x

Hadir Seutuhnya Saat Ini

Atῑtaṁ nānvāgameyya, nappaṭikaṅkhe anāgataṁ;
Yadatῑtaṁ pahīnaṁ taṁ, appattañca anāgataṁ.  
“Tak sepatutnya mengenang sesuatu yang telah berlalu, tak sepatutnya berharap pada sesuatu yang akan datang. Sesuatu yang telah berlalu adalah hal yang sudah lampau, dan sesuatu yang akan datang adalah hal yang belum tiba”.
(Bhaddekaratta Sutta, Majjhima Nikāya 131)

    DOWNLOAD AUDIO

     Kehidupan ini terdiri dari tiga dimensi waktu yakni masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Akan tetapi, pikiran kita seringkali terjebak oleh dua dimensi waktu antara masa lalu dan masa depan, sehingga membuat kita tidak hadir seutuhnya saat ini. Terbuai kenangan indah atau merasa sedih karena teringat kenangan di masa lalu yang memilukan sebaliknya pikiran juga seringkali terlena dalam lamunan dan imajinasi tentang masa depan berangan-angan sesuatu yang indah. Namun perlu diingat dua hal ini hanyalah delusi, maka jangan sampai terlena dan terseret oleh permainan pikiran. Oleh karena itu dengan  hadir setuhnya di sini berarti kita hadir secara utuh secara jasmani dan batin, secara jasmani kita sudah hadir secara fisik sementara hadir secara batin kita menghadirkan pikiran, perhatian dan kesadaran kita di sini.
     Psikologi Buddhis mengelompokkan kesadaran menjadi dua bagian yakni; pertama adalah kesadaran pikiran dan kedua gudang kesadaran. Kesadaran pikiran adalah kesadaran aktif Psikologi Barat menyebutnya “the conscious mind”. Untuk membangkitkan energi sadar penuh kita melibatkan kesadaran aktif dalam setiap kegiatan dan sepenuhnya hadir bersama apa pun yang kita lakukan. Seperti halnya ketika menyetir mobil, makan dan minum dan kegiatan lainnya.
     Gudang kesadaran juga disebut akar kesadaran,  dalam Psikologi Barat disebut sebagai “the unconscious mind”. Ini adalah tempat penyimpanan pengalaman masa lalu. Gudang kesadaran memiliki kemampuan untuk mempelajari dan memproses informasi. Hal ini bisa kita ketahui ketika seseorang berjalan meskipun tidak sadar sepenuhnya ia akan sampai pada tempat tujuan. Hal ini disebabkan karena gudang kesadaran telah mempelajari dan mengakses informasi pada pengalaman-pengalaman sebelumnya. 
     Ada tiga point penting yang akan dibahas di sini yakni yang pertama hadir seutuhnya bagi diri sediri, kedua hadir seutuhnya bagi keluarga dan ketiga hadir seutuhnya bagi orang lain (masyarakat). Ketika tiga hal ini terabaikan maka  hidup kita terasa hampa karena tidak melakukan perbuatan bermakna bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain.
1. Hadir seutuhnya bagi diri sendiri
     Hadir seutuhnya bagi diri sendiri adalah upaya untuk menyadari setiap moment kegiatan yang dilakukan dengan penuh perhatian dan kesadaran. Sebuah upaya untuk membimbing diri dengan benar seperti yang disebutkan di dalam Maṅgala Sutta yakni Attasammāpaṇidhi Ca, Etammaṅ-galamuttaman’ti. yang artinya “membimbing diri dengan benar, itulah berkah utama”.
Tidak menyia-nyiakan ke-sempatan saat ini untuk berusaha sebaik mungkin untuk mengarahkan diri menjadi lebih baik. “Setelah melintasi segala penjuru dengan pikiran, seseorang tidak menemukan di mana pun yang lebih ia sayangi daripada dirinya sendiri. Demikian pula, bagi setiap orang, dirinya sendiri adalah yang paling disayangi; Oleh karena itu, ia yang menyayangi dirinya sendiri seharusnya tidak mencelakai orang lain.” (Mallikāsutta SN.3.8). Dengan mengetahui hal ini, maka seseorang akan berusaha menjaga diri dengan baik dan tidak mencelakai orang lain.
