x

MEWASPADAI PERBUATAN

Idha modati pecca modati, katapuñño ubhayattha modati
So modati so pamodati, disvā kammavisuddhimattano.
Di dunia ini ia bergembira, di dunia sana ia bergembira. Pelaku kebajikan bergembira 
di kedua dunia itu, ia bergembira dan bersuka cita karena melihat perbuatannya sendiri yang bersih.
(Dhammapada Syair 16) 

    DOWNLOAD AUDIO

Kelahiran sudah kita lalui, kebahagiaan hidup menjadi harapan setiap orang, bahkan setiap makhluk hidup pada umumnya. Untuk tercapainya harapan dan cita-cita, banyak yang berusaha mewujudkannya dengan cara-cara yang tidak baik, kasar dan penuh kekejaman, dan banyak juga yang menggunakan cara yang baik, sesuai dengan tata laku yang baik di masyarakat. Kebajikan yang kerap dilakukan akan menjadi sahabat setia yang menemani dan menjadi pelindung bagi dirinya kemana pun seseorang itu pergi. Oleh karena itu, banyak orang mencari berkah, mencari tempat yang aman untuk terus dapat bertahan dan menikmati hidup.
Seperti para brahmana perumah tangga dari Sālā mendatangi Sang Buddha untuk menanyakan mengapa beberapa makhluk muncul kembali di alam yang tidak bahagia, sengsara, bahkan di alam neraka, dan mengapa ada yang dapat menuju ke alam bahagia setelah kematiannya. Dalam Sāleyyaka Sutta, Majjhima Nikāya, Sang Buddha menjelaskan penyebab makhluk dapat terlahir di alam menderita, hal itu dikarenakan perilaku yang tidak sesuai dengan Dhamma, perilaku yang tidak baik. Di sini ada tiga kelompok perilaku tidak baik, yaitu:
1.Tiga Jenis Perilaku Tidak Baik Oleh Jasmani
Terdapat tiga jenis perilaku jasmani yang tidak sesuai Dhamma, perilaku tidak baik, yaitu: (1) seseorang melakukan pembunuhan makhluk hidup (pānātipātā). Pembunuhan bisa dilakukan karena terbiasa memukul dan bertindak dengan kekerasan tanpa belas kasih terhadap makhluk hidup, bertangan darah terlibat pembunuhan dan serangan. Karena terlibat perbuatan membunuh seperti itu, ia setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, akan terlahir kembali di tempat yang menyedihkan, tempat tujuan yang buruk, di tempat yang menderita, di neraka. Tetapi jika ia tidak terlahir di alam yang menderita, ia akan terlahir di alam manusia dengan umur pendek. (2) mengambil apa yang tidak diberikan dengan cara mencuri (adinnādānā). Mencuri harta dan kekayaan orang lain di desa atau hutan. Sepintas pencurian sangat merugikan bagi si korban, tetapi menurut Dhamma, pencurian merugikan bagi si korban dan juga pelakunya itu sendiri, karena perbuatan yang dilakukan akan mendatangkan akibat atau hasil sesuai dengan benih perbuatan tersebut. (3) Seseorang melakukan perbuatan salah dalam kenikmatan indria (kāmesu-micchācārā); ia melakukan hubungan seksual dengan para perempuan yang dilindungi oleh ibu, ayah, ibu dan ayah, saudara, hukum, dan bahkan dengan mereka yang memakai kalung bunga sebagai tanda pertunangan. Inilah tiga jenis perilaku yang tidak baik, tidak sesuai Dhamma, yang dilakukan oleh badan jasmani.
2.Empat Jenis Perilaku Tidak Baik Oleh Ucapan
Ada empat jenis perilaku ucapan yang tidak baik, yaitu: (1) Seseorang mengucapkan kebohongan (musāvādā). Berbohong dengan mengatakan tidak tahu tetapi sebenarnya ia tahu, mengatakan ia tahu walau sebenarnya tidak tahu, mengatakan tidak melihat tetapi sebenarnya ia melihat, mengatakan ia melihat walau sebenarnya ia tidak melihat, dengan sadar ia berbohong seperti itu. (2) Mengucapkan fitnah (pisunāvācā). Ia berucap mengulangi di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini dengan tujuan untuk memecah-belah kerukunan orang lain, bergembira dalam perselisihan, meng-ucapkan kata-kata yang menciptakan perselisihan. Oleh karena itu, menjaga ucapan sangat penting sekali. (3) Berkata kasar (pharusavācā). Ia mengucapkan kata-kata yang kasar, keras, menyakiti dan menghina orang lain, diliputi kemarahan dan tidak menunjang konsentrasi. (4) Omong kosong dan pembicaraan yang tidak berguna atau bergosip (samphappalāpa). Ia berbicara di waktu  
