x

Kebahagiaan Merupakan Tujuan Semua Makhluk

Idha modati pecca modati katapuñño ubhayattha modati 
So modati so pamodati disvā kammavisuddhimattano 
“Di dunia ini ia bergembira, di dunia sana ia bergembira, pelaku kebajikan 
bergembira di kedua dunia itu. Ia bergembira dan bersuka cita 
karena melihat perbuatannya sendiri yang bersih”
(Dhammapada Yamaka-Vagga, syair 16)

    DOWNLOAD AUDIO

Semua makhluk mendambakan, menginginkan, mengidam-idamkan kebahagiaan terutama manusia. Manusia sangat mendambakan kebahagiaan itu sendiri, tetapi perlu diketahui setiap manusia mempunyai cara dan tujuan yang sangat berbeda antara satu dengan yang lain untuk memperoleh kebahagiaan. Ada beberapa manusia mencari kebahagiaan menggunakan cara yang benar dan juga sebagian mencari kebahagiaan menggunakan cara yang kurang tepat. Hal pertama yang harus dilakukan, ketika seseorang menginginkan kebahagiaan dengan cara menghindari perbuatan buruk, pernyataan ini dinyatakan oleh Sang Buddha dalam Dhammapada 183, yaitu Sabbapāpassa akaraṇaṁ artinya “tidak melakukan segala bentuk kejahatan”. Dengan upaya untuk tidak melakukan segala bentuk perbuatan buruk maka secara otomatis terkondisi untuk melakukan perbuatan yang baik, karena hanya perbuatan baik yang mampu menjadi pengondisi buah kebahagiaan.

Mengenai tidak melakukan kejahatan dijelasakan dalam Aṅguttara Nikāya (II,15) “tinggalkan kejahatan, O para bhikkhu. Para bhikkhu, manusia dapat meninggalkan kejahatan. Seandainya manusia tidak dapat meninggalkan kejahatan, Aku tidak akan menganjurkan kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan, maka Kukatakan, tinggalkanlah kejahatan”. Kejahatan yang dimaksud di sini adalah kejahatan melalui tiga pintu perbuatan yaitu jasmani, ucapan, dan pikiran, karena jika ketiga hal ini dikembangkan, maka penderitaan selalu mengikuti kemanapun kita pergi seperti halnya syair di dalam kitab suci Dhammapada Yamaka-Vagga syair pertama dikatakan “penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya”. Makna dari kutipan ini ialah penderitaan dianalogikan roda pedati mengikuti langkah-langkah kaki lembu yang menariknya karena lembu yang menariknya menderita seperti halnya perbuatan buruk akan mengondisikan buah penderitaan bagi si pelaku keburukan.

Cūlakammavibhangga Sutta dalam Majjhima Nikāya menyatakan jika kamma pembunuhan secara langsung menentukan kelahiran kembali, maka hal itu akan menghasilkan kelahiran kembali dalam salah satu alam sengsara. Tetapi jika kamma baik mengantarkan menuju kelahiran kembali di alam manusia dan karena kelahiran kembali sebagai manusia selalu diakibatkan oleh kamma baik, kamma pembunuhan akan bekerja dengan cara yang berlawanan dengan kamma penghasil kelahiran kembali dengan menyebabkan berbagai kemalangan yang bahkan berujung pada kematian prematur. Prinsip yang sama berlaku pada kasus perbuatan buruk yang lain, di mana jika kamma buruk menjadi matang dalam kehidupan sebagai manusia dalam tiap-tiap kasus kamma buruk melawan kamma baik yang bertanggung jawab atas kelahiran kembali sebagai manusia dengan menimbulkan jenis kemalangan tertentu sesuai kualitas yang lebih dominan.

Untuk memperoleh kebahagiaan setiap makhluk terutama manusia harus berusaha setiap saat untuk mengembangkan perilaku baik di setiap kehidupannya, karena hanya dengan menghindari keburukanlah kebahagiaan dapat diperoleh. Selain menghindari segala bentuk kejahatan untuk memperoleh kebahagiaan, tentunya seseorang berusaha mengembangkan kebajikan seperti halnya yang dituangkan dalam syair Dhammapada 183 yaitu, Kusalassupasampada yang mempunyai arti “mengembangkan kebajikan” selain itu dalam Aṅguttara Nikāya (II,I,5) menyatakan bahwa “Kembangkanlah kebaikan, O para bhikkhu, manusia dapat mengembangkan kebaikan. Seandainya saja manusia tidak mungkin mengembangkan kebaikan, Aku tidak menganjurkan kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan, maka Kukatakan kembangkanlah kebaikan”. Dari pernyataan ini dapat dilihat bahwa untuk memperoleh kebahagiaan tidak ada cara lain selain mengembangkan kebaikan. Dhammapada Yamaka-Vagga syair ke dua menyatakan “kebahagiaan akan mengikuti bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya”. 

