x

KISAH RAJA PASENADI (Dari Dahara Sutta & Dutiya Kosala Sutta)

Te tādise pūjayato, nibbute akutobhaye, na sakkā puññaṁ sakhātuṁ, imettamapi kenaci'ti
Ia yang menghormati orang-orang suci yang telah menemukan kedamaian dan telah bebas dari ketakutan; Maka jasa perbuatannya tidak dapat diukur dengan ukuran apa pun.
(Dhammapada 196)

    DOWNLOAD AUDIO

Di jaman Sang Buddha ada banyak raja yang menyatakan diri berlindung kepada Buddha, Dhamma, Saṅgha (Tiratana), antara lain: Raja Bimbisara dari Kerajaan Magadha, Raja Suddhodhana dari Sakya, Raja Pakusati dari Suku Mala, dan juga ada Raja Pasenadi dari Kerajaan Kosala. 
Ibukota Kerajaan Kosala adalah Sāvatthī. Di kota Sāvatthī ada dua vihāra besar, yaitu Jetavana dan Pubba Arama, Sang Buddha selama 25 vassa menetap di dua vihara ini, 19 vassa di Jetavana dan 6 vassa di Pubba Arama. Karena Sang Buddha banyak menetap di Sāvatthī, tentu banyak kesempatan bagi Raja Pasenadi, Raja Kosala untuk berjumpa dengan Beliau.
Dahara Sutta (Khotbah tentang jangan menyepelekan sesuatu yang muda / kecil)
Perjumpaan pertama antara Raja Pasenadi dengan Sang Buddha dapat melakukan pada Dahara Sutta yang ada dalam Kosala Saṁyutta, Kitab Suci Saṁyutta Nikāya.
Pada saat yang sama, Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Setelah menulis ramah-tamah itu, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā: “Apakah Guru Gotama juga mengaku, 'Aku telah tercerahkan hingga penerangan sempurna yang tanpa bandeng?'”
“Jika, Baginda, seseorang dapat mengatakan dengan benar tentang seseorang, 'Ia telah memberikan penerangan sempurna yang tanpa bandeng,' pada Akulah orang itu dapat mengatakan hal ini dengan benar. Karena Aku, Baginda, telah tercerahkan hingga penerangan sempurna yang tanpa bandeng.
"Guru Gotama, bahkan para petapa dan brahmana yang adalah kepala kelompok, guru dari banyak orang, termasyhur dan karya terkenal dari berbagai sekte yang dianggap sebagai orang-orang suci, Pūraṇa Kassapa, Makkhali Gosāla, Nigaṇṭha Nātaputta, Sañjaya Belaṭṭhiputta, Pakudha Kaccāyana, Ajita Kesakambalī, bahkan orang-orang ini, mengumpulkan mereka sebagai mereka yang telah tercerahkan hingga penerangan yang sempurna tanpa bandeng, mereka tidak mengaku telah mencapainya. Jadi, mengapa Guru Gotama [membuat pengakuan demikian] padahal Dafa masih muda dalam hal ini dan belum lama lewat keduniawian ? " 
“Ada empat hal, Baginda, yang tidak boleh dianggap remeh dan dihina sebagai 'muda'. Apakah itu? Seorang khattiya, Baginda, tidak boleh dianggap remeh dan dihina sebagai 'muda'; Tidak bisa dianggap remeh dan dihina sebagai 'muda'; api tidak boleh dianggap remeh dan dihina sebagai 'muda'; dan seorang bhikkhu tidak boleh dianggap remeh dan dihina sebagai 'muda'. Ini adalah empat hal itu. Sang Buddha kemudian memberikan alasan-alasan kepada Raja Pasenadi tentang hal-hal yang tidak dapat dianggap remeh, dan menjelaskan bahwa Raja Pasenadi mengerti dan memahami. Karena memahami dan memahami Rajapun menyatakan diri berlindung kepada Buddha, Dhamma, Saṅgha.
Dutiya Kosala Sutta
Pada saat itu Raja Pasenadi dari Kosala telah kembali dari depan peperangan, dalam peperangan, kebebasan telah mencapai. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala pergi ke taman. Ia mengendarai kereta api tanah yang dapat dilalui kereta, dan kemudian ia turun dari keretanya dan memasukan taman dengan berjalan kaki. Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang berjalan mondar-mandir di ruang terbuka. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala mendatangi para bhikkhu yang dan bertanya kepada mereka:
“Bhante, dizat Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerutus Sempurna sekarang berada? Karena aku ingin bertemu Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerapkan Sempurna.
“Baginda, itu adalah kediaman Dafa yang pintunya tertutup. Datangilah dengan tenang. Dengan tidak terburu-buru, masukilah berandanya, berdehemlah, dan ketuk gerendelnya. Sang Bhagavā akan membukakan pintu untukmu. ” 
Kemudian, Raja Pasenadi dari Kosala. Apa yang disampaikan oleh bhikkhu itu, dan Sang Bhagavā membuka pintu.
Kemudian Raja Pasenadi dari Kosalaasuki kediaman itu, bersujud dengan memerintah di kaki Sang Bhagavā, dan mencium kaki Sang Bhagavā dan mengusapnya dengan menekankan, sambil memperkenalkan namanya: “Bhante, aku adalah Raja Pasenadi dari Kosala! Bhante, aku adalah Raja Pasenadi dari Kosala!
