x

Perkembangan Dalam Praktik Dhamma

Bāhusaccañca sippañca, vinayo ca susikhitto
Subhāsitā ca yā vācā, etammaṅgalamuttamaṁ
Berpengetahuan luas, berketerampilan, terlatih baik dalam tata susila,
dan bertutur kata dengan baik, itulah berkah utama 

    DOWNLOAD AUDIO

Merupakan suatu hal yang membahagiakan bagi umat Buddha di Indonesia. Perkembangan agama Buddha di Indonesia sekarang ini sangatlah pesat, hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya vihara yang dibangun, serta dilengkapi dengan sarana prasarana pendukung lainnya. Sarana yang terpenuhi mendukung kegiatan vihara dan aktifnya umat Buddha untuk datang ke vihara. Kegiatan di vihara tersebut seperti puja bakti rutin maupun puja bakti pada hari-hari besar agama Buddha. Selain itu juga ada kegiatan meditasi bersama, kelas Dhamma, dan lain-lain. Kegiatan vihara yang beragam, akan menarik umat yang tidak aktif ke vihara kembali menjadi aktif  datang ke vihara.
Hal lain yang membahagiakan bagi umat Buddha yaitu mudahnya belajar Dhamma. Hal ini dikarenakan perkembangan teknologi elektronik yang semakin canggih dan adanya akses internet, sehingga belajar Dhamma menjadi lebih mudah. Berbagai macam media lainnya, seperti buku cetak dan majalah Buddhis, juga mendukung umat untuk belajar Dhamma lebih serius.
Perkembangan teknologi elektronik yang canggih, adanya internet dan media lainnya mengiringi perkembangan Dhamma ajaran Buddha saat ini. Beda dengan puluhan tahun yang lalu di mana umat Buddha susah memperoleh buku Dhamma, sedangkan akses internet dulu masih sangat langka. Zaman sudah maju, sekarang umat Buddha dimudahkan dengan sarana pendukung tersebut. 
Akan tetapi sebagai umat Buddha hendaknya tidak terlalu merasa bahagia dengan perkembangan yang masih bersifat materi. Ada hal yang lebih penting untuk dijadikan renungan bagi semua umat Buddha yaitu perkembangan kualitas praktik Dhamma dari umat itu sendiri. Mengapa hal ini penting untuk direnungkan? Karena ada pula kualitas praktik umat tidak seiring dengan perkembangan yang bersifat materi tersebut. Terkadang umat hanya sekedar tahu dalam hal teori, tetapi dalam hal praktik sehari-hari lalai untuk mempraktikkan teori yang telah dipelajarinya. Pengetahuan teori yang sudah dipelajari dari internet, dari buku cetak, atau dari majalah Buddhis yang telah dibacanya biasanya hanya dijadikan pengetahuan belaka. Terkadang pula umat yang sudah belajar Dhamma lebih, menggunakan teorinya untuk bahan berargumen, untuk mengkritisi yang diajak bicara dalam suatu diskusi atau untuk berdebat. Hal demikianlah yang sebenarnya tidak sesuai dalam menggunakan pengetahuan teori Dhamma-Nya.
Seseorang yang sudah mempelajari Dhamma dengan sungguh-sungguh, hendaknya menggunakan pengetahuannya untuk pengembangan batin guna memperoleh kebahagiaan, di kehidupan saat ini maupun kehidupan yang akan datang. Pengetahuan yang didapat jika digunakan untuk praktik dalam kehidupan sehari-hari akan membawa banyak manfaat bagi perkembangan batin yang lebih baik. Maka dari itu, perkembangan elektronik dan internet yang canggih hendaknya seiring dengan perkembangan kualitas praktik Dhamma.
Dalam Aṅguttara Nikāya kelompok empat Sang Buddha menjelaskan ada empat poin Dhamma, yang membawa pada pertumbuhan kebijaksanaan. Seperti juga yang terdapat dalam Dhamma Vibhāga, terdapat empat hal tentang perkembangan praktik Dhamma atau yang disebut Vuddhi. Empat poin Dhamma itu adalah:
1.Sappurisa Saṁseva: Bergaul dengan orang-orang yang mulia dan terpuji. Pergaualan sangatlah penting, guna menunjang berkembangnya kebijaksanaan atau perkembangan dalam praktik Dhamma. Hal ini dikarenakan pergaulan sangat mempengaruhi pertumbuhan kebijaksanaan atau perkembangan dalam praktik Dhamma seseorang.