2. Hadir seutuhnya bagi keluarga
   Coba diingat-ingat kembali kapan terakhir kali pasangan anda mengucapkan kata-kata romantis kepada anda. Apakah itu kata pujian, kata-kata indah saat bangun tidur, sebelum pergi bekerja, saat pulang bekerja dan bahkan saat menjelang tidur. Hadir seutuhnya bagi keluarga adalah upaya untuk bisa memberikan perhatian dan kasih sayang bukan hanya dalam bentuk materi melainkan kontak secara emosional. 
Sigalovada Sutta bisa menjadi acuan bagi para perumah tangga menjalankan kewajiban sesuai porsi masing-masing. Kewajiban istri kepada suami, kewajiban suami kepada istri, kewajiban orangtua kepada anak, dan kewajiban anak kepada orangtua. Dengan men-jadikan Sigalovada Sutta sebagai pedoman kehidupan sehari-hari berarti kita sepenuhnya sudah hadir seutuhnya bagi keluarga, sehingga kita mendapatkan pelajaran berharga yakni ketika  bersama orang-orang tercinta hadirlah seutuhnya bukan sebutuhnya.
3. Hadir seutuhnya bagi orang lain (masyarakat).
     Selain hadir bagi diri sendiri dan keluarga hendaknya seseorang bisa hadir bagi orang lain dalam hal ini adalah masyarakat. Adanya diri ini mampu memberikan sumbangsih apakah bersifat moral ataupun materi. Sang Buddha telah mengajarkan praktik Dhamma paling dasar untuk dilakukan adalah ber-dana salah satunya dalam Kāladānasutta AN.5.36 (memberikan bantuan tepat waktu) apa sajakah bantuan yang diberikan tepat waktu? (1) Seseorang memberikan pemberian kepada seorang tamu. (2) Seseorang memberikan pemberian kepada seseorang yang melakukan perjalanan. (3) Seseorang memberikan pemberian kepada pasien. (4) Seseorang mem-berikan pemberian pada masa bencana kelaparan. (5) Seseorang mempersembahkan panen dan buah pertama kepada para mulia.
Kesimpulan 
Kutipan dari Bhaddekaratta Sutta menjadi pedoman untuk kita jadikan acuan bahwa  pentingnya moment saat ini untuk bisa digunakan sebaik mungkin. Jika dilihat dari ke-butuhan duniawi masa lalu bisa dijadikan cerminan semisal pernah melakukan kesalahan di masa lalu, agar tidak terulang di masa sekarang. Sementara masa depan menjadi cambuk semangat untuk kita agar saat ini bisa berusaha mewujudkan harapan dan cita-cita di masa mendatang. Dari sisi spiritual dua hal ini tidak membawa pada kemajuan batin jika seseorang hanya mendambakan masa lalu dan masa depan sehingga melalaikan usaha dan semangat berjuang saat ini. Ajjeva kiccamāppaṁ ko jañña maranaṁ suve (berusahalah hari ini juga! Siapa tahu kematian ada di esok hari). Tidak menunda-menunda untuk berbuat kebajikan sehingga hidup ini tidak terasa hampa sebab sudah banyak melakukan perbuatan bermakna.
 “Semoga semua makhluk berbahagia”

Referensi: 
- Khuddaka Nikāya, Khuddakapāṭha, Maṅgala Sutta.
- Moon, Rissing (penterjemah) 2015. Rekonsiliasi. Jakarta. Karaniya
- https://legacy.suttacentral.net/pi/an5.36 diakses tanggal 30 Agustus 2018 pukul 18.00 WIB.
- https://legacy.suttacentral.net/pi/sn3.8 diakses tanggal 30 Agustus 2018  pukul 18.00 WIB.


Oleh: Bhikkhu Karunasilo
Minggu, 02 September 2018
 


Dibaca : 776 kali