x

KEKAYAAN HAKIKI

Yassa dānena sīlena, saññamena damena ca;
Nidhī sunihito hoti, itthiyā purisassa vā.
“Harta karun termasuk kebajikan dengan berdana,
bertata susila, dan dengan pencegahan serta penahanan diri dari keburukan
adalah pemendaman harta karun yang baik bagi wanita maupun pria. ” 
(Khuddakapāṭha, Nidhikaṇḍasutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Tak lama setelah mewarisi harta kekayaan dari kedua orangtua serta dari tujuh generasi leluhurnya, suatu ketika, Pemuda Sumedha memiliki sebuah pemikiran kontemplatif di tengah meditasinya. [1] Tentang kelapukan dari jasmani; menjadi tua, sakit, dan mati. [2] Tentang warisan berlimpah ruah yang ditinggalkan oleh leluhurnya; mereka hanya bisa mengumpulkan tetapi tidak sepeser pun yang menyertai ketika mereka meninggal. [3] Tentang pelepasan keduaniwian; mencari jalan menuju pembebasan dari belenggu dunia. “Sungguh menyedihkan terlahir dalam hidup ini karena tubuhku akan menjadi tua, sakit, dan mati…. Orangtua, kakek-nenek, dan leluhurku hanya bisa mengumpulkan dan menimbun kekayaan itu, namun tidak sekeping emas pun dapat mereka bawa ketika mereka mati. Suatu hari aku pun akan menjadi tua, sakit, dan akhirnya mati. Alangkah baiknya jika setelah melepaskan semua harta ini aku meninggalkan hidup keduniawian, menjadi petapa, dan mencari jalan menuju Pembebasan.”

Sumedha beranjak menuju ke pegunungan Himalaya selepas melakukan mahadana (dana besar-besaran) kepada rakyat dari seluruh penjuru kota Amaravatī, membagikan semua harta kekayaannya. Ia melepaskan busana awamnya dan diganti dengan jubah serat, meninggalkan keduniawian dan menjalani hidup sebagai petapa pada saat itu juga. Konon, petapa Sumedha melakoni hidup pertapaan dengan sangat keras. Beliau memilih berdiam dan berlatih di bawah kaki pepohonan, setelah sebelumnya tinggal di sebuah gubuk tak berpenghuni; memutuskan hanya akan bertahan hidup dari buah-buahan yang jatuh sendiri dari pohonnya; berusaha bermeditasi tanpa henti hanya dengan tiga postur (duduk, berdiri, dan berjalan), tanpa berbaring sama sekali. Sampai pada akhirnya, sejak sewaktu Sri Buddha Dīpankara menyerukan nubuat-Nya, setelah memenuhi Kesempurnaannya dalam kurun waktu yang sangat lama petapa Sumedha menjadi Buddha dan mengajarkan Dhamma yang telah temukan-Nya. Dhamma yang hingga saat ini bisa kita pelajari dan praktikkan.

Satu hal yang berkesan, yang sekaligus menjadi pengingat dan pelajaran, adalah perenungan pemuda Sumedha terkait kekayaan duniawi yang diwariskan oleh para leluhurnya dari banyak generasi. Bahwasanya sebanyak apapun harta benda (materi) yang kita miliki di kehidupan ini, tidak akan ada yang bisa kita bawa ketika kematian tiba. Perenungan yang kemudian mendasari motivasi pemuda Sumedha untuk mendermakan seluruh harta kekayaannya lalu menjadi petapa, dan menjalani hidup suci demi pencarian “kekayaan” yang hakiki. Sebuah kekayaan yang memberikan manfaat tidak saja pada kehidupan ini dan dikenyam seorang diri, namun menjadi kekayaan yang juga bermanfaat bagi banyak makhluk dan dapat dinikmati di kehidupan yang mendatang.

Kekayaan tersebut adalah kekayaan berupa kebajikan, kekayaan Dhamma. Dengan mempraktikkan Dhamma, kita telah berupaya pada pengumpulan sebuah kekayaan. Dalam Nidhikaṇḍasutta, upaya ini disebut sebagai pemendaman harta karun. Kebajikan bukan merupakan harta karun biasa. Keberadaannya tidak bisa dilacak dan dirampas perampok. Siapa pun tidak dapat memindahkannya, karena ia bukan barang umum bagi orang lain. “Harta karun itu disebut telah dipendam dengan baik olehnya; tiada siapapun dapat menjamahnya. Kebajikan itu pergi mengikuti pembuatnya. Di antara harta karun, harta karun berupa kebajikan ini akan dibawa saat dia meninggal.”

Harta karun ini pula mendatangkan pahala-pahala (buah dari perbuatan baik) yang sedemikian banyak. Pahala dalam pencapaian keberkahan duniawi seperti memiliki paras yang menarik, suara merdu, kerupawanan, kedudukan dan kekuasaan, menjadi pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya, dan lain sebagainya. Juga mendatangkan pahala terkait kehidupan latihan spiritual seperti memiliki sahabat yang baik (kalyāṇamitta) yang menunjang keberhasilan dalam latihan, kesempuranaan sebagai siswa tauladan, tangkas dalam pengetahuan dan kemampuan beranalisa, dan pencapaian Nibbāna. Oleh sebab itu, pemendaman harta karun berupa kebajikan adalah pemendaman harta kekayaan yang terbaik bagi siapa pun. 

Pada suatu kesempatan berbeda, Sri Buddha Gotama membabarkan khotbah berkenaan dengan lima jenis kekayaan yang baik di dunia ini. Kelimanya adalah kekayaan keyakinan, perilaku bermoral, pengetahuan, kedermawanan, dan kekayaan kebijaksanaan (Dhanasutta, AN 5.47). Keyakinan pada pencarahan Sang Tathāgata, penghindaran diri dari perilaku atau perbuatan tidak bermoral, memiliki pengetahuan yang luas, terbebas dari kekikiran, dan memiliki kebijaksaan adalah ragam dari kekayaan berupa kebajikan. Kekayaan yang mengantarkan pada pencapaian kebahagiaan. Yassa dānena sīlena saññamena damena ca; nidhī sunihito hoti itthiyā purisassa vā.


Referensi:

- Dhammadhiro. Paritta Suci. 2005. Yayasan Sangha Theravada Indonesia: Jakarta

- Kusaladhamma, Ashin. Kronologi Hidup Buddha. 2015. Ehipassiko Foundation: Jakarta

- https://legacy.suttacentral.net/id/an5.47 diakses pada 7 November 2018

Dibaca : 1388 kali