"Tapi, Baginda, dengan alasan apakah orang-orang yang menggunakan kebebasan itu pada saat ini dan juga persembahan cinta-kasihinya padaKu?"
“Bhante, adalah karena rasa bersyukur dan terima kasih maka aku merayakan penghormatan yang begitu tinggi pada Sang Bhagavā dan pertunjukan persembahan cinta-kasih kepada Ny.
(1) “Karena, Bhante, Sang Bhagavā berpraktik demi kaya banyak orang, demi kebahagiaan banyak orang; Beliau telah menegakkan banyak orang dalam metode yang mulia, yaitu, dalam jalan Dhamma sejati, dalam jalan Dhamma yang bermanfaat. Ini adalah satu hal yang terjadi pada Sang Bhagavā dan pertunjukan persembahan cinta-kasih kepada Dafa.
(2) “Kemudian, Bhante, Sang Bhagavā bermoral, memiliki perilaku yang matang, berperilaku mulia, berperilaku bermanfaat, memiliki sikap bermanfaat. Ini adalah alasan yang lain untuk memberi makna yang sangat tinggi pada Sang Bhagavā.
(3) “Kemudian, Bhante, Sang Lama Sang Bhagavā telah menjadi penghuni hutan yang mendatangi tempat-tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara. Karena hal itu, ini adalah alasan yang lain untuk melakukan penghormatan yang sangat tinggi pada Sang Bhagavā.
(4) “Kemudian, Bhante, Sang Bhagavā puas dengan segala jenis jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit. Ini adalah alasan yang lain untuk memberi makna yang sangat tinggi pada Sang Bhagavā.
(5) “Kemudian, Bhante, Sang Bhagavā layak menerima guru, layak menerima panggilan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia. Ini adalah alasan yang lain untuk memberi makna yang sangat tinggi pada Sang Bhagavā.
(6) “Kemudian, Bhante, Sang Bhagavā dapat berbicara sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, percakapan yang serius yang mengarah pada lenyapnya [kekotoran-kekotoran], yang kondusif untuk membuka pikiran, yaitu, kegagalan tentang keinginan yang sedikit, tentang kepuasan, tentang kesendirian, tentang tidak bergaul akrab [dengan masyarakat], tentang pembangkitan kegigihan, tentang perilaku bermoral, tentang konsentrasi, tentang kebijaksanaan, tentang kebebasan, tentang pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan. Ini adalah alasan yang lain untuk memberi makna yang sangat tinggi pada Sang Bhagavā.
(7) “Kemudian, Bhante, Sang Bhagavā dapat mencapai sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, keempat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan keberdiaman yang nyaman dalam kehidupan ini. Ini adalah alasan yang lain untuk memberi makna yang sangat tinggi pada Sang Bhagavā.
(8) “Kemudian, Bhante, Sang Bhagavāetahui banyak kehidupan lampauNya, (Pubbenivāsānussati ñāṇa) yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran,… lima puluh kelahiran, kelahiran, seribu kelahiran, satu minggu, banyak kappa penghancuran dunia, banyak kappa perkembangan dunia, banyak kappa penghancuran dunia dan perkembangan dunia,…. Sajalah Beliau Mengingat banyak kehidupan lampauNya dengan aspek-aspek-nya. Karena hal itu, ini adalah alasan yang lain untuk melakukan penghormatan yang sangat tinggi pada Sang Bhagavā.
(9) “Kemudian, Bhante, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia (Dibba cakkhu / cutupapāta ñāṇa), Sang Bhagavā melihat makhluk-makhluk dunia dan terlahir kembali, hina dan mulia, berpenampilan baik dan berpenampilan buruk, kaya dan miskin, Dan Dia membagikan bagaimana makhluk-makhluk mengembara sesuai kamma mereka. Karena hal itu, ini adalah alasan yang lain untuk melakukan penghormatan yang sangat tinggi pada Sang Bhagavā.
(10) “Kemudian, Bhante, dengan menghancurkannya noda-noda (Āsavak-khayañāṇa), Sang Bhagavā telah merealisasikan untuk diriNya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, Beliau berdiam di dalamnya. Karena hal itu, ini adalah alasan yang lain untuk melakukan penghormatan yang sangat tinggi pada Sang Bhagavā.
“Dan sekarang, Bhante, kami harus pergi. Kami sibuk dan banyak yang harus dilakukan.
“Silakan kamu pergi, Baginda.”
Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala bangkit dari duduknya, bersujud kepada Sang Bhagavā, pilih Beliau dengan sisi kanannya menghadap Beliau, dan terbang. 


Sumber:
Dhammapada, Yayasan Dhammadipa Arama 1985
Dhammacitta Press, Aṅguttara Nikāya
Ucapan Bertahap V, 46-49


Oleh: Bhikkhu Dhammiko
Minggu, 16 September 2018 


Dibaca : 775 kali