x

Ke Mana Harus Melangkah?

Eseva maggo natthañño, dassanassa visuddhiyā,
Etañhi tumhe paṭipajjatha, mārassetaṁ pamohanaṁ
Inilah satu-satunya ‘Jalan’. Tidak ada jalan lain yang dapat membawa 
pada kemurnian pandangan. Ikutilah jalan ini, yang dapat mengalahkan 
Māra (penggoda). (Dhammapada 274)

    DOWNLOAD AUDIO

Lima ratus bhikkhu, setelah mengikuti Sang Buddha ke sebuah desa, lalu kembali ke Vihara Jetavana. Sore harinya mereka berbicara tentang perjalanan yang dilewati, khususnya tentang keadaan tanah apakah datar atau berbukit, lembek, atau berbatu. 

Sang Buddha menghampiri mereka, seraya berkata, “Para bhikkhu, jalan yang kalian bicarakan adalah keadaan di luar diri kalian. Seorang bhikkhu seharusnya terpusat pada ‘jalan utama’ dan berdaya upaya sesuai dengan ‘Jalan Ariya’ untuk merealisasi kebahagiaan tertinggi. Kemudian Sang Buddha membabarkan Dhammapada syair 273 sampai dengan 276 berikut ini: 
Di antara semua jalan, maka ‘Jalan Mulia Berfaktor Delapan’ adalah yang terbaik; di antara semua kebenaran, maka ‘Empat Kebenaran Mulia’ adalah yang terbaik. Di antara semua keadaan, maka keadaan tanpa nafsu adalah yang terbaik; dan di antara semua makhluk hidup, maka makhluk yang ‘melihat’ adalah yang terbaik.

Inilah satu-satunya ‘Jalan’. Tidak ada jalan lain yang dapat membawa pada kemurnian pandangan. Ikutilah jalan ini, yang dapat mengalahkan Māra (penggoda).

Dengan mengikuti Jalan ini, engkau dapat mengakhiri penderitaan. Jalan ini pula yang Kutunjukkan setelah Aku mengetahui bagaimana cara mencabut duri-duri (kekotoran batin).

Engkau sendirilah yang harus berusaha, para Tathāgata hanya menunjukkan jalan. Mereka yang tekun bersamàdhi dan memasuki jalan ini akan terbebas dari belenggu Māra.

Sang Buddha mengajarkan berbagai macam ajaran yang keseluruhannya dapat digolongkan menjadi tiga inti ajaran, yaitu Sīla, Samādhi dan Paññā. Inti dari Sīla adalah tidak melakukan kejahatan dan selalu berbuat kebajikan. Inti dari samādhi adalah memusatkan pikiran dengan melaksanakan samādhi. Tujuan akhir dari ajaran Buddha Dhamma adalah untuk pembebasan dari derita.

Kebajikan moral adalah dasar, sebagai pendahulu dan pembentuk dari semua yang baik dan indah. Oleh karena itu, hendaklah orang menyempurnakan kebajikan moral.

Sīla, sebagai landasan moral bagi pelaksanaan Dhamma merupakan hukum yang jika ditaati akan membawa kebaikan dan jika tidak ditaati akan menyebabkan kemerosotan kualitas batin. Siswa Buddha terdiri dari dua macam yaitu para Gharāvāsa (umat perumah tangga) dan Pabbajita para pertapa). Oleh karena itu Sang Buddha menetapkan peraturan yang berbeda bagi keduanya. Peraturan moral bagi para perumah tangga dikenal sebagai Sãla, sedangkan peraturan bagi para bhikkhu dikenal sebagai vinaya, meski sebenarnya keduanya adalah vinaya.

Sãla yang digunakan dalam kebudayaan Buddhis mempunyai banyak arti. Pertama, berarti norma (kaidah), peraturan hidup, perintah. Kedua, kata itu menyatakan pula keadaan batin terhadap peraturan hidup, hingga dapat berarti juga, sikap, keberadaban, perilaku sopan.

Ciri dari sīla adalah ketertiban dan ketenangan. Dalam agama Buddha, sīla merupakan dasar utama yang mencakup semua perilaku dan sifat baik. Penyebab terdekat sãla adalah Hiri (malu berbuat jahat) dan Ottappa (takut akan akibat perbuatan jahat).

Pelatihan moralitas adalah aturan atau disiplin yang seharusnya ditaati. Aturan moral yang dijalankan oleh umat Buddha disebut lima pelatihan moral, yaitu:
(1)    Tidak membunuh makhluk hidup,
(2)    Tidak mengambil barang milik orang lain tanpa diberikan,
(3)    Tidak melakukan perbuatan asusila,
(4)    Tidak berdusta,
(5)    Tidak meminum-minuman atau pun makan makanan yang menyebabkan lemahnya kesadaran,
Dalam mengikuti pelatihan moralitas, seseorang diajarkan mengembangkan penghargaan terhadap kehidupan makhluk lain atas hak mereka.

Sang Buddha menyebutkan, menjalankan pelatihan moralitas, merupakan perhatian kepada makhluk lain yang mengembangkan kecintaan dan penghormatan serta mengarahkan pada manfaat, kedamaian, kerukunan, dan persatuan.

Sang Buddha menyatakan bahwa menjalankan moralitas adalah sebuah pemberian yang akan memberikan manfaat bagi pemberi dan penerimanya. Ketika seorang menjalankan lima pelatihan moral, ia memberikan pemberian berupa kebebasan dari ketakutan, dari kebencian dan dari kemauan jahat kepada semua makhluk. 

Salah satu manfaat penting dari menjalankan moralitas adalah seseorang akan mengalami kebahagiaan menjadi tidak bersalah. Umat Buddha menjalankan sãla karena ia peduli atas kesejahteraan diri sendiri dan kesejahteraan serta kebahagiaan semua makhluk.

Sumber: Dhammapada 274

Dibaca : 4607 kali