x

KESIAPAN DIRI MENYAMBUT TAHUN BARU

Natthi rāgasamo aggi – Natthi dosasamo gaho.
Natthi mohasamaṁ jālaṁ – Natthi taṇhāsamā nadī’ti
Tidak ada api yang menyamai nafsu ragawi. Tidak ada cengkraman yang menyamai kebencian. Tidak ada jaring yang menyamai kebodohan. Tidak ada arus yang menyamai nafsu keinginan (tanha). (Dhammapada 251) 

    DOWNLOAD AUDIO

   Sebentar lagi kita akan sampai pada pergantian tahun, tahun 2018 akan berakhir dan kita memasuki tahun baru 2019.
     Setiap orang tentu sudah melakukan sesuatu untuk persiapan menyambut tahun baru dengan berbagai cara yang baik. Tidak ada satu orangpun yang ingin menderita saat menyambut tahun baru. Semua orang berpikir bagaimana supaya bisa bahagia saat menyambut tahun baru, tanpa derita apapun itu. Benarkah demikian? Mari kita ikuti penjabaran lebih lanjut di bawah ini.

Siapkah Melepas Tahun 2018?
     Pertanyaan ini tentu sangat tidak menarik untuk dibaca ataupun didengar. Ini hanya sebagai gambaran bahwa setiap kali pergantian tahun, belum pernah ada orang yang melekat dengan tahun yang telah berlalu. Bisa dikatakan bahwa semua orang bisa melepas tahun itu berlalu begitu saja dan setiap orang justru sibuk dengan kebahagiaan yang dirasakan karena menyambut tahun baru dengan sangat meriah. Gambaran ini seharusnya kita semua bisa memahami bahwa apapun yang telah berlalu tidak bisa kita kekang dan pegang terus untuk kita bawa. Hal ini jelas tidak bisa terjadi. Yang lalu telah berlalu, biarlah berlalu.

A.Hidup Duniawi Melekat dengan materi.
     Meminjam gambaran penjelasan melekat dengan tahun telah berlalu sebab itu juga memang waktu yang berlalu, maka melekat dengan materi apapun bentuknya juga adalah sama. Artinya, bahwa jika kita masih melekat dengan materi apa pun, motor, misalnya, ternyata ada masalah, hilang atau rusak, tentu itu terjadi hal yang sama dengan waktu (tahun) berlalu, tidak bisa dikekang dan dipegang agar jangan terjadi perubahan waktu, dan sebagainya. Melekat terhadap apapun itu, akan menimbulkan derita, akan membuat hidup kita menjadi penuh dengan derita. Melekat dengan apa saja, menyambut tahun baru tentu tidak akan bisa bahagia (tanpa derita), tapi justru penuh derita.
      Siapa pun, perumahtangga ataupun samana tetap sama akan penuh hidupnya dengan derita dalam menyambut tahun baru sekalipun atau bahkan kapan saja tetap disertai derita, hidupnya sulit bahagia, jika masih ada kemelekatan. Melekat dengan materi atau apapun, akan menjadi sumber derita bagi hidupnya sendiri. Mau bahagiakah kita? Jika mau, silakan renungkan penjabaran ini untuk dipahami dan hindari segala bentuk cara yang menimbulkan derita. Jika kita bisa melakukan itu, tentu hidupnya akan damai dan bahagia.
     Berbagai macam masalah, keributan, kekacauan, perkelahian, dan sebagainya. terjadi dalam kehidupan sehari-hari karena faktor kemelekatan itu. Dalam Anguttara Nikaya II,iv,6, ada pertanyaan dari Brahmana Aramadanda kepada Bhante Mahakaccana: “Apakah penyebab dan alasannya, Guru Kaccana, sehingga bangsawan berselisih dengan bangsawan, Brahmana dengan Brahmana, dan perumahtangga dengan perumah-tangga?”
   Bhante Mahakaccana menjawab: “Brahmana, karena nafsu terhadap kesenangan indera, karena kemelakatan, ikatan, keserakahan, obsesi dan berpegang teguh pada kesenangan-kesenangan inderawilah maka bangsawan berselisih dengan bangsawan, Brahmana dengan Brahmana, perumahtangga dengan perumahtangga.”
      Bagaimana kita bisa menghindari hal-hal yang menimbulkan permasalahan hidup sehari-hari, kita perlu melakukan perenungan yang mendalam agar sikap hidup kita berhati-hati dan waspada dalam berinteraksi dengan berbagai pihak di tengah masyarakat luas. Satu hal yang perlu kita waspadai adalah persoalan diri kita yang mungkin masih merasa memiliki barang tertentu dan ada kaitan dengan pihak lain yang berkepentingan dengan barang tersebut. Jika kita bisa mengalah tentu akan dapat menyelesaikan persoalan dengan cepat. Akan tetapi jika kita suka ngotot dan merasa lebih benar, lebih berhak, dan sebagainya. maka hidup menjadi sulit dan penuh derita dan persoalan yang ada tidak bisa terselesaikan.
     Dalam kehidupan pada umumnya masalah duniawi jelas dapat diketahui berbagai masalah terjadi karena faktor manusia yang terkait dengan berbagai kepentingan materi, jabatan, kedudukan, dan sebagainya.  Namun, tidak berarti masalah hanya ada di sekitar kehidupan duniawi. Masalah juga terjadi dalam lingkiup kehidupan petapa (samana). Apakah yang bisa terjadi di antara para samana dalam menjalani kehidupan kesamanaan? Mari kita ikuti lebih lanjut penjelasan tentang hal itu.

