksanakan Dāna, Sῑla, Samādhi, dan Paññā. Semoga suatu saat kita akan dapat sepenuhnya menghadapi realita (kenyataan kehidupan) ini dengan pikiran yang seimbang, damai dan bahagia bebas dari kesedihan.

Dibaca : 1468 kali