x

Semua Karena Cinta

Setelah melintasi segala penjuru dengan pikiran, seseorang tidak menemukan di mana pun yang lebih ia sayangi daripada dirinya sendiri.Demikian pula bagi setiap orang, dirinya sendiri adalah yangpaling disayang. Oleh karena itu, ia yang menyayangi dirinya sendiri seharusnya tidak mencelakai orang lain. (Sn 392)


    DOWNLOAD AUDIO

Kehidupan serasi merupakan dambaan manusia pada umumnya, dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, ataupun bermasyarakat, sebab keserasian itu sendiri merupakan suatu kondisi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya hidup, siapapun juga yang berada di dalamnya. Karena sebaliknya kehidupan yang disharmonis akan mengancam keberlangsungan hidup manusia. Sebenarnya kehidupan harmonis dapat diwujudkan apabila manusia menyadari ketergantungan hidup satu sama lain. Ketergantungan hidup ini akan menjadikan manusia mempunyai sikap saling berbagi hidup dan hal itulah yang merupakan wujud cinta kasih kebersamaan hidup. 
Cinta kasih adalah suatu kekuatan yang mengaitkan dan menyatukan dalam kebersamaan yang sesungguhnya. Pikiran-pikiran cinta kasih yang sangat berkembang memiliki kekuatan magnetis yang dapat mempengaruhi dan menarik perhatian orang lain. Dengan cinta kasih kebahagiaan manusia bertambah serta menciptakan kehidupan yang lebih baik. Cinta kasih merupakan pengharapan kesejahteraan dan kebahagiaan terhadap semua makhluk hidup, tanpa dibatasi oleh sekat apapun. Ia adalah sifat persaudaraan seorang teman yang penuh kebaikan.
Hasrat Suci
Ketika hidup bersama secara harmonis dan tanpa pertikaian, salah seorang mungkin melakukan sebuah kesalahan, sebuah pelanggaran. Mengenai hal ini, engkau seharusnya jangan cepat-cepat menegur orang itu, ia seharusnya diperiksa terlebih dahulu. Di kitab Aṅguttara Nikāya terdapat kisah perihal cara hidup bersama. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang melakukan perjalanan di sepanjang jalan raya antara Madhurā dan Verañjā. Sejumlah perumah tangga laki-laki dan perempuan juga sedang melakukan perjalanan di jalan yang sama. Kemudian Sang Bhagavā meninggalkan jalan raya dan duduk di bawah sebatang pohon. Para perumah tangga laki-laki dan perempuan itu melihat Sang Bhagavā duduk di sana dan mendatangi Beliau, memberi hormat kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada mereka: “Para perumah tangga, ada empat cara hidup bersama ini. Apakah empat ini? Seorang malang hidup bersama dengan seorang malang, seorang malang hidup bersama dengan dewi, dewa hidup bersama dengan seorang malang; dewa hidup bersama dengan dewi. 
Selanjutnya di kitab yang sama Buddha memberikan penjelasan mengenai jenis istri yang mungkin dimiliki seorang laki-laki. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Kemudian, di pagi hari, Sang Bhagavā merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahnya, dan pergi ke kediaman perumah tangga Anāthapiṇḍika, di mana Beliau duduk di tempat duduk yang telah dipersiapkan untuk Beliau. Pada saat itu, orang-orang di rumah Anāthapiṇḍika sedang ribut dan gaduh. Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika menghampiri Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Perumah tangga, mengapakah orang-orang di rumahmu begitu ribut dan gaduh? Seseorang akan berpikir bahwa itu adalah para nelayan yang sedang mengangkut ikan.” “Ini, Bhante, adalah menantuku Sujātā, yang kaya dan telah dibawa ke sini dari sebuah keluarga kaya. Ia tidak mematuhi ayah mertuanya, ibu mertuanya, atau suaminya. Ia bahkan tidak menghormati, menghargai, menjunjung, dan memuliakan Sang Bhagavā.” Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Sujātā: “Kemarilah, Sujātā.” “Baik, Bhante,” ia menjawab. Ia mendekati Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Sujātā, seorang laki-laki mungkin memiliki tujuh jenis istri. Apakah tujuh ini? Seorang yang seperti pembunuh, seorang yang seperti pencuri, seorang yang seperti raja yang kejam, seorang yang seperti ibu, seorang yang seperti adik perempuan, seorang yang seperti teman, dan seorang yang seperti budak. Seorang laki-laki mungkin memiliki tujuh jenis istri ini.
Hidup berkeluarga kerap kali muncul friksi yang tidak dapat terelakkan. Perbedaan pendapat perlu segera diselesaikan biar tidak menjadi kesulitan. Buddha memberikan pedoman bagi seorang pria dan wanita untuk saling melayani dalam hidup berkeluarga.  Ada lima cara bagi seorang suami untuk melayani istri mereka sebagai arah barat: dengan menghormatinya, dengan tidak merendahkannya, dengan setia kepadanya, dengan memberikan kekuasaan kepadanya, dengan memberikan perhiasan kepadanya. Dan ada lima cara bagi seorang istri yang dilayani demikian sebagai arah barat, dapat membalas: dengan melakukan pekerjaannya dengan benar, dengan bersikap baik kepada para pelayan, dengan setia kepadanya, dengan menjaga tabungan, dan dengan terampil dan rajin dalam semua yang harus ia lakukan. Dengan demikian, arah barat telah dicakup, memberikan kedamaian dan bebas dari ketakutan di arah itu’.
Sebuah keluarga adalah tempat dimana pikiran-pikiran bergabung dan bersentuhan satu sama lain. Apabila pikiran-pikiran itu saling mencintai, rumah itu akan seindah taman bunga yang asri. Sebaliknya, apabila pikiran-pikiran itu tidak harmonis, maka keadaannya akan bagaikan topan badai yang dapat memporak-porandakan isi taman itu. 

Sumber:
-
Kitab suci Aṅguttara Nikāya, Dhammacitta press
-
Kitab suci Dīgha Nikāya, Dhammacitta press
-
Kitab suci Saṁyutta Nikāya, Dhammacitta press


Oleh: Bhikkhu Atthaviro
Minggu, 07 Oktober 2018

Dibaca : 489 kali