yang salah, mengatakan yang bukan fakta, mengatakan yang berlawanan dengan Dhamma dan Disiplin, kata-katanya tidak masuk akal, melampaui batas dan tidak bermanfaat.
3.Tiga Jenis Perilaku Tidak Baik Oleh Pikiran
Di sini tiga jenis perilaku tidak baik yang dilakukan melalui pikiran, yaitu: (1) Seseorang bersifat tamak (abhijjhā). Ia serakah dan menginginkan barang-barang orang lain dengan berpikir ‘Semoga apa yang menjadi milik orang lain menjadi milikku.’ Pikiran serakah ini bisa mendorong ia melakukan pencurian, pembunuhan, dan tindakan buruk lainnya. (2) Memiliki pikiran permusuhan, niat jahat, ingin melukai atau menyakiti makhluk lain (byāpāda). Dengan berpikiran ‘Semoga makhluk-makhluk itu dibunuh, disembelih, dipotong atau dibasmi.’ (3) Memiliki pandangan salah, menyimpang, bentuk-bentuk pengertian salah dan tidak sesuai dengan Buddha Dhamma (micchā-ditthi), seperti; tidak ada yang diberikan, tidak ada yang dipersembahkan, tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk, dan pandangan salah lainnya. Inilah tiga jenis perilaku pikiran yang tidak sesuai dengan Dhamma, perilaku tidak baik. Tiga jenis perilaku tidak baik dan tidak sesuai Dhamma ini menjadi alasan mengapa seseorang dapat muncul kembali di alam menderita dengan kondisi yang tidak bahagia.
Demikian bahayanya perilaku tidak baik dapat menyebabkan makhluk-makhluk muncul kembali di alam menderita setelah kematiannya. Kemudian Sang Buddha menjelaskan penyebab makhluk-makhluk dapat terlahir di alam bahagia, yaitu:
1.Tiga Jenis Perilaku Baik Oleh Jasmani
Tiga jenis perilaku baik melalui jasmani dapat terus dikembangkan sebagai wujud nyata yang dapat terlihat jelas oleh mata. Tiga jenis perilaku baik oleh jasmani itu adalah: (1) Seseorang meninggalkan dan menghindari pembunuhan makhluk hidup (pānātipātā-veramanī). Dengan berdiam penuh belas kasih kepada semua makhluk serta bersikap lembut dan baik hati. (2) Meninggalkan dan menghindari perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan (adinnādānā-veramanī). Ia tidak mengambil harta dan kekayaan orang lain dengan cara mencuri. Menghindari pencurian juga aksi nyata kita mengembangkan sifat belas kasih dan kedermawanan. Orang yang dermawan akan senang dan sering memberi, sehingga orang lain pun banyak yang mencontoh sifat baik ini. (3) Dengan meninggalkan dan menghindari perbuatan salah dalam kenikmatan indria (kāmesu-micchācārā). Seseorang tidak melakukan hubungan seksual dengan para perempuan yang masih dalam perlindungan ibu, ayah, ibu dan ayah, saudara, sanak saudara, yang memiliki suami, yang dilindungi oleh hukum, atau dengan mereka yang mengenakan kalung bunga sebagai tanda pertunangan. Demikian tiga perilaku baik oleh jasmani dapat terus kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta kedamaian dan keharmonisan.
2.Empat Jenis Perilaku Baik Oleh Ucapan
Seseorang mengendalikan perilaku baik melalui ucapan bisa dengan empat cara, yaitu: (1) Ia meninggalkan kebohongan, menghindari ucapan salah (musāvādā-veramanī). Misalnya, seseorang ketika dipanggil oleh pengadilan, atau dalam suatu pertemuan, atau di depan sanak saudara, atau oleh perkumpulannya, atau di depan anggota keluarga kerajaan, saat ditanya sebagai seorang saksi, ia mengatakan tidak tahu karena memang sebenarnya ia tidak mengetahuinya, ia tahu dan ia mengatakan mengetahui, ia tidak melihat dan ia mengatakan tidak melihat, ia melihat dan ia mengatakan melihat, ia tetap berusaha menjaga ucapannya sehingga bisa dipegang kata-katanya. (2) Ia dengan meninggalkan ucapan fitnah, ia menghindari ucapan fitnah (pisunāvācā-veramanī). ia tidak berucap mengulangi di tempat lain tentang apa yang telah ia dengar di sini dengan tujuan memecah-belah kerukunan orang lain tetapi bahkan ia berusaha merukunkan mereka yang terpecah-belah, ia menganjurkan persahabatan, menikmati kerukunan, ia bergembira dan