Mengenai kebahagiaan dapat disimak cerita tentang Gopika yang kemudian terlahir sebagai salah satu putra Dewa Sakka yang bernama Gopaka yang ada di dalam Sakkapañha Sutta Dῑgha Nikāya, dalam cerita ini perbuatan yang dikembangkan adalah perbuatan baik yaitu dengan tekun melatih moralitas (sῑla) dan selalu memberi (dāna) dengan penuh keyakinan. Untuk memperoleh kebahagiaan dua hal ini harus dipenuhi yaitu, tidak melakukan segala bentuk kejahatan dan selalu mengembangkan segala kebaikan, maka kebahagiaan akan selalu mengikuti dan menyertai di setiap saat. Aṅguttara Nikāya (III,150) menjelaskan “Makhluk apa pun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang pagi hari, maka pagi hari yang bahagia menjadi milik mereka. Makhluk apa pun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang siang hari, maka siang hari yang bahagia menjadi milik mereka. Makhluk apa pun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang malam hari, maka malam hari yang bahagia akan menjadi milik mereka”. 

Selain itu, hendaknya seseorang memperhatikan dua jenis kebahagiaan yang harus dikejar dan yang harus dihindari yaitu, dalam mengejar kebahagiaan jika faktor-faktor tidak baik meningkat dan faktor-faktor yang baik berkurang, maka kebahagiaan demikian harus dihindari. Dan dalam mengejar kebahagiaan faktor-faktor tidak baik berkurang dan faktor-faktor yang baik meningkat, maka kebahagiaan demikian harus dikejar. Serta Kebahagiaan yang disertai awal pikiran dan kelangsungan pikiran dan yang tidak disertai awal pikiran dan kelangsungan pikiran, yang ke dua adalah lebih luhur. Dua jenis kebahagiaan yang harus dihindari dan harus dikejar juga berlaku pada pikiran, ucapan, dan badan jasmani. Semisalnya perbuatan jasmani: Ketika melakukan suatu perbuatan tertentu, faktor-faktor tidak baik meningkat dan faktor-faktor yang baik berkurang, maka perbuatan jasmani demikian harus dihindari. Ketika dengan melakukan suatu perbuatan tertentu, faktor-faktor tidak baik berkurang dan faktor-faktor yang baik meningkat, maka perbuatan jasmani demikian harus diikuti.

Untuk memperoleh kebahagiaan, tentunya tergantung diri sendiri karena diri sendirilah sebagai tuan rumah. Analoginya, jika ada tamu maka yang menentukan tamu itu dapat masuk ke rumah adalah tuan rumah. Jika tuan rumah tidak menghendaki tamu itu untuk masuk, maka sampai kapanpun tamu itu tidak akan pernah masuk. Tetapi jika tamu itu dikehendaki tuan rumah untuk masuk, maka tamu itu akan dapat masuk. Demikian juga halnya dengan kebahagiaan, jika kebahagiaan itu diupayakan, maka kebahagiaan itu akan didapatkan. Tetapi jika kebahagiaan itu tidak diupayakan, maka sampai kapan-pun orang tersebut tidak akan memperoleh kebahagiaan karena kebahagiaan tidak datang secara gratis, melainkan datang dengan tindakan nyata, yaitu dengan mengembangkan kebajikan. Jika ada kebahagiaan yang lebih besar, mengapa tidak mencoba untuk mengorbankan kebahagiaan yang kecil. 

<> Ciraṁ Tiṭṭantu Saddhammo (Semoga Dhamma sejati dapat bertahan lama) <>

Referensi:
Vijanao, Win.2013. Kitab Suci Dhammapada. Singkawang selatan: Bahussuta Society.
Walshe, Maurice. 2009. Khotbah-khotbah Panjang Sang Buddha Dῑgha Nikāya. Tanpa kota: Dhammacitta.
Ñanamoli dan Bodhi. 2013. Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha Majjhima Nikāya. Jakarta Barat: Dhammacitta Press.
Ñanamoli dan Bodhi. 2003. Petikan Aṅguttara Nikāya. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.


Dibaca : 320 kali