x

HUJAN

"Channamati vivassati, vivaṭaṁ nātivassati. 
Tasmā channaṁ vivaretha, evaṁ taṁ nātivassatῑ."
Hujan membasahi apa yang tertutup, hujan tidak membasahi apa yang terbuka.
Maka bukalah apa yang tertutup, sehingga hujan tidak akan membasahinya. 
(Udana 51) 

    DOWNLOAD AUDIO

Sejak beribu-ribu tahun yang lalu, hujan (vassa atau vuṭṭhi) sangatlah penting dalam berlangsungnya kehidupan. Turunnya hujan seringkali dianggap sebagai berkah yang melimpah bagi kehidupan manusia di bumi. Buddha menegaskan peran hujan seperti seorang ibu memberi makan anak tunggalnya. Hujan memelihara semuanya, baik yang lemah maupun yang kuat, hidup semua makhluk yang berada di bumi ditopang oleh curahan hujan. (S 1.44)

Bangsa India kuno percaya bahwa perbuatan tak bermoral yang meluas, baik di skala individual maupun nasional, juga dapat mengacaukan curah hujan. Dalam kitab Jātaka, Buddha sependapat dengan menyatakan, “Turunnya hujan pada saat yang tidak tepat dan tidak turunnya hujan pada saat yang tepat di-sebabkan oleh raja atau pimpinan yang berlaku buruk.” Musim kemarau (nidāgha atau viṭṭhidubbuṭṭhi) seringkali dianggap sebagai bencana yang dapat menyebabkan kelaparan dan kekacauan.

Dalam literatur Buddhis, hujan dapat turun sedikitnya dalam 2 cara yang berbeda yakni (1) dalam tetesan yang besar (thulla phusitaka) seperti hujan deras pada musim hujan dan (2) gerimis (ekaṁ ekaṁ) seperti percikan air (A 1.243). Meskipun banyak legenda terkait dengan hujan, tetapi sesungguhnya hujan hanyalah proses alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Buddha berkata bahwa berkurangnya curah hujan dapat berhubungan dengan beberapa sebab seperti panas, angin, atau awan yang terembus di atas samudra (A 3.241).

Begitu pentingnya hujan dalam menunjang kesejahteraan dan kebahagiaan makhluk hidup, Buddha sampai membandingkan terjadinya hujan setara dengan pemberian. Beliau menjelaskan bahwa  ada 3 macam orang yang terdapat di dunia ini (Iti 64) yaitu seperti:
1. Awan tanpa hujan (avuṭṭhi-kasamo) 
Orang yang tidak memiliki kedermawanan, tidak mau memberi kepada siapa pun.
2.Hujan lokal (padesavassῑ) 
Orang yang mau memberi tetapi masih memilih-milih penerima; di sini dia memberi, di sana dia tidak memberi; kepada orang tertentu diberi, kepada yang lain tidak diberi.
3. Hujan merata (sabbatthā-bhivassῑ) 

Orang yang selalu memberi ke-pada siapa saja tanpa pandang bulu.
Namun demikian, cuaca buruk juga menjadi salah satu faktor penyebab penyakit. Pendapat ini benar adanya khususnya pada musim hujan. Tiupan angin dingin yang kencang, kelembaban yang tinggi, dan genangan air di mana-mana menandakan beragam penyakit dapat tersebar ke segala penjuru. Selama musim hujan, banyak orang menderita sakit yang berkelanjutan. Apalagi perubahan cuaca semakin tidak menentu. Maka dari itu, berdiam di sebuah tempat yang aman dan terlindungi selama hujan adalah pilihan terbijak demi kebahagiaan diri sendiri dan semua makhluk.
Sebelum pelaksanaan retret selama musim hujan ditetapkan oleh Buddha, para bhikkhu bebas mengembara tanpa ada batasan waktu. Namun, jalan berlumpur, sungai meluap, dan genangan air yang tersebar di mana-mana membuat perjalanan menjadi sulit dilalui. Terlebih ada sebagian bhikkhu menginjak rumput dan tanaman hijau yang baru tumbuh. Masyarakat yang melihat hal tersebut mulai berkomentar miring dan melaporkannya kepada Buddha. Meskipun tidak disengaja, para bhikkhu dianggap telah menyakiti makhluk hidup yang memiliki satu indra (ekindriyaṁ) dan membunuh sejumlah binatang kecil lainnya.

Berdiam di satu tempat yang telah dipilih selama tiga bulan di musim hujan (vassaṁ vasati) menjadi tradisi yang berlangsung sampai sekarang. Sesungguhnya, ini bukanlah sekadar tradisi semata, melainkan ada esensi yang perlu dihayati. Para bhikkhu diajarkan dan dianjurkan untuk praktik secara intensif dan kontinu setiap harinya. Pengembangan kesadaran (citta bhāvanā) sangat ditekankan dalam menunjang batin yang tercerahkan. Mengingat banyaknya bhikkhu yang berdiam di tempat tertentu, umat awam memiliki banyak kesempatan untuk memantapkan tekadnya dalam laku puja bakti, latihan meditasi, dan berdiskusi tentang Dhamma. Dengan demikian, datangnya hujan memang pantas disebut sebagai berkah kehidupan, senantiasa menghadirkan kebahagiaan bagi setiap makhluk hidup di dunia.

Pustaka Rujukan
- Aṅguttara Nikāya: The Numerical Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 2012.
- Saṁyutta Nikāya: The Connected Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 2000.
- Udāna and Itivuttaka. Two Classics from the Pali Canon. Translated by John Ireland. Kandy: Buddhist Publication Society, 2007.  


Dibaca : 1154 kali