senang dalam kerukunan, ia mengucapkan kata-kata yang dapat menciptakan kerukunan. (3) Dengan meninggalkan ucapan kasar (pharusavācā-veramanī). Ia mengucapkan kata-kata yang lembut, indah, sopan, enak didengar, disukai dan me-nyenangkan banyak orang. (4) Dengan meninggalkan gosip, ia menghindari gosip (samphappalāpa-veramanī). Ia mengata-kan apa yang sebenarnya, mengatakan hal-hal yang baik tentang Dhamma dan Disiplin, ia juga berbicara pada waktu yang tepat yang layak dicatat, logis, selayaknya dan bermanfaat. Inilah empat jenis ucapan baik yang membawa kedamaian dan kebahagiaan pada pendengarnya dan pembicara itu sendiri.
3.Tiga Jenis Perilaku Baik Oleh Pikiran
Berpikir baik dapat mengondisikan seseorang akan berucap dan bertindak melalui badan jasmani juga baik. Tiga perilaku baik melalui pikiran di sini meliputi: (1) Seseorang tidak bersifat tamak (anabhijjhā). ia tidak tamak atau serakah pada kekayaan dan kemakmuran orang lain, (2) Ia memiliki niat yang bebas dari kebencian, tanpa permusuhan (abyāpāda), misalnya: semoga makhluk-makhluk ini terbebas dari ketakutan, permusuhan dan penderitaan, semoga semua makhluk hidup berbahagia. (3) Ia mempunyai pandangan benar dan penglihatan yang tidak menyimpang (sammā-ditthi), seperti: ada yang diberikan, ada yang dipersembahkan, ada buah atau akibat dari perbuatan baik maupun buruk, dan banyak lagi pandangan benar lainnya. Inilah tiga jenis perilaku baik melalui pikiran yang sesuai dengan Dhamma.
Demikian jika seseorang berperilaku baik, sesuai dengan Dhamma, berkehendak semoga setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, aku muncul kembali di tengah-tengah para mulia yang kaya, hal itu adalah mungkin, karena perilakunya baik sesuai dengan Dhamma, hingga muncul ke alam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Begitu besar buah atau pahala dari men-jaga perilaku baik, perbuatan baik, yang bahkan dapat membawa seseorang sampai pada kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda atau kotoran batin melalui pengetahuan langsung di sini dan saat ini.
Untuk mencapai kondisi yang aman, diperlukan suatu penjagaan atau kewaspadaan, baik dari dalam maupun di luar diri. Menjaga atau waspadai gerak-gerik pikiran adalah salah satu cara menuntun diri ke arah yang benar, dan oleh karena itu kewaspadaan merupakan jalan menuju kekekalan, kelengahan ada-lah jalan menuju kematian, orang yang waspada tidak akan mati, tetapi orang yang lengah seperti orang yang sudah mati, Dhammapada, bab II, syair 21.
Lemahnya kewaspadaan tentu bisa karena dipengaruhi beberapa faktor. Misalnya, minum minuman beralkohol, kecelakaan berat, terserang penyakit. Apa pun faktor yang mempengaruhi, seseorang dituntut untuk tetap sadar batin atau pikirannya supaya dapat mengurangi kesalahan baik perbuatan badan jasmani, ucapan maupun pikiran. Bentuk-bentuk pikiran selalu berubah sesuai dengan hukum perubahan (aniccā). Tetapi justru karena adanya  hukum perubahan inilah maka ada kesempatan untuk merubah perilaku buruk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, sehingga dapat terbebas dari keadaan yang menyedihkan atau bahkan terbebas dari alam-alam apaya yang penuh penderitaan. Yo dhammacārī kāyena, vācāya uda cetasā, idheva naṁ pasamsāti, pecca sagge pamodatīti, siapa pun yang melaksanakan Dhamma dengan baik, baik melalui perbuatan, ucapan atau pun pikiran, saat hidup di dunia, ia dipuji para bijaksanawan, bila kematian tiba, akan berbahagia di alam surga, Samyuttanikāya, Sagāthāvagga. 
Ciraṁ Tittantu Saddhammo

Referensi:
Ñanamoli dan Bodhi. 2013. Khotbah-khotbah Menengah Sang Buddha Majjhima Nikāya. Jakarta Barat: Dhammacitta Press.
Vijāno, Win. 2013. Kitab Suci Dhammapada. Singkawang Selatan: Bahussuta Society.
Paritta Suci. 2015. Sangha Theravāda Indonesia.
H. R. H. The Late Patriarch Prince Vajirananavarorasa dan Jeto. 2013. Dhamma Vibhāga, Penggolongan Dhamma.



Dibaca : 2606 kali