Seseorang memiliki sifat mulia dan terpuji minimal memiliki praktik menjalankan Pañcasῑla Buddhis yang berkesinambungan, atau menjalankan sῑla yang lebih tinggi lainya. Menghindari teman yang tidak terpuji. Dalam Bālapandita Sutta, Majjhima Nikāya, Sang Buddha menjelaskan karakteristik dari seseorang yang dianggap dungu. Karakteristik seorang dungu itu adalah memiliki kecenderungan berpikir buruk, berucap buruk, dan bertindak buruk. Seorang teman yang memiliki karakter demikian seyogyanya dihindari dan mendekati teman yang memiliki kecenderungan berpikir baik, berucap baik, dan bertindak baik.
2.Saddhammasavana: Mendengarkan Dhamma dengan penghormatan.
Seseorang akan berkembang, dalam praktik Dhamma dan tumbuh kebijaksanaannya jika saat mendengarkan Dhamma dengan penuh penghormatan dan ada perhatian. Sesorang semestinya dalam mendengarkan Dhamma, memiliki kesiapan yang matang. Tidak sedang dalam keadaan lapar, sakit, atau sedang memikirkan kesibukan-kesibukan lainnya. Seperti memikirkan pekerjaan, keluarga maupun hal yang lainnya. Jangan pula ketika men-dengarkan Dhamma, malah asik berbincang sendiri dengan teman di sampingnya. Atau ada pula yang bermain handphone ketika mendengarkan Dhamma. Perilaku-perilaku yang demikian tidak akan menunjang pada perkembangan kebijaksanaan seseorang. Karena ketika mendengarkan Dhamma dia tidak sungguh-sungguh atau tidak ada perhatian pada apa yang sedang disampaikan oleh si pembabar Dhamma.  
3.Yonisomanasikārā: Merenungkan dan mengetahui hal-hal yang baik dan buruk.
Seseorang akan berkembang dalam praktik Dhamma dan tumbuh kebijaksanan apabila setelah belajar Dhamma atau setelah mendengar uraian Dhamma, direnungkan kembali sehingga akan menumbuhkan pengertian benar. Dengan pengertian benar inilah maka seseorang akan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Setelah mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, maka seseorang akan semakin tumbuh kebijaksanaan dan akan berkembang dalam praktik Dhamma.
4.Dhammanudhamma paṭipati: mempraktikkan Dhamma sesuai dengan segala aspek Dhamma. Praktik Dhamma yang telah diselidiki dan dimengerti atau memiliki keinginan yang kuat, bersungguh-sungguh untuk praktik Dhamma sesuai dengan yang telah dimengerti dan dipahami. Memilki keinginan yang kuat dalam praktik Dhamma akan membawa pada kebiasaan yang baik, membentuk karakter yang baik, menumbuhkan kebijaksanaan dan berkembangnya praktik atau semakin maju dalam praktik Dhamma.
Menggunakan teknologi dan internet yang canggih untuk belajar Dhamma adalah sangat baik. Tetapi hanya sekedar mempelajari Dhamma saja tidaklah cukup tanpa dibarengi dengan praktik dalam kehidupan sehari-hari untuk kehidupan yang lebih baik, guna memperoleh kebahagiaan dan ketentraman hidup. Maka dari itu, seseorang akan tumbuh kebijaksanaan dan berkembang dalam praktik Dhamma apabila menjalankan empat hal di atas. Orang yang benar-benar belajar Dhamma untuk dipraktikkan, maka kebiasaan buruk akan ditinggalkan dan senantiasa mengembangkan kebiasaaan-kebiasaan yang baik. Sehingga orang yang demikian adalah orang yang menjadi umat Buddha sejati karena selain belajar juga mempraktikannya.
Semoga kita semakin maju dalam Dhamma, semoga semua makhluk berbahagia, Sādhu sādhu sādhu.
Sumber:
-Majjhima Nikāya, Khotbah-khotbah Menengah Sang Buddha, DhammaCitta Press.2013.
-Aṅguttara Nikāya, Khotbah-khotbah Numerikal Sang Buddha, DhammaCitta Press.2015.
-Dhamma Vibhāga, Penggolongan Dhamma, Vidyasena Vihara Vidyaloka, Yogyakarta.2013.
-Paritta Suci, Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia, Jakarta.2005.


Dibaca : 1482 kali