B. Hidup Non-duniawi Melekat dengan Pandangan
     Semestinya, hidup menjadi petapa (samana) itu sangat damai dan bahagia, karena tidak lagi mengurus hal-hal duniawi. Benarkah demikian? Kenapa masih ada yang bermasalah antar mereka sesama petapa (samana)? Hal ini memang agak lain, karena hidup sebagai petapa (samana) tentu urusannya dengan batin masing-masing. Begitu kita menyebut batin, jika kita kaitkan dengan keserakahan atau kemelekatan, maka ada samana juga yang bisa melekat. Jika melekat terhadap materi tentu akan sama seperti perumahtangga mengalami derita batin juga. Namun dalam hal ini, seseorang yang menempuh hidup sebagai samana kecenderungan yang bisa terjadi melekat dengan konsep, ajaran, cara berpikir, atau pandangan. Jika hal itu terjadi, tentu perselisihan dengan pihak lain tidak bisa dihindari juga, apalagi pihak lain itu punya pandangan yang kuat dan berbeda pandangan dengan yang bersangkutan, tak terhindar bisa terjadi perselisihan saat itu juga di mana pun juga.
     Dalam Anguttara Nikaya II, iv, 16, juga ada dikatakan tentang perselisihan. Dalam hal ini, ada pertanyaan dari Brahmana Aramadanda juga kepada Bhante Mahakaccana, demikian: “Tetapi, Guru Kaccana, apakah penyebab dan alasannya sehingga petapa berselisih dengan petapa?”
     Bhante Mahakaccana: “Brahmana, karena nafsu terhadap pandangan, karena kemelekatan, ikatan, keserakahan, obsesi dan berpegang teguh pada pandangan-pandanganlah maka petapa berselisih dengan petapa.”
      Jika seseorang yang menjadi petapa (samana) itu sangat kuat melekat dengan pandangan atau pendapat pribadinya, dengan berpikir bahwa menurut pandangannya itu hanya itu yang benar, yang lain salah,  maka sulit terhindar dari perselisihan dangan pihak lain.
   Mari kita renungkan sampai kita mengerti dengan baik, agar kita bisa terhindar dari perselisihan dengan pihak lain di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari demi kepentingan memajukan Buddhasasana.

C. Hidup Saling Membenci.
     Hidup yang diharapkan tentu penuh dengan kedamaian, tanpa membenci satu sama lain dengan siapa pun juga. Mengapa masih ada orang yang membenci sesama? Ada juga sutta yang menjabarkan tentang hal ini. Dalam Sakkapañha Sutta ada disebutkan bahwa Sakka, penguasa para dewa, bertanya kepada Sang Bhagava: “Makhluk  hidup ingin hidup tanpa kebencian, tanpa melukai, tanpa permusuhan, atau tanpa kedengkian; mereka ingin hidup damai. Namun mereka hidup dalam kebencian, saling melukai, dengki, dan hidup sebagai musuh. Terikat oleh belenggu apakah, Bhante, sehingga mereka hidup seperti ini?” 
     Sang Bhagava berkata: “Penguasa para dewa, ikatan iri hati dan kekikiranlah yang mengikat makhluk hidup sehingga, walaupun mereka ingin hidup tanpa kebencian, tanpa melukai, tanpa permusuhan, atau tanpa kedengkian, mereka hidup dalam kebencian, saling melukai, dengki, dan hidup sebagai musuh.”
     Mengapa demikian? Jika kita ingat kembali seperti di atas tadi disebutkan bahwa unsur batin yang ada kemelekatan, kebencian juga dalam Dhammapada 251 dikatakan bahwa nafsu ragawi, nafsu keinginan, kebencian dan kebodohan batin itu adalah akar dari semua persoalan hidup sehari-hari.
Jika kita merenungkan dengan sebaik-baiknya, maka hidup kita bisa kita kelola dengan baik tanpa derita, meskipun masih ada masalah yang menyertai hidup ini.
     Semoga kita dapat mengelola hidup kita masing-masing untuk bisa bersama-sama merasakan hidup yang damai.

Selamat menyambut tahun baru 2019.

Sekian dan terima kasih

Sumber: 
-Tipitaka Tematik, Bhikkhu Bodhi

Dibaca : 952 kali