x

SAPPURISA SUTTA

Janganlah memperhatikan kesalahan-kesalahan orang lain, 
atau hal yang sudah atau belum dikerjakan oleh orang lain; 
Sebaiknya seseorang memperhatikan hal-hal yang sudah dikerjakan 
atau belum dikerjakan oleh dirinya sendiri. 
(Dhammapada 50, Puppha Vagga: 7)

    DOWNLOAD AUDIO

Sappurisa Sutta merupakan salah satu sutta yang terdapat di dalam Aṅguttara Nikāya kelompok empat, Apaṇṇakavagga. Dalam kitab suci Sutta Pitaka sendiri terdapat empat sutta dengan menggunakan nama yang sama, Sappurisa Sutta. Tiga di antaranya terdapat di dalam Aṅguttara Nikāya, yakni kelompok empat (apaṇṇaka-vagga), lima (muṇḍarājavagga), dan delapan (dānavagga). Satu sisanya terdapat di dalam Majjhima Nikāya.

Sutta ini dibabarkan langsung oleh Sang Buddha kepada para bhikkhu berkaitan dengan empat kualitas seseorang yang dapat dijadikan sebagai tolok banding apakah orang tersebut termasuk orang baik atau sebaliknya, tidak baik. Bahasan dari sutta ini dapat dibagi menjadi dua poin dengan masing-masing empat sub-poin. Poin pertama menerangkan tentang empat ciri-ciri orang yang tidak baik dan empat sisanya, poin kedua, tentang ciri-ciri orang baik.

Meski disampaikan kepada para bhikkhu, sutta ini tetap relevan bagi gharāvāsa (perumah tangga) karena isinya tidak secara khusus membahas bagaimana seharusnya tata laku kehidupan untuk para bhikkhu, melainkan Sang Buddha mengajak para siswa-Nya untuk mengenali ciri-ciri orang dengan karakteristik yang tergolong orang baik atau tidak baik. Di samping itu, tentu tidak saja untuk mengenali orang lain tetapi yang tidak kalah penting adalah mengenali diri sendiri. Dengan sutta ini kita bisa bercermin diri, bahwa sejauh ini apakah kita tergolong sebagai orang dengan karakteristik baik atau malah sebaliknya.

Empat kualitas pertama, yang menjadi ciri-ciri bahwa seseorang itu tidak baik. Pertama, orang dengan kebiasaan gemar meng-ungkapkan kesalahan-kesalahan orang lain, baik ketika ditanya ataupun tidak. Orang ini akan dengan lebih antusias lagi dalam mengisahkan kesalahan orang lain ketika mendapat pertanyaan sehubungan dengan itu; tanpa sela dan pe-ngurangan kisah sedikit pun, bahkan dengan sangat lengkap dan terperinci. Kedua, orang dengan kebiasaan sebaliknya, yakni tidak mengungkapkan kebaikan-kebaikan orang lain bahkan ketika ditanya sekalipun. Jika mendapat pertanyaan tentang bagaimana kebaikan orang lain, orang ini akan menceritakannya secara singkat dan tidak terperinci, dengan sela dan pengurangan kisah. Ini adalah dua pertama, yang berkaitan dengan kesalahan dan kebaikan orang lain. Selanjutnya, ketiga dan keempat, yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Ketiga, orang yang cenderung menyembunyikan kesalahannya. Ketika ditanya, dia akan memberikan jawaban yang tidak lengkap dan terperinci, dengan sela, menutup-nutupi, dan pengurangan kisah. Keempat, orang yang suka menceritakan kebaikannya sendiri baik ketika ditanya maupun tidak. Ia akan menjawab dengan semangat ketika ditanya perihal kebaikannya secara jelas dan rinci.

Empat kualitas berikutnya, yang menjadi ciri-ciri bahwa seseorang itu baik, dapat dilihat dengan sudut pandang berlawanan dari empat kualitas pertama. Bahwa dia tidak akan dengan mudah mengungkapkan kesalahan orang lain, tetapi sebaliknya menceritakan kebaikan-kebaikan orang lain; pada saat-saat tertentu, dia akan secara jujur dan terbuka mengakui kesalahannya sendiri dan tidak menggembar-gemborkan kebaikan yang sudah dilakukannya.

Sang Buddha, dari sutta ini, menunjukkan bagaimana kriteria kualitas orang yang tidak baik dan orang baik dengan masing-masing empat ciri. Dari sutta ini kita belajar bagaimana seharusnya selektif dalam bergaul dan bagaimana semestinya menjadikan diri sebagai orang yang layak menjadi teman bergaul bagi orang lain. Artinya, sutta ini tidak saja mengarahkan kita bagaimana melihat ke luar (orang lain) tetapi juga ke dalam diri.

Mengamati semut di seberang lautan tidak lebih penting daripada melihat apa yang jelas-jelas nampak di pelupuk mata. Melihat dan membicarakan keburukan orang lain tidak menjadikan kita tampak lebih baik dan tidak lantas mengartikan kita sebagai orang baik. Dengan cara demikian, kita justru menampakkan sisi buruk kita dalam hal berucap. Kita hanya ingin dilihat dan dinilai sebagai orang yang baik melalui cerita-cerita kebaikan diri yang terlontar dan dengan sisi lain menyembunyikan setiap kesalahan. Kita bahkan tidak ingin kebaikan orang lain terangkat dengan lantas menyembunyikannya dan dengan sisi lain menceritakan keburukan mereka.

Memparafrasakan sabda Sang Buddha dalam Dhammapada 50, jauh lebih baik untuk seseorang memerhatikan apa yang sudah dan belum dilakukan oleh dirinya ketimbang melihat apa yang dilakukan orang lain, terlebih melihat kesalahan-kesalahan mereka.
Referensi:
- Sarada, Weragoda Ven. Dhammapada. Diterjemahkan oleh Dr. R. Suya Widya. 2001. Jakarta: Yayasan Abdi Dhamma Indonesia.
- https://legacy.suttacentral.net/id/ an4.73 diakes pada 12 Juli 2018 Pukul 09.00 WIB


Dibaca : 1419 kali