x

ANUPUBBIKATHĀ

“Dhammapῑti sukhaṁ seti, vippasannena cetasā;
Ariyappavedite dhamme, sadā ramati paṇḍito.” 
Ia yang mengenal Dhamma akan hidup berbahagia dengan pikiran yang tenang.
Orang bijaksana selalu bergembira dalam ajaran yang dibabarkan oleh para Ariya.
-Dhammapada, 79-

    DOWNLOAD AUDIO

Ketika sang Buddha telah mencapai penerangan sempurna, Tapussa dan Balika, yang kita kenal saat ini sebagai siswa awam (upāsāka) pertama di dunia, beliau berdua menerima ajaran pertama kali, bukan Dhammacakkapavattana Sutta, akan tetapi sang Buddha mengajarkan anupubbikathā, yang disampaikan di bawah pohon Rajayatana, yang sebetulnya merupakan ajaran paling awal yang disampaikan oleh sang Buddha. Anupubbikathā juga sering disampaikan oleh sang Buddha kepada umat awam seperti Yasa dan keluarganya, juga kepada Bhaddavaggiya.
Apa keistimewaan anupubbikathā sehingga disampaikan terlebih dahulu oleh sang Buddha? Ajaran anupubbikathā merupakan ajaran untuk melunakkan batin, agar batin pendengarnya menjadi siap untuk menerima ajaran selanjutnya yaitu empat kebenaran mulia (Cattāri Ariyasaccāni). Anupubbikathā terdiri dari kata ”anu” yang artinya progesif,  “pubbi” yang artinya dahulu, “kathā” yang artinya pembicaraan, jika digabungkan maka artinya adalah pembicaraan dahulu yang PROGESIF, PROGESIF kepada apa? PROGESIF kepada empat kebenaran mulia.
Anupubbikathā dapat ditemukan di salah satu Sutta yaitu Udayi Sutta (AN.V.9). Apakah isi dari anupubbikathā?

1.Dānakathaṁ (kemurahan hati)
Kemurahan hati di sini digunakan untuk menghalangi kekikiran (Macchariya), mengapa dāna didahulukan? Karena ada sistematis yang digunakan oleh sang Buddha, di mana dāna membuat batin jadi indah (Dāna Sutta, AN.7.52), sedangkan kekikiran tidak membawa pada kemajuan batin seseorang (Macchari Sutta, SN.I.49).
2.Sῑlakathaṁ (moralitas) 
Moralitas juga memegang peranan penting di dalam pengembangan batin, karena dengan moralitas yang baik akan membawa pada konsentrasi yang baik, dan pada akhirnya membawa pada kebijaksanaan (Mahāparinibbāna Sutta, DN 16). Fungsi dari moralitas adalah membawa pada tiada penyesalan, sehingga dalam latihan pengembangan batin tidak muncul rasa was-was ataupun rasa dihantui oleh perbuatan buruk yang telah dilakukan. Banyak anggapan bahwa moralitas sekarang lebih buruk daripada zaman dulu, sehinga untuk pencapaian kesucian sudah tidak memungkinkan. Ini adalah pandangan pesimis. Pada kenyataannya jika kita melihat zaman sekarang dan zaman dulu tetap sama. 
3.Saggakathaṁ (kebahagiaan surgawi)  
Ketika seseorang telah melakukan kemurahan hati dan pengendalian diri (moralitas), maka sebagai hasilnya seseorang tersebut memperoleh kehidupan baik seperti di alam surga. Kualitas hidupnya menjadi baik (sῑlena sugatiṁ yanti, sῑlena bhogasampada), sehingga pendengarnya menjadi terkesan dan bahagia (abhinanda) atas perbuatan baik yang dilakukannya. Bukti dari orang menginginkan surga adalah setiap dalam doa seseorang, ingin ke alam bahagia.
4.Kāmānaṁ ādīnavaṁ okāraṁ saṁkilesaṁ (bahaya dalam kesenangan indria)
Selanjutnya Sang Buddha men-jelaskan tentang titik balik bagi orang-orang yang terpuaskan dalam kesenangan indriawi, bahwa kenikmatan indria ada batasnya dan tidak memuaskan bagi orang-orang, setelah menikmatinya maka akan meminta lagi, kemelekatan seperti ini yang ditunjukkan oleh Sang Buddha. Kemelekatan seperti ini akan menyeret batinnya jauh terperosok dan menimbulkan penderitaan berulang kali, sebagai contoh di dalam Alagaddūpama Sutta (MN. 22), diberikan ilustrasi bagaimana bahayanya nafsu indriawi yang memberikan sedikit kesenangan, tetapi memberi banyak bahaya. Pada zaman ini pun bahaya kesenangan indriawi tetap eksis, zaman dahulu eksis, zaman akan datang juga tetap eksis, singkatnya bahaya kesenangan indriawi akan melanda siapapun yang terlena dengan kenikmatannya.   
5. Nekkhamme ānisaṁsaṁ (faedah-faedah peninggalan ter-hadap kesenangan indria)
Sampai pada segi yang positif dan langkah yang menentukan dari praktik yang berguna bagi per-kembangan batin, meninggalkan segala bentuk kesenangan indria. Proses yang wajar dan alami dari terbukanya ikatan dan batin mencari suatu nilai yang lebih tinggi karena kekecewaannya. Cara yang telah disebutkan di atas membawa seorang pendengar selangkah demi selangkah menuju suatu cara yang sempurna ke pembebasan dari penderitaan. Dengan cara ini, seseorang menghilangkan semua kekikiran batin dan kemudian melatih dirinya dalam praktik pengendalian diri, dengan suatu harapan untuk memperoleh kesenangan indria, menjadi kecewa dan sebaliknya berusaha untuk meninggalkannya. Dengan memiliki sikap batin ini, seseorang akan memiliki kondisi batin yang mudah dibentuk. Seperti sebuah kain polos yang murni, dapat dicelup dengan warna apa saja dan warna tersebut dapat terserap dengan sempurna, seperti itulah batin seseorang yang melaksanakan anupubbikathā akan mudah menerima ajaran tentang empat kebenaran mulia, sehingga benar-benar bisa terbebas dari penderitaan.
Anupubbikathā dapat di-laksanakan pada saat ini dan pada saat yang akan datang. Karena ajaran Sang Buddha mengajarkan kepada kita hal yang sederhana, menghadapi hal yang sederhana yaitu batin kita sendiri. Karena sesungguhnya orang yang mampu mengenal Dhamma akan hidup berbahagia dengan pikiran yang tenang. Pada akhirnya merealisasi pembebasan sejati (Nibbāna).


Dibaca : 98 kali