x

3 Jenis Orang Ketika Mendengarkan Dhamma

Dhāreti seṭṭhasaṅkappo, abyaggamānaso naro;
Dhammānudhammappaṭipanno, dukkhassantakaro siyā”ti.
Orang dengan kehendak terbaik, pikirannya tidak terbagi, 
mengingat [apa yang telah ia pelajari], mempraktikkan sesuai Dhamma,
ia dapat mengakhiri penderitaan.
(Avakujjasutta, AN, 3.30)

    DOWNLOAD AUDIO

      Sang Buddha menyampaikan khotbah kepada para bhikkhu berkenaan dengan tiga jenis orang ketika mendengarkan Dhamma; “Para bhikkhu, ada tiga jenis orang ini terdapat di dunia ini. Apakah tiga ini? Orang dengan kebijaksanaan terbalik, orang dengan kebijaksanaan bagaikan pangkuan, dan orang dengan kebijaksanaan luas.
1.Orang dengan kebijaksanaan terbalik? 
     Di sini, seseorang sering pergi ke vihara untuk mendengarkan Dhamma dari para bhikkhu. Para bhikkhu mengajarkan kepadanya Dhamma yang baik di awal, baik di pertengahan, dan baik di akhir, dengan makna dan kata-kata yang benar; mereka mengungkapkan kehidupan suci yang murni dan lengkap sempurna. Ketika ia sedang duduk di tempat duduknya, ia tidak menyimak khotbah itu di awal, di pertengahan, dan di akhirnya. Setelah ia bangkit dari duduknya, ia masih tidak menyimak khotbah itu di awal, di pertengahan, dan di akhirnya. Seperti halnya, ketika sebuah kendi yang dibalikkan, maka air yang telah dituangkan ke dalamnya akan tumpah dan tidak tinggal di sana.
2.Orang dengan kebijaksanaan bagaikan pangkuan? 
     Di sini, seseorang sering pergi ke vihara untuk mendengarkan Dhamma dari para bhikkhu. Para bhikkhu mengajarkan kepadanya Dhamma yang baik di awal, baik di pertengahan, dan baik di akhir, dengan makna dan kata-kata yang benar; mereka mengungkapkan kehidupan suci yang murni dan lengkap sempurna. Ketika ia sedang duduk di tempat duduknya, ia menyimak khotbah itu di awal, di pertengahan, dan di akhirnya. Tetapi setelah ia bangkit dari duduknya, ia tidak menyimak khotbah itu di awal, di pertengahan, dan di akhirnya. Seperti halnya, ketika seseorang meletakkan berbagai bahan makanan yang ditebarkan di atas pangkuannya biji wijen, beras, kue, jika ia tidak penuh perhatian ketika bangkit dari duduknya, maka ia akan membuatnya jatuh berserakan.
3.Orang dengan kebijaksanaan luas?
     Di sini, seseorang sering pergi ke vihara untuk mendengarkan Dhamma dari para bhikkhu. Para bhikkhu mengajarkan kepadanya Dhamma yang baik di awal, baik di pertengahan, dan baik di akhir, dengan makna dan kata-kata yang benar; mereka mengungkapkan kehidupan suci yang murni dan lengkap sempurna. Ketika ia sedang duduk di tempat duduknya, ia menyimak khotbah itu di awal, di pertengahan, dan di akhirnya. Setelah ia bangkit dari duduknya, sekali lagi ia menyimak khotbah itu di awal, di pertengahan, dan di akhirnya. Seperti halnya, ketika sebuah kendi diletakkan dalam posisi tegak, maka air yang dituangkan ke dalamnya akan tetap berada di sana dan tidak tumpah.
Manfaat mendengarkan Dhamma ditinjau dari Dhammasavanasutta, AN. 5.202
“Para bhikkhu, ada lima manfaat ini dalam mendengarkan Dhamma. Apakah lima ini? Seseorang mendengar apa yang belum pernah ia dengar; ia mengklarifikasi apa yang telah ia dengar; ia keluar dari kebingungan; ia meluruskan pandangannya; pikirannya menjadi tenteram. Ini adalah kelima manfaat dalam mendengarkan Dhamma.”
     Ketika seseorang mengetahui manfaat mendengarkan Dhamma maka hendaknya seseorang menjadi orang jenis ketiga yakni seperti kendi yang diletakkan dalam posisi tegak, maka air yang dituangkan ke dalamnya akan tetap berada di sana dan tidak tumpah. Setelah mendengarkan apa yang ia dengar bisa mempraktikkan Dhamma tersebut demi memperoleh kebahagiaan saat ini maupun di kehidupan selanjutnya.


Oleh: Bhikkhu Karunasilo
Minggu, 06 Januari 2019
 
Kisah Dua Orang Pencopet
  
Suatu ketika dua orang pencopet bersama-sama dengan sekelompok umat awam pergi ke Vihara Jetavana. Di sana Sang Buddha sedang memberikan khotbah. Satu di antara mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencapai tingkat kesucian sotapatti.

        Tetapi pencopet satunya lagi tidak memperhatikan khotbah yang disampaikan karena ia hanya berpikir untuk mencuri sesuatu. Ia mengatur cara untuk mengambil sejumlah uang dari salah seorang umat.

        Setelah khotbah berakhir mereka pulang dan memasak makan siangnya di rumah pencopet kedua, pencopet yang sudah mengatur cara untuk mengambil sejumlah uang tersebut.

        Istri dari pencopet kedua mencela pencopet pertama: "Kamu sangat tidak bijaksana, mengapa kamu tidak mempunyai sesuatu untuk dimasak di rumahmu?"

        Mendengar pernyataan tersebut, pencopet pertama berpikir, "Orang  ini sangat bodoh, dia berpikir bahwa dia menjadi sangat bijaksana".

        Kemudian bersama-sama dengan keluarganya, ia menghadap Sang Buddha dan menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya.

        Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 63 berikut:

Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya, maka ia dapat dikatakan bijaksana; tetapi orang bodoh yang menganggap dirinya bijaksana, sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh.

        Semua keluarga pencopet pertama tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.***

Sumber: Dhammapada Atthakatha (Dhammapada V, 4)

Dibaca : 614 kali