x

Ketulusan Berdana Membawa Keberkahan

Dānañca dhammacariyā ca, ñātakānañca saṅgaho,

anavajjāni kammāni, etammaṅgalamuttamaṁ.

Berdana, melakukan kebajikan, menyokong sanak saudara,

dan tidak melakukan pekerjaan tercela, itulah berkah utama.

(Maṅgala Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Menjalani kehidupan sehari-hari, kita tidak lepas dari keadaan, kondisi yang selalu berubah, terus berganti seiring waktu berjalan, tidak tetap, dan terus berproses. Ketenteraman, kegembiraan bisa tercipta ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Orang bersukacita dengan cara-cara sedemikian membuat orang lain melihat akan turut berbahagia, ada juga yang merasa biasa saja, atau bahkan iri karena tidak bisa  seperti orang lain dapatkan. Dibutuhkan kesabaran, keikhlasan dan pengertian atau pandangan benar serta usaha yang gigih saat orang belum bisa mendapat apa yang diinginkan atau diharapkan. Sikap bijaksana sangat perlu ditumbuhkan dan dikembangkan. Menyadari betapa penting menumbuhkan pengertian benar yang akan membantu sebagai salah satu cara menghadapi keadaan-keadaan kontradiktif, berseberangan dengan yang diharapkan. Pengertian yang benar akan menuntun seseorang mampu melihat keadaan sebenarnya sebagaimana adanya, hingga terus berkembang menuju kebijaksanaan mendalam. Seperti yang telah Guru Agung sampaikan dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan (ariya atthangika magga), Dhammacakkappavattana Sutta.
Adakalanya orang memberi lebih dulu baru kemudian ia mendapatkan. Pemberian yang sedikit maupun banyak tentu menurut kemampuan masing-masing individu, melakukannya di waktu yang tepat, dengan hati yang tulus, dengan niat yang baik, dan suka cita. Guru Agung Buddha telah menyampaikan dalam Aṅguttara Nikāya, Buku Kelompok Dua, Sutta XIII, tentang jenis pemberian yang bisa dilakukan seseorang, yaitu:
1.Ada dua jenis pemberian, yakni pemberian benda-benda materi dan pemberian Dhamma.
2.Ada dua jenis persembahan, yakni persembahan benda-benda materi dan persembahan Dhamma.
3.Ada dua jenis kedermawanan, yakni kedermawanan benda-benda materi dan kedermawanan Dhamma.
4.Ada dua jenis pelepasan, yakni pelepasan benda-benda materi dan pelepasan Dhamma.
5.Ada dua jenis kekayaan, yakni kekayaan benda-benda materi dan kekayaan Dhamma.
6.Ada dua jenis kenikmatan, yakni kenikmatan benda-benda materi dan kenikmatan Dhamma.
7.Ada dua jenis keberbagian, yakni berbagi benda-benda materi dan berbagi Dhamma.
8.Ada dua cara untuk memelihara hubungan  yang menyenangkan, yakni memelihara hubungan yang menyenangkan melalui benda-benda materi dan memelihara hubungan yang menyenangkan melalui Dhamma.
9.Ada dua jenis bantuan, yakni bantuan melalui benda-benda materi dan bantuan melalui Dhamma.
10.Ada dua jenis belas kasihan, yakni belas kasihan yang ditunjukkan dengan benda-benda materi dan belas kasihan yang ditunjukkan dengan Dhamma.
Betapa pun, misalnya, seseorang dapat memberi sekian banyak benda-benda materi, dengan tulus, rela, ini akan menjadi pahala, akan menjadi jasa kebajikan (puñña) bagi pelakunya, yang buah dari kebajikan ini akan dirasakan dalam waktu yang lama, tidak hanya dalam kehidupan sekarang, namun juga di kehidupan-kehidupan selanjutnya setelah ia meninggal nanti, dan pemberian Dhamma tidak cepat habis.  Namun, dari masing-masing dua jenis atau dua cara tersebut, maka pemberian dengan Dhamma adalah paling unggul. Karena, orang yang memberi dengan Dhamma, seperti orang memberikan obor penerang kepada orang lain yang sedang menempuh perjalanan malam hari yang gelap. Orang yang tengah dilanda kegelapan ini, setelah menerima obor penerang akan merasa senang dan berterima kasih karena jalan gelap yang ia telusuri menjadi terang dan perjalanannya pun terasa menyenangkan, terasa lebih aman, selamat sampai tujuan, dapat terhindar dari kejadian buruk yang tidak diinginkan, seperti: kaki masuk lubang, kaki kesandung, kepala menabrak batang pohon, digigit ular, dan kejadian-kejadian buruk lainnya. Begitu besar jasa kebajikan orang pemberi obor penerang tersebut. Orang dapat memberi rasa aman kepada orang lain. Dalam Aṅguttara Nikāya disebut abhaya dāna yang berarti memberi rasa aman atau dapat memaafkan kesalahan orang lain. Memberi maaf kepada orang yang telah melakukan kesalahan kepada kita juga sangat baik untuk dilakukan dengan tujuan untuk mengikis, mengurangi kotoran batin berupa kebencian. Memberi maaf bisa kepada siapa saja, kepada orang yang telah berbuat jahat kepada kita baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, didasari niat baik dan kejujuran hati.
Kata tulus, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci); jujur; tidak pura-pura; tidak serong; tulus hati; tulus ikhlas. Ketulusan adalah kesungguhan dan kebersihan (hati); kejujuran. Seseorang yang melakukan pemberian dengan hati yang bersih, jujur, dengan niat yang baik, menurut Dhamma adalah ia telah mengembangkan salah satu kekayaannya, yaitu cāga, sifat kedermawanan, bermurah hati di dalam memberikan bantuan kepada mereka yang memerlukannya (Majjhima Nikāya III.240).  Orang demikian menjadi kaya batin, bukan miskin batin, dan mulia karena ia mampu menyingkirkan keakuannya, sifat egosentris dapat terus terkikis.  Sifat egosentris ini lambat-laun dapat ‘membunuh’ si pelaku itu sendiri, bila tidak hati-hati mengendalikan diri dalam berpikir, berucap, dan berbuat dengan jasmani, ia  seperti sedang menggiring dirinya ke penderitaan lahir dan batin yang lebih dalam dan lebih lama. Memiliki kerendahan hati yang dikembangkan akan memberikan dasar kekuatan dalam ketulusan sehingga mampu memberikan sebagian miliknya untuk kepentingan atau kebahagiaan orang atau makhluk lain. Sang pemberi pun bahagia karena mampu meringankan beban orang lain, dan merasakan hidupnya lebih berarti.
Ketulusan hati memang me-nakjubkan. Orang yang sebelumnya memiliki sifat kikir begitu kuat dan dalam, akan tersentuh hatinya. Kerasnya kekikiran dapat seketika luluh berubah menjadi kesadaran, betapa kita adalah manusia yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Ketulusan menjadi salah satu pengondisi terciptanya kebahagiaan dan ketenteraman hidup. Ketulusan tidak bisa dianggap remeh. Dengan ketulusan hati saat memberi inilah akan terlihat pancaran kebahagiaan yang bisa kita lihat atau rasakan dari sikap atau pancaran sinar wajah seseorang. Guru Agung Buddha menjelaskan dalam Khuddakanikāya, Khuddakapātha; dengan nama ‘Mettasutta atau Karanīyametta Sutta: Karanīyamatthakusalena, yantaṁ santaṁ padaṁ abhisamecca, sakko ujū ca suhujū ca, suvaco cassa mudu anatimānī, yang artinya: Inilah yang patut dikerjakan oleh ia yang tangkas dalam hal yang berguna, yang mengantar ke jalan kedamaian: sebagai orang yang cakap, jujur (perbuatan lurus melalui ucapan ataupun jasmani), tulus (perbuatan lurus melalui pikiran/tidak munafik), mudah dinasihati, lemah-lembut, tidak sombong. 
Terkadang  orang saat melakukan pemberian lalai tidak disertakan dalam hatinya sebuah niat yang tulus, kemurnian hati, tidak menonjolkan keegoannya dan pengertian benar, ia memberi hanya asal memberi saja, atau bahkan dengan setengah hati, kurang ikhlas, sehingga buah atau hasil dari memberi menjadi berbuah hampa, seperti tidak mendatangkan hasil apa-apa, bahkan lebih ironisnya lagi hanya kecewa dan penyesalan hingga sakit hati yang ia dapatkan. Memberi dengan cara yang tidak tepat maka dapat mendatangkan penderitaan, baik bagi si pemberi atau pun penerima. Buah yang sangat diidam-idamkan itu hanya sebatas angan, tak kunjung menjadi nyata. Seperti orang menabur benih semangka di lantai keramik yang keras, kering dan gersang, sampai dunianya hancur pun biji tersebut tak kan bisa tumbuh, apalagi sampai berbuah semangka yang manis dan berkualitas baik. Ini karena faktor-faktor kondisi pendukungnya tidak lengkap, kurang mendukung. Berlatih memberi  kepada orang yang tengah membutuhkan bantuan, pertolongan, saat orang tersebut tertimpa musibah atau bencana, hendaknya senantiasa didasari niat baik dan kejujuran hati. Latihan demi latihan sangat perlu dilakukan supaya batin menjadi bisa dan terampil melepas kepemilikan, mengurangi kemelekatan pada benda-benda materi yang dimiliki. Pengertian benar juga menjadi salah satu dasar ketika orang akan melakukan perbuatan baik memberi (dāna). Pemberi tidak mengingat-ingat lagi kapan, barang apa dan kepada siapa ia telah memberi. Ini menjadi salah satu ciri seseorang memberi dengan tulus. Mengurangi kemelekatan memang tidak mudah. Ia butuh latihan sungguh-sungguh yang sepatutnya terus dilakukan secara berkelanjutan agar penderitaan makin berkurang seiring kemelekatan yang terus dikikis. Pemberian dilakukan dengan penuh kerelaan tanpa ragu, dan juga ada beberapa motif-motif yang baik tercatat dalam Aṅguttara Nikāya yang hendaknya mendasari di setiap kali orang melakukan pemberian, yaitu:
1.Orang memberi didorong oleh motif keikhlasan.
2.Orang memberi didorong oleh motif cinta kasih dan belas kasihan (mettā, karunā).
3.Orang memberi didorong oleh motif tanpa keakuan, tanpa ego.
Orang memberi dengan motif keikhlasan adalah ia memberi dengan melepas. Setelah memberi ia tidak mengingat-ingat lagi kapan, berapa banyak materi dan kepada siapa pemberian ia tujukan. Kebahagiaan memberi sesungguhnya adalah ketika seseorang dapat memberi dengan tulus, ikhlas penuh kerelaan, penuh keyakinan dan pengertian benar. Memberi dengan motif cinta kasih, belas kasih ini dapat mengubah pelan-pelan sifat buruk seseorang menjadi lebih baik, hasil yang baik dapat dirasakan oleh pemberi maupun penerima. Hati menjadi teduh, tenteram, bahagia dan menginspirasi seseorang. Kehidupan yang damai dan harmoni dapat terwujud baik di keluarga, masyarakat hingga antar negara. Memberi didorong motif tanpa keakuan tidak mudah. Pemberi berlatih untuk tidak menampilkan pikiran “Aku sudah banyak memberi”, “Aku sudah menolong”, “Pemberianku tidak dihargai”, dan lain sebagainya. Ini dibutuhkan kerendahan hati yang sering dilatih. Sering merenungkan perbuatan-nya sendiri baik atau pun buruk akan tumbuh kesadaran betapa seseorang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Maka sifat kedermawanan dapat mengakar kuat dalam batin seseorang bila terus dilatih dan dikembangkan.

Referensi :
Ñanamoli dan Bodhi. 2013. Khotbah-khotbah Numerikal Sang Buddha. Anguttara Nikāya. Jakarta Barat: Dhammacitta Press.
H.R.H. The Late Patriach Vajirananavarorasa. 2013. Dhamma Vibhāga: Penggolongan Dhamma.
Paritta Suci. 2005. Saṅgha Theravāda Indonesia
Vijāno, Win. 2013. Kitab Suci Dhammapada. Singkawang Selatan: Bahussuta Society.
KBBI V: Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima. Kamus Elektronik 2016




Oleh: Bhikkhu Upasanto
Minggu, 25 November 2018

Dibaca